Kolom

2017

Amat membacakan rancangan renungannya, yang akan dibacakan pada malam tahun baru 2017:
“Ketika masih muda, kita tak pernah memikirkan bagaimana nanti kalau kita sudah  tua, “kata Amat mengucapkan pembukaan renungannya yang ia hapal di luar kepala.
“Setiap kali menyambut tahun baru, yang menghantui kepala kita adalah, bagaimana nanti kalau generasi di depan kita sudah berguguran dan giliran kita yang akan berkibar.”
“Kita selalu sibuk merancang, meracik, mengatur  taktik dan strategi, untuk tidak mengulangi kesalahan para pendahulu kita, agar dapat mencapai target dengan perolehan maksimal. Itu yang namanya kemajuan. Memang begitulah mestinya generasi muda berkiprah agar bangsa dan negeri kita makin mendekat ke cita-cita yang sudah dirindukan oleh para perintis kemerdekaan.”
“Tapi, itu saja tidak cukup. Kalau kita berhenti di situ. Sejarah akan berulang. Setiap tahun, suka atau tidak suka, tahun baru akan mengusir tahun tua. Satu tahun ke depan memang terus tetap 365/6 hari, jadi terasa lama. Tapi 20 tahun setelah lewat hanya terasa sekejap mata. Tahu-tahu kita baru mengjapkan mata, rambut kita sudah memutih, tulang keropos, segala penyakit singgah dan uang kita habis. Kita harus turun dari kursi dan tidak tahu ke mana harus pergi! Tapi ke mana pun tidak ada tempat buat tua bangka yang kantungnya bolong. Kita bangkrut dan baru menyesal setelah terlambat!”
“Karena itu,” sambung Amat mengakhiri renungannya, “dalam memasuki tahun baru, jangan hanya melihat pintu masuknya. Periksa juga pintu belakangnya untuk keluar. Kalau masuk hanya membawa satu kopor, karena dua kopor sudah dibawa banjir tahun lalu, rencanakan, jadwalkan, taktik dan strategikan, pastikan nanti kalau keluar dari pintu belakang 2017, harus bawa paling sedikit 3 kopor. Satu kopor modal kita. Satu kopor lagi gaji kita. Satu kopor lagi bonus kita karena sukses. Dan kalau ada satu kopor tambah lagi, akan mantap. Itu baru seratus bulat! Asal semua itu bukan hasil korupsi!”
Selesai. Amat menoleh Bu Amat yang tadi sengaja ditariknya dari dapur untuk memberi kritik. Ternyata Bu Amat sudah ada di dapur. Kedengaran teriakannya marah mengusir kucing yang maksa mau memeriksa isi almari dapur.
Amat kesal. Ia terpaksa menilai lagi sendiri apa yang sudah ditulisnya semalam sampai subuh.
“Kenapa, Pak?” tanya Bu Amat, muncul dari dapur membawa gelas kopi.
Amat tak menjawab karena masih keki.
“Saya sudah tahu isinya,” kata Bu Amat sambil menaruh gelas kopi, “tadi pagi waktu Bapak tidur, sudah tak baca dua kali.”
Amat mulai tertarik.
“Dua kali?”
“Hampir tiga kali.”
Ah, tiga kali, masak? Kenapa? Bagus?”
“Karena ada kopor-kopornya itu.”
“Kenapa kopornya?”
“Bapak bilang masuk bawa 2 kopor, keluar bawa 3 kopor? Betul?”
“Betul!”
“Lalu tambah satu kopor lagi. Jadi 4 kopor? Betul?”
“Betul!”
“Kopor yang keempat itu isinya apa?”
Amat terkejut,
“Ini bukan soal isinya, Bu!”
“Kenapa bukan?”
“Ini soal jumlah kopornya!”
“Kenapa jumlah kopornya?”
“Ya, ini kan pidato renungan, sebuah retorika dalam ilmu satra, bukan perdebatan debat kusir di pengadilan. Yang penting maknanya. Masuk bawa 2 kopor, keluar dengan 4 kopor, itu berarti produktif. Kasarnya untung. Tapi bukan hasil korupsi atau hasil tindakan kriminal lain. Jadi cukup untuk mengatasi kebangkrutan di hari tua! Itu pesan moralnya! Ya, nggak ?!”
Bu Amat duduk di depan Amat.
“Bagaimana kalau kopor keempat isinya hanya pakaian kotor?”
Amat terkejut.
“Dan bagaimana kalau tiga kopor lainnya, isinya hanya kertas-kertas berkas kantor?”
Amat tercengang.
“Bawa seratus kopor pun kalau kosong, tidak ada gunanya! Keluar tanpa kopor, apa salahnya kalau di kantongnya sudah ada kartu kredit dengan simpanan Rp 100 M di bank?”
Amat kaget. Tanpa menunggu jawaban Bu Amat kembali ke dapur. Amat merasa KO. Jab istrinya lembut tapi telak.
Amat menarik nafas panjang, lalu meremas kertas renungannya. Kemudian mengangkat gelas untuk menyirami otaknya yang terasa lembek.
Kembali ia terkesima. Ternyata gelas kopi itu kosong. Ini baru retorika, bisik Amat dalam hati.

To Top