Woman on Top

Investasi Hati Eka Wiryastuti

 

Eka Wiryastuti, menjadi sosok fenomenal,  ketika ia berhasil memenangkan Pilkada Kabupaten Tabanan tahun 2010. Terpilihnya perempuan kelahiran 21 Desember 1975 ini sebagai orang nomor satu di Tabanan sekaligus memecahkan rekor Bupati perempuan pertama di Bali.

Setelah dilantik 9 Agustus  2010, Eka bertekad melunasi janji-janji politiknya untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat. Sebagai umat Hindu yang taat, ia menyakini, janji  adalah suatu ikatan suci. Lingkupnya bukan hanya antara manusia dan manusia, tetapi pertanggungjawaban kepada Tuhan. Sadar  akan ikatan suci, Eka totalitas mengabdikan dirinya, tenaganya, pikirannya, dan kemampuannya demi kesejahteraan rakyat. Inilah sisi filosofis dan religiusitas kepemimpinan yang patut diteladani.

Pada prosesnya, matrilisasi spritualisme dalam diri Eka diwujudkan ke dalam empat prinsip kehidupan yang dilakukan dengan, berjuang dalam doa, tirakat, puasa, dan menabung karma. Saat Eka terpilih menjadi Bupati Tabanan, banyak kalangan yang nyinyir dan meragukan kepmemimpinannya. Muncul banyak gunjingan terutama dari lawan politiknya yang menggunakan sentimen politik dinasti sampai minimnya pengalaman politik untuk menghambat langkahnya. Bagi Eka, semua kontroversi yang mengarah kepada dirinya itu dianggap sebagai kritik yang mesti dijawab dengan perbuatan. “Biarlah waktu yang membuktikan,” kata Eka. Rekam  jejak perjuangan Eka Wiryastuti dalam memimpin Tabanan, diaktulisasikan dalam satu buku “Investasi Hati”, yang diluncurkan bertepatan dengan hari ulangtahunnya, di Art Centre Denpasar, (21/12).

Buku yang ditulis Prasetyo dan Aprilia Hariani ini, menceritakan sosok Eka sebagai pribadi yang tumbuh secara alami menjadi pemimpin. Dalam usia yang masih muda, 35 tahun, ia mampu membuktikan eksistensi perempuan dalam kancah politik lokal. Buku ini juga dapat dimaknai sebagai salah satu bentuk akuntabilitas kepemimpinan Eka dalam periode pertama kepemimpinannya, yakni,  rekam jejak, kinerja, inovasi, dan prestasi yang berhasil ditorehkan Kabupaten Tabanan selama masa kepemimpinannya periode tahun 2011-2015.

Megawati dalam sambutan awal di buku tersebut mengatakan, dengan membaca buku ini, kita akan memahami untuk menjadi  seorang pemimpin diperlukan laku tirakat dan perjuangan yang tidak mudah. Eka mampu menjalankan amanah menerjemahkan garis-garis perjuangan partai ke dalam program dan kebijakan pembangunan di kabupaten Tabanan. Hal ini ditunjukkan dari semangatnya membangkitkan partisipasi dan menumbuhkan antusiasme rakyat untuk turut serta dalam membangun daerah. Inilah  semangat kerja yang perlu  terus digelorakan. Gotong royong harus  dijadikan sebagai tulang punggung pembangunan.

Prof. Dr. Bahrullah Akbar, MBA, guru besar dan dosen Ilmu Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), saat membedah buku ini mengatakan, dari judul buku sudah sangat menarik. Buku ini  memberikan perspektif dalam pembangunan karakter. Buku ini banyak menuliskan inti dari model kepemimpinan. Sangat menginspirasi para perempuan,  juga, mendorong para generasi muda untuk menjadi entrepreneur, dengan dorongan one village one produk. Buku ini cocok disebut ilmiah popular, dapat juga  menginspirasi para mahasiswa, bahkan bisa dijadikan disertasi, model sukses pengelolaan pemerintahan daerah. dan juga, karena banyak menerangkan  model kepemimpinan, cocok dijadikan kajian dalam tata kepemerintahan daerah.

Prof. Bahrullah Akbar menilai, EkaWiryastuti  sosok yang mau belajar. Ini ditunjukkan, sejak tahun 2010 kabupaten Tabanan belum pernah mendapat opini WTP. Namun, di akhir masa tugas periode pertama, kabupaten Tabanan brhasil meraih WTP. Perubahan tersebut setidaknya menjadi gambaran, Eka mau belajar dan memberi keteladanan, sehingga jajaran pemerintah daerah Tabanan memiliki kemauan yang sama untuk memperbaiki dan menindaklanjuti rekomendasi dari BPK RI. Ke depan, pengelolaan keuangan daerah di Tabanan tetap perlu ditingkatkan agar dapat memberi nilai tambah dan semakin terlihat memberikan kontribusi posisitf untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

Rektor IPDN Prof. Dr. H. Ermaya yang juga ikut membedah buku ini mengatakan,  perlu ada banyak buku  seperti ini di zaman globalisasi, yang mengangkat karakter satu daerah. Dalam memimpin satu daerah tidak hanya diperlukan kekuatan tapi juga kemampuan yang unggul. Eka Wiryastuti sudah membuktikan.  Dalam buku ini tidak hanya sekadar memberi pengalaman, tapi ada yang hal yang perlu dipelajari dari pengalaman, mengembangkan pengetahuan menjadi lebih maju. Buku ini akan djual, dan hasil penjualan akan digunakan untuk charity. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

To Top