Kolom

Introspeksi Perubahan Diri dan Keluarga

I Made Widiantara, S.Psi.,M.Si.

Perubahan adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan ini, baik dalam kehidupan pribadi maupun di lingkungan keluarga. Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna, kita harusnya mampu mengelola perubahan hidup. Mengelola adalah bagaimana kita membuat sebuah perencanaan, melakukan rencana tersebut, mengevaluasi dan kemudian melakukan tindak lanjut dari hasil evaluasi yang lakukan. Di penghujung tahun 2016 ini, saatnya kita melakukan evaluasi diri dan keluarga.

Evaluasi merupakan sebuah tindakan dalam memberikan sebuah penilaian atau mengukur sebuah proses yang sudah kita lakukan. Mengapa kita perlu melakukan evaluasi akhir tahun? Karena kita menginginkan sesuatu yang lebih baik di tahun depan, berdasarkan pengalaman yang telah terjadi pada tahun ini. Tujuannya tentu untuk mengetahui bagaimana kualitas hidup kita dan keluarga pada tahun ini, apakah lebih baik atau lebih buruk. Jadi evaluasi akhir tahun sangatlah penting untuk mempersiapkan rencana di tahun depan.

Dalam kajian psikologi, manusia merupakan makhluk bio, psiko, sosio dan spiritual. Konsep bio-psiko-sosio-spiritual ini, bisa kita pergunakan sebagai parameter dalam mengukur perubahan kualitas hidup kita dan keluarga. Sebagai seorang individu, kita bisa mengukur capaian-capaian yang telah kita raih pada tahun ini, apakah sudah sesuai, terwujud atau minimal ada kemajuan dari rencana-rencana yang telah kita buat pada awal tahun. Capaian tersebut bisa berupa kondisi kesehatan, karier atau pekerjaan, pendidikan, keuangan, dan lain sebagainya. Mengevaluasi kondisi keuangan merupakan yang paling popular di akhir tahun, padalah kalau kita mau, aspek lainnya sangat perlu juga kita evaluasi.

Mengukur perubahan kualitas diri dan keluarga, yaitu mengukur apakah kita semakin ahli dalam mengatur keluarga, semakin matang dalam berpikir, atau semakin bijak dalam mengambil keputusan untuk keluarga. Evaluasi kualitas diri adalah sesuatu yang mendasar untuk mengetahui perubahan kualitas hidup kita dalam keluarga. Sebagai contoh apakah kita merasakan hubungan yang semakin harmonis, saling menyayangi, saling tulus memberi perhatian, lebih kompak, sering makan malam bersama, mampu menjadi panutan bagi anak-anak dan apakah kita paham akan kebutuhan keluarga.

Komunikasi yang intensif dalam keluarga sangat berpengaruh pada kebahagiaan keluarga. Sehingga dalam melakukan evaluasi akhir tahun, kita harus mengetahui apakah ada anggota keluarga yang memiliki rahasia yang mungkin tidak diketahui oleh anggota keluarga lain, atau ada yang merasa tidak mendapat perhatian dan kasih sayang? Seyogyanya, hubungan harmonis dalam keluarga adalah hubungan saling percaya, perhatian, saling memahami dan mampu mengkomunikasikan segala sesuatu tanpa beban.

Kenapa perlu evaluasi seberapa sering kita “makan bersama” keluarga? Karena makan bersama merupakan sebuah bentuk kebiasaan positif yang mampu membuat hubungan semakin erat. Banyak hal bisa terungkap saat makan bersama, pada saat menikmati makanan, biasanya ada interaksi saling melayani dan berbagi satu sama lain. Sehingga saat makan bersama, hubungan kita menjadi lebih cair dan saling memahami satu sama lain. Kebiasaan makan bersama yang perlu dilakukan selain makan di dalam rumah, yaitu “ritual” makan bersama keluarga di luar rumah. Disadari atau tidak, dengan makan bersama di luar rumah (restauran, warung makan, dll), dapat membentuk sebuah identitas keluarga, sehingga makan bersama sebulan sekali perlu diagendakan sebagai sebuah kebiasaan positif keluarga.

Sebagai makhluk sosial, evaluasi kualitas diri dan keluarga dilakukan dengan cara mengukur peran kita dan keluarga di lingkungan sosial. Sebagai contoh, bagaimana hubungan dengan tetangga sekitar, hubungan anggota keluarga dengan kolega di kantor, termasuk juga bagaimana tugas di kantor yang bisa diperankan secara profesional tanpa mengganggu keharmonisan keluarga. Bekerja di kantor menuntut sisi profesional kita dalam berinteraksi dengan orang lain, sedangkan peran kita di keluarga (rumah tangga) merupakan peran informal yang menonjolkan sisi humanis kita sebagai manusia. Sehingga dampak permainan peran ini, akan menjadi tolak ukur kesuksesan diri dan keluarga, yaitu peningkatan kemampuan finansial keluarga karena dampak positif profesionalisme kita dalam bekerja. Acuan lain dalam evaluasi peran sosial ini, adalah kekompakan kita bersama keluarga, yaitu apakah kita semakin mampu menunjukkan sikap saling mendukung antar anggota keluarga, saling menumbuhkan kesadaran diri dalam keluarga bahwa betapa pentingnya nama baik dan martabat keluarga.

Aspek spiritual, mengukur sejauh mana kita dalam keluarga mempunyai keyakinan dan kepercayaan yang taat dan rajin dalam melaksanakan kegiatan spiritual. Mengukur aspek spiritual dengan cara; apakah kita dan keluarga rajin berdoa, mentaati ajaran-Nya, mampu menerapkan ajaran dari keyakinan kita dalam kehidupan nyata serta mampu memberikan rasa damai dan tenang di lingkungan sekitar. Jika, kita dan keluarga masih kurang memiliki keyakinan dan menerapkan nilai-nilai spiritual ini, kita bisa merancang bagaimana di tahun depan agar bisa meningkatkan dan memperbanyak kegiatan-kegiatan spiritual.

Beberapa parameter tersebut, sebagai contoh dalam upaya kita melakukan evaluasi akhir tahun. Masih banyak lagi parameter yang bisa digunakan, tergantung dari tujuan kita dalam melakukan evaluasi akhir tahun. Sudah saatnya kita sebagai pribadi yang terus tumbung berkembang bersama keluarga mulai membiasakan untuk melakukan evaluasi akhir tahun. Tujuannya jelas, agar tahun depan menjadi lebih baik dari tahun ini, dan tentu harus membuat perencanaan yang lebih matang lagi untuk menyambut tahun baru 2017. “Manage your life, change your life… choose happiness”.

 

I Made Widiantara, S.Psi.,M.Si.

Dosen Politeknik Negeri Bali, Trainer in Personality Development, Communications and Customer Service

To Top