Dara

Kalimasada: Bangkitkan Reggae di Bali Utara

Kalimasada

Musik  merupakan salah satu seni yang menyelaraskan antara irama dan bahasa sehingga menimbulkan kesan yang berbeda pada rasa tiap jiwa. Banyaknya aliran musik memunculkan penggemar dari berbagai aliran musik itu sendiri. Salah satunya adalah jenis reggae yang mendapat tempat sendiri bagi para personil Kalimasada Band.

Band asal Singaraja yang telah terbentuk sejak tahun 2004 silam itu mengambil genre reggae dalam aliran musiknya. Bagi para personil, musik reggae merupakan musik perdamaian yang dapat diterima dari berbagai elemen masyarakat baik anak-anak, dewasa terlebih yang sudah tua. Sempat eksis mengisi berbagai event di Buleleng, Kalimasada vakum dalam kurun waktu yang cukup lama.

Hingga masuknya Wayan Sam awal September 2016, membangkitkan kembali grup ini dengan tujuan membangkitkan musik reggae di Bali Utara. Meskipun mengalami perubahan formasi, band yang digawangi oleh Wayan Sam (vokal), Aris (vokal), Spink (drum), Dwie ( Bass), Widi (Keyboard), dan Radit (gitar) tetap konsisten dengan genre reggae dan mulai aktif mengisi berbagai acara baik di kota maupun luar kota.

Nama Kalimasada sendiri merupakan nama yang begitu saja tercetus oleh salah satu personilnya. Ketika coba dimaknai, Kalimasada adalah sebuah pusaka dalam dunia pewayangan yang dimiliki oleh Prabu Puntadewa (Yudistira) pemimpin Pandawa. “Kami kemudia mengaplikasikan nama ini dalam grup dengan tagline 3K, yaitu Karakter, Karya dan Keseriusan,” ungkap Wayan Sam.

Aris menambahkan bahwa reggae memiliki karakteristik yang unik dari musik lainnya. Menurutnya, dengan reggae para personil dapat menyampaikan secara tidak langsung pesan-pesan perdamaian melalui lirik-liriknya yang bertemakan sosial, budaya, agama, dan keseharian. “Pecinta musik reggae adalah orang-orang cinta damai,” imbuhnya.

Senada dengan Aris, Spink juga mengungkapkan kecintaanya terhadap reggae. Baginya, maraknya aksi-aksi demo belakangan yang dipicu oleh kebhinekaan dikarenakan orang-orang yang tidak bisa mencintai perbedaan. “Melalui musik reggae ini kami juga ingin menyampaikan bahwa keragaman itu ada dan harus disyukuri,” tandasnya.

Selain membawakan lagu-lagu dari dari grup reggae kenamaan, Kalimasada juga sudah memilikii sejumlah lagu sendiri yang kerap kali dibawakan saat manggung. Beberapa lagu di antaranya, Reggae Yoyo, Yolo-Yolo, Love Feel, dan Pemuteran. Beberapa lagu memang dibuat menggunakan bahasa Inggris yang notabene merupakan bahasa internasional. “Kami kan dari daerah wisata dan sering manggung juga di café dan resto di Lovina, jadi menyesuaikan juga,” pungkas sang vokalis yang menyebut penggemarnya Singarasta tersebut. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top