Buleleng

Durian Bestala Dilindungi Awig-awig

Selain dikenal dengan makanan khas, Buleleng juga dikenal dengan berbagai komoditi unggulan. Salah satunya, durian Bestala yang merupakan buah lokal paling dicari ketika berkunjung ke Buleleng. Nama Bestala merupakan nama desa yang terletak di kecamatan Seririt. Saat memasuki gerbang desa, akan terlihat pohon durian berjajar menghiasi kiri kanan jalan.

Menurut Sekretaris Desa Bestala I Ketut Sudawan, buah lokal yang rasanya manis dan legit tersebut memang sangat diminati masyarakat. Meskipun saat ini masyarakatnya mulai mengembangkan durian Kane yang memiliki ukuran lebih besar, akan tetapi durian Besatala tetapi menjadi buah lokal unggulan. “Banyak dikembangkan durian unggul, akan tetapi mayoritas di sini masih durian Bestala,” jelasnya.

Durian Bestala masih menjadi incaran konsumen karena memiliki beberapa keistimewaan. Untuk dapat memanen buah dengan duri dibagian kulitnya ini si empunya harus menunggu buahnya runtuh. “Tidak ada buah durian yang dipetik, semua menunggu buahnya jatuh sendiri,” lengkapnya. Hal ini selain untuk mendapatkan buah yang matang sempurna, juga dikarenakan pohon durian yang memiliki ketinggian 20 m hingga 50 m sehingga menyulitkan untuk memanen. Meskipun panen dilakukan menunggu durian runtuh,

I Ketut Sudawan

I Ketut Sudawan

akan tetapi pemilik tidak perlu khawatir sebab banyaknya jumlah durian jatuh tidak akan hilang. “Kami sudah terapkan awig-awig  bahwa durian runtuh tidak dapat diambil oleh orang lain, jika dilakukan maka akan masuk dalam tindak pencurian,” jelasnya. Sudawan menambahkan, usia pohon-pohon durian di desanya mencapai ratusan tahun. Keunikan lain adalah setiap pohon diberi nama sesuai dengan bentuk buah dan tempat tumbuhnya. “Pemberian nama bisa dengan nama buah lain, benda maupun nama orang, sesuai keinginan dari yang punya,” ungkapnya. Selain memudahkan untuk mengetahui pemiliknya, pemberian nama juga dimaksudkan untuk menghindari buah jatuh menimpa sang pemilik. “Ya ada unsur kepercayaan, kalau dikasi nama tidak akan menimpa orang kalau jatuh,” lanjutnya.

Pria kelahiran 9 Juni 1970 tersebut menambahkan bahwa masyarakat desa Besatala belum mengembangkan pola budidaya modern. Masyarakat menanam durian tumpangsari dengan tanaman lain seperti cengkeh, manggis, dan kakao. “Kami hanya mengembangkan tanaman yang sudah ada, kalau pembudidayaan tanaman ulang tidak ada. Kami juga dapat pelatihan dan diminta mematenkan durian Bestala sebagai varietas unggulan di Buleleng namun sudah dipatenkan di desa Sudaji,” jelasnya.

Sudawan menuturkan, puncak panen durian Bestala terjadi pada awal Maret sehingga panen raya tidak menutup kemungkinan membuat harga anjlok. Umumnya, durian Bestala dijual kisaran harga Rp 20 ribu hingga 50 ribu. Untuk menghindari hal tersebut, melalui pelatihan pihak desa bersama masyarakat melakukan inovasi dengan membuat kripik durian. “Rasanya gurih dan enak, sudah dipantau langsung juga oleh Bapak Bupati,” lengkapnya.

Namun sayang, cuaca buruk yang menerpa desa Bestala beberapa waktu lalu membuat penggemar durian harus gigit jari. Ratusan pohon durian tumbang diterjang angin puting beliung. “Biasa kalau panen kami bisa kirim hingga ke luar Bali, tapi kali ini panen menurun akibat cuaca ekstrim,” ungkapnya. Bahkan produksi kripik durian pun tidak dilakukan karena dapat dipastikan menurunnya panen hingga menaikkan harga durian. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top