Sehat

Berani Menegur Orang Merokok di KTR

Kerta Duana dan dr. Wira

Merokok merupakan perilaku sadar memasukan racun ke dalam tubuh. Lebih dari 4000 bahan kimia,  250 diantaranya beracun dan karsinogenik terdapat dalam rokok. Demikian diungkapkan  Koordinator Bali Tobacco Control Initiative, I Made Kerta Duana, MPH, saat refleksi akhir tahun Pengawasan Perda KTR.

Ia menyebutkan, komposisi sebatang rokok mengandung beberapa bahan kimia, seperti  acetone (penghapus cat), hydrogen cyanide (racun untuk hukuman mati), ammonia (pembersih lantai), methanol (bahan bakar roket), toluene (pelarut industri), arsenic (racun semut putih), napthalene (kapur barus), butane (bahan bakar korek api), cadmium (dipakai accu mobil), carbon monoxide (gas knalpot), vinyl chlorise (bahan plastik PVC).

Duana menegaskan, sangat penting mencegah paparan rokok dan perilaku merokok di masyarakat.  Hal ini berkaitan dengan, mencegah risiko kejadian penyakit terkait rokok dan mencegah merokok dini. “Penurunan prevalensi merokok pada remaja akan diikuti penurunan prevalensi merokok secara keseluruhan. Mencegah perilaku merokok pada remaja merupakan investasi tak ternilai, menghasilkan SDM berkualitas dengan kemampuan kognitif (IQ) yang lebih tinggi, lebih sehat secara jasmani dan rohani, produktivitas yang lebih tinggi,” ujar dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Unud ini.

Ada empat strategi pengendalian dampak rokok, yakni peningkatan cukai, peringatan kesehatan berbentuk gambar, implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan larangan iklan dan sponsorship secara menyeluruh.

Konsep dan dasar pertimbangan, amanat UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 Pasal  115 ayat 2, melindungi perokok pasif, mendidik masyarakat tentang bahaya rokok, dan melindungi hak asasi manusia untuk menghirup udara bersih dan sehat tanpa asap rokok. Dalam hal ini, yang dilakukan, mengatur tempat atau kawasan tanpa rokok bukan melarang orang merokok. Selain itu, pertimbangannya, mengurangi dampak merokok di dalam ruangan tertutup,  dan membuat kawasan tanpa rokok bukan membuat tempat khusus merokok. Yang paling utama,   tidak melarang orang merokok tetapi mengatur dimana orang boleh merokok.

Kawasan tanpa rokok meliputi 7 kawasan, fasilitas kesehatan, tempat belajar mengajar, tempat bermain anak-anak, tempat ibadah, tempat-tempat umum (hotel, restoran, pasar, terminal, bandara, dll), sarana angkutan umum,  tempat kerja.

Indikator kepatuhan kawasan terhadap Perda KTR dilihat `dari 8 kriteria, terpasang tanda dilarang merokok, tidak ada orang merokok, tidak tersedia asbak, tidak ditemukan punting rokok, tidak tercium bau asap rokok, tidak ada tempat khusus merokok di dalam gedung, tidak ada promosi dan jual beli rokok. “Sejak dicanangkan penerapan KTR tahun 2011,  mengalami peningkatan yang signifikan  70%, namun, belum maksimal pada kawasan umum, tempat kerja,  maupun Pura. Hal itu tentu memerlukan upaya lebih serius dari pemerintah maupun penggiat antirokok di Bali,” tegasnya.

Ia menilai, pengaruh iklan rokok dapat menimbulkan keinginan untuk mulai merokok, mendorong perokok  untuk terus merokok, mendorong perokok yang telah berhenti merokok kembali merokok, dan menanamkan persepsi yang salah/kontradiktif akan bahaya rokok yang sebenarnya.

Ia mengatakan,  target  iklan rokok adalah perokok pemula, anak-anak, remaja dan perempuan. “Remaja adalah target pasar untuk menggantikan perokok senior yang sudah meninggal atau berhenti merokok. Semakin dini remaja merokok, semakin besar keuntungan bagi industri rokok. Remaja sangat loyal terhadap merek rokok yang dihisapnya,” kata Duana.

Dalam pasal 34 diyatakan, ketentuan lebih lanjut mengenai iklan produk tembakau di media luar ruang diatur oleh pemerintah daerah. Sejalan dengan program otonomi daerah, peraturan ini juga mendorong peran pemda,  untuk mengatur lebih lanjut iklan dan promosi rokok di media luar ruang dan kegiatan sponsorship. “Tentunya ketentuan yang akan ditetapkan pemda tersebut harus lebih ketat daripada Peraturan Pemerintah ini.  Di tahun 2016 ada lima  kabupaten/kota di Bali telah menerapkan kebijakan peniadaan iklan rokok luar ruang yakni Denpasar, Klungkung, Jembrana, Gianyar, dan Bangli,” ucapnya.

Untuk rokok elektrik atau vape, kata Duana, pemerintah sangat lambat dalam pengawasan. Padahal, dampak dari rokok elektrik juga sangat berbahaya. Di luar negeri, rokok elektrik pengawasannya lebih ketat dari rokok biasa.

Sementara, menurut Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Gede Wira Sunetra,  saat ini Indonesia sedang fokus pada 3 penyakit ATM yakni AIDS, tuberkolosis, dan malaria. Tiga pilar gerakan kesehatan nasional yang sedang digencarkan, yakni aktivitas fisik, diet seimbang, dan tidak merokok. “Rokok ini hubungannya kemana-mana. Rokok bisa menimbulkan penyakit dari ujung rambut sampai ujung kaki. Merokok bisa menimbulkan risiko  penyakit jantung, ginjal dll,” kata dr. Wira. Sejak tahun 2000, kematian karena penyakit tidak menular sudah menempati posisi 60%.

Ia menegaskan, hubungan dengan KTR, masyarakat harus berani menegur jika melihat ada orang yang merokok di kawasan tanpa rokok. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

To Top