Kreasi

Duel Damai Gong Kebyar Lombok vs Bali

Gong kebyar telah mendunia. Gamelan Bali yang hampir dapat dijumpai di seluruh pelosok Pulau Dewata ini, telah tersebar di mancanegara. Di tanah air sendiri, ensambel yang bergaya musikal energik nan dinamik ini  sudah merasuk di kota-kota besar Indonesia.

Di pulau Lombok, eksistensi gamelan yang lahir di Bali Utara pada tahun 1915 ini, tampaknya yang termasuk paling berurat akar. Keberadaannya tidak hanya terbatas sebagai media hiburan, namun juga berfungsi dalam kancah upacara keagamaan. Bahkan gamelan ini juga berkontribusi pada sebagian kesenian masyarakat Sasak.

Apabila kini, seperti di Kota Mataram misalnya, seni kakebyaran—pertunjukan yang bernuansa estetik kebyar—menjadi salah satu seni pentas favorit masyarakat setempat, semua itu sudah dimulai dan bertumbuh pada tahun 1930-an dan menunjukkan kegairahan makin sumringah sejak tahun 1950-an. Belakangan, euforia sajian gong kebyar di arena Pesta Kesenian Bali (PKB), juga ikut lebih menggeliatkan seni kakebyaran di kalangan seniman pulau pedas tersebut. Pagelaran seni tabuh dan tari di Pura Lingsar, Lombok Barat, Selasa (13/12) malam lalu menjadi bukti. Penampilan secara mabarung atau bersanding dalam satu panggung antara Himpunan Seniman Muda Mataram (HSM) dengan Himpunan Briuk Sepanggul (HBS) Karangasem, Bali, sungguh heboh dan mengharukan.

Bertempat di Wantilan halaman luar Pura Lingsar—pura yang dikenal sebagai simbol kerukunan umat Hindu dengan penganut Islam Waktu Telu warga lokal Sasak—penonton tampak telah menunggu-nunggu duel gong kebyar tersebut. Para penonton duduk lesehan, berbaur harmonis, antara pemeluk agama Hindu dan penganut agama Islam. Dua barung gamelan gong kebyar dipajang berhadapan. Kedua tim kebyar telah mempersiapkan materi tabuh dan tari yang akan ditampilkan. Keduanya secara bergantian menyuguhkan masing-masing dua tabuh dan lima nomor tarian. Pagelaran yang bergulir tak kurang dari empat jam, disimak penonton penuh antusias. Ratusan penonton itu begitu tekun dan tampak responsif menikmati sajian tabuh dan lenggang tari dari kedua himpunan seniman Kota Mataram dan Kabupaten Karangasem itu. Tepuk tangan meriah sebagai ungkapan keterkesanan, meletup berkali-kali.

Secara historis, Bali dan Lombok memiliki kedekatan kultural. Seni sebagai ekspresi budaya juga menjadi bagian dari interaksi perjalanan sejarah masa lampau Lombok-Bali. Gong kebyar dengan seni kakebyaran-nya kini menjadi tontonan yang semakin mendapat tempat di hati masyarakat Lombok. Gong kebyar gaya Bali Utara dan gong kebyar gaya Bali Selatan mewarnai kesemarakan perkembangan seni kakebyaran di sana. Masyarakat minoritas Hindu sebagai penyangga utama dari denyut estetis seni kakebyaran memposisikan salah satu identitas budayanya dengan fleksibel sehingga diterima dengan toleran sebagai sebuah ketulusan sifat dasar seni yang universal.

Di Lombok, gong kebyar tak hanya menjadi media ekspresi komunitas Hindu suku Bali namun juga dilakoni oleh para seniman Sasak. Karena itu tidak menjadi aneh bila kesenian lokal Sasak juga menerima penguatan dari elemen gamelan kebyar atau musikalitas seni kakebayaran.

Bagi masyarakat Sasak, toleransi budaya telah membumi secara batin dan spiritual dari Pura Lingsar–tempat gelar seni tabuh dan tari dua tim seniman Bali dan Lombok itu. Pura yang telah terbangun pada tahun 1759  oleh Raja Ketut Karangasem Singosari ini memang dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat pendatang dari Bali dengan masyarakat Sasak. Bangunan suci Hindu yang disebut gaduh dan bangunan suci Islam Waktu Telu yang disebut kemaliq, tegak damai berdampingan di Pura Lingsar. Menurut legendanya, nama Pura ini adalah Al’Mual yang artinya air mengalir dari sebuah mata air yang kini dikeramatkan. Kini dengan nama Lingsar dimaknai sebagai “wahyu yang jelas”, ling berarti wahyu atau sabda dan sar berarti sah atau jelas. Percikan sejuk dari mata air keramat Pura Lingsar itu kini direguk sebagai pluralitas yang patut diteladani. Binar kerukunan ini disemai menjadi kearifan budaya, dan ini telah berlangsung pada jagat seni, seperti tampak pada keberadaan gong kebyar di tengah masyarakat Sasak.

Gelar tabuh dan tari gong kebyar mabarung Lombok dan Bali itu, berlangsung rukun yang diapresiasi masyarakat penonton dengan tulus damai. Betapa jagat seni mengomunikasikan rasa persaudaraan antara tim kesenian gong kebyar yang jauh-jauh bertandang dari Karangasem, Bali, mendapat jamuan keakraban seni dari tim kesenian Kota Mataram, Lombok Barat. Tampil secara bergatian, mereka tampak bukan berpretensi unjuk keunggulan namun lebih kepada saling menghargai dan saling menyayangi. Demikian pula penonton yang plural, tak tampak sikap berjarak. Mereka terbingkai dalam kerukunan, disatukan apiknya estetika tatabuhan gamelan dan indahnya olah tari kakebyaran.

Fibrasi Pura Lingsar yang mewadahi kemajemukan umatnya, makin terasa menggetarkan ketika tim gong kebyar dari Bali menyuguhkan tari Palawakia. Tari kakebayaran ciptaan Pan Wandres dari Desa Jagaraga, Buleleng, pada tahun 1940-an ini, dalam pesan untaian kakawin serta narasi terjemahannya, mengingatkan penonton untuk merawat kebhinekaan kita dalam berbangsa.  Palawakia yang dibawakan Laras sebagai penari dan Natya menjadi penerjemah, pada penutup pesannya, menggugah dengan dua pantun yang menggelitik. “Dari Bali menuju Lombok, cari makan ayam taliwang, mari bersatu jangan bentrok, berbangsa dengan kasih sayang”. Penonton bertepuk. “Kendang beliq kesenian sasak, suaranya menawan menari riang gembira, majulah indonesia kita tercinta, berjaya dalam kesatuan Bhineka Tunggal Ika”. Kembali penonton menyambut dengan pekik “Setujuuuu!” (Kadek Suartaya)

To Top