Buleleng

Jaga Kelestarian Budaya dengan Nyurat Lontar

Di Buleleng banyak terdapat bangunan-bangunan tua bekas peninggalan pemerintah Belanda yang masih kuat dan kokoh berdiri. Salah satunya adalah museum Gedong Kirtya yang letaknya persis di areal Puri Sasana Budaya Kota Singaraja.

Menurut Kepala UPTD Gedong Kirtya Putu Gede Wiriasa, peningkatan jumlah kunjungan terus digenjot melalui peningkatan fasilitas dan layanan. Sebagai pusat penyimpanan koleksi lontar di Buleleng, Gedong Kirtya ramai didatangi pelajar, mahasiswa dan peneliti. Museum ini memiliki 4 bangunan utama dengan fungsi ruangan masing-masing sebagai tempat penyimpanan buku tua dan lontar, ruang baca dan salinan lontar, ruang administrasi, dan ruangan terakhir difungsikan sebagai ruang pameran, bahan pembuat lontar, serta buku hasil terjemahan.

Salah satu ruangan yang saat ini diperhatikan adalah ruang pameran yang mulai ditata sedemikian rupa. Proses menulis di daun lontar membutuhkan waktu tidak sebentar. “Dari segi pelayanan banyak mahasiswa S1 dan S2 melakukan penelitian di Gedong Kirtya. Umumnya peneliti mencari lontar asli, lalu dilakukan alih aksara, alih bahasa dan pencetakan,” ucapnya.

Sekitar 1.757 buah lontar merupakan koleksi dari UPTD Gedong Kirtya yang usianya ratusan tahun. Usia lontar yang sudah cukup tua sehingga pihaknya benar-benar harus menjaga dan melakukan perawatan secara rutin. “Ada lontar paling tua mencapai usia 100 tahun. Kalau kendala pasti ada dalam proses merawat lontar. Tapi, lontar di sini diberi kapur barus atau obat khusus. Lontar juga dicek setiap minggu supaya tetap awet,” katanya.

Kadisbudpar Buleleng Ir. Nyoman Sutrisna, M.M., berbincang-bincang tentang koleksi lontar dan layanan pengunjung bersama Kepala UPTD. Gedong Kirtya Putu Gede Wiriasa

Kadisbudpar Buleleng Ir. Nyoman Sutrisna, M.M., berbincang-bincang tentang koleksi lontar dan layanan pengunjung bersama Kepala UPTD. Gedong Kirtya Putu Gede Wiriasa

Guna meningkatkan kesadaran dan kecintaan generasi muda terhadap keberadaan lontar di Buleleng, sejumlah langkah strategis menjaga kelestarian lontar melalui edukasi dilakukan. Langkah-langkah pelestariaan dilakukan dengan mengadakan lomba nyurat lontar. “Kadang kami mengikutsertakan siswa-siswi SD dan SMP dalam momen PKB di Denpasar. Prestasi dan kelestarian lontar dipacu melalui lomba sampai tingkat Provinsi,” imbuhnya. Wiriasa mengungkapkan, kunjungan tamu mancanegara antusias melihat-lihat koleksi lontar terutama ramai di Juli-Agustus. “Tidak hanya tamu mancanegara tetapi juga kunjungan mahasiswa dari Jawa,” ungkapnya.

Sementara itu, Kadisbudpar Buleleng Ir. Nyoman Sutrisna, MM., menambahkan, koleksi lontar harus dipertahankan melalui perawatan intensif. Kondisi lingkungan diperhatian termasuk suhu ruangan supaya tidak lembab. “Dalam anggaran kami yang tertuang untuk Gedong Kirtya setiap tahun selalu diadakan kompetisi nyastra Bali. Ini dilakukan UPTD. Gedong Kirtya, yang nantinya menjaring duta untuk tampil di PKB di Art Centre Denpasar,” tambahnya.

Dia berharap, setiap kelopak lontar tersimpan ke depan dapat dilakukan proses scanner komputer. Tujuannya mempermudah pengunjung mencari bahan melalui teknik komputerisasi. “Jadi scanner sebagai teknik IT akan berguna dalam proses pencarian data lontar di komputer. Tidak lagi mencari-cari lontar sendiri di kelopak. Namun, jika memang memerlukan lontar asli baru akan diambilkan,” harapnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top