Sehat

Laboratorium Pratransfusi

Transfusi darah sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu. Kegiatan tersebut banyak mengalami kegagalan dan baru menemukan titik terang setelah Karl Lansteiner memperkenalkan sistem golongan darah ABO pada abad ke-19. Sampai saat ini belum ada obat yang mampu menggantikan fungsi transfusi darah sebagai salah satu komponen terapi yang sangat penting dalam penatalaksanaan pasien. Selain menyelamatkan pasien, transfusi darah juga dapat menimbulkan berbagai efek samping sehingga semboyan “Getting the right blood to the right patient at the right time and the right place” dalam pelayanan transfusi darah harus benar-benar dilaksanakan.

Perkembangan berikutnya terkait transfusi darah adalah ditemukannya antikoagulan, zat aditif, dan kantong darah sehingga darah bisa disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama dan dikemas dengan lebih higienis. Penemuan refrigerated centrifuse membantu dalam pemisahan darah menjadi beberapa komponen sehingga transfusi dapat dilakukan secara lebih spesifik sesuai dengan jenis komponen yang dibutuhkan oleh pasien. Saat ini pemisahan tersebut bahkan sudah bisa dilakukan secara otomatis dengan mesin apheresis.

Meskipun berbagai teknologi untuk menunjang kegiatan pelayanan transfusi darah telah ditemukan, ternyata permasalahan terkait transfusi terus berlanjut sampai sekarang. Pada sejumlah kasus meskipun golongan darah pasien dan donor sudah sama namum pasien tetap tidak mengalami perbaikan bahkan terjadi sejumlah efek samping yang dikenal dengan reaksi transfusi. Untuk menjawab tantangan tersebut sangat perlu dipahami dan dilakukan sejumlah pemeriksaan laboratorium sebelum produk darah dimasukkan ke tubuh pasien. Pemeriksaan tersebut dikenal dengan istilah uji pratransfusi (pretransfusion testing).  Laboratorium pratransfusi merupakan bagian yang sangat vital dalam kegiatan transfusi. Uji pratransfusi inilah yang  menentukan apakah produk darah yang akan ditransfusikan dapat memberikan manfaat yang optimal atau tidak kepada pasien, memprediksi apakah transfusi akan memberikan efek samping yang fatal atau tidak sehingga pencegahan terjadinya reaksi transfusi dapat lebih awal dilakukan. Laboratorium pratransfusi terus mengalami perkembangan, diawali dengan metode pemeriksaan yang sangat sederhana sampai pemeriksaan otomatispun telah mampu dilakukan.

Untuk mengetahui secara tuntas mengenai berbagai pemeriksaan laboratorium sebelum produk darah ditransfusikan kepada pasien lengkap dengan segala permasalahan beserta cara mengatasinya,  dr. Ni Kadek Mulyantari, Sp. PK (K) dan Dr. dr. I Wayan  Putu Sutirta Yasa, MSi, meluncurkan satu buku yang berjudul  “Laboratorium Pratransfusi Update”.

Dalam buku ini akan dikupas, mulai dari metode tradisional sampai metode tercanggih yang ada saat ini. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa case report lengkap dengan penanganan kasusnya. “Tulisan ini saya harapkan  dapat meningkatkan pemahaman serta keterampilan petugas, membantu dalam proses belajar mengajar bagi mahasiswa,  menimbulkan persepsi yang sama baik antar petugas teknis, dokter laboratorium, para klinisi maupun pihak manajemen yang terlibat dalam pelayanan transfusi darah sehingga pada akhirnya pasien akan mendapatkan manfaat transfusi secara maksimal dengan risiko seminimal mungkin,” ujar dr. Ni Kadek Mulyantari. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

To Top