Buleleng

Ubah Plastik Jadi Minyak

Prebekel Umeanyar menunjukkan mesin pengolah sampah plastik menjadi minyak

Gencarnya Buleleng bebas sampah rupanya telah mengundang rasa kepedulian terhadap lingkungan dari berbagai kalangan. Tidak hanya berbagai elemen masyarakat yang terlibat, melainkan cara yang kian inovatif dalam mengolahnya. Hal inilah yang dilakukan oleh seorang warga negara Belanda, Reginal Frantzen yang telah lama menetap di Desa Umeanyar di Kecamatan Seririt, Buleleng.

Menurut Perbekel Umeanyar Putu Edy Mulyana, S.E., Reginal telah membeli sebuah alat pengolah sampah yang diimpor dari Jepang. Uniknya, jika pada umumnya sampah plastik diolah menjadi berbagai macam jenis kerajinan namun mesin ini mampu mengubah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak. “Dia memang punya villa di sini bahkan memang punya kelompok peduli sampah yang diberi nama Bali Asri,” jelasnya.

Rencananya, mesin yang dibeli seharga Rp 120 juta tersebut akan dimodifikasi lalu dihibahkan ke desa untuk pengolahan sampah plastik. Ditambahkan oleh Mulyana, pihak desa siap menyiapkan lahan yang akan digunakan dalam mengoperasikan mesin tersebut. “Kami diminta menyiapkan lahan untuk tahap uji coba, sebab saat ini produksinya masih dalam sekup kecil, dan sudah dipesan mesin yang lebih besar,” ujarnya. Pihak desa sangat menyambut positif rencana warganya bahkan hasil penjualan BBM tersebut akan disumbangkan ke sekolah-sekolah yang ada di Desa Umeanyar. “Kami sudah koordinasikan dengan dinas terkait dan rencananya akan ditinjau oleh Kadis,” ungkapnya.

Sejauh ini yang masih menjadi kendala adalah mesin dioperasikan menggunakan tenaga listrik dengan tegangan cukup tinggi.  Menurutnya listrik yang digunakan tidak sesuai dengan minyak yang dihasilkan. “Mesin ini kan menggunakan listrik untuk pengoperasiannya, itu sampah plastik dibakar ada tangki pembakaran, uap airnya masuk ke saluran yang terhubung dengan tabung lain, sedangkan tabung yang menampung minyak sisa pembakaran akan diisi air. Karena massa jenis minyak lebih kecil sehingga akan diam di atas air, kalau sudah banyak minyaknya akan jatuh lewat keran. Kita harus nunggu tiga jam untuk jadi minyak,” jelasnya. Sekali proses, mesin itu dapat menghasilkan minyak satu liter dari pembakaran satu kilogram sampah plastik.

Menurut Mulyana, setiap jenis sampah plastik akan menghasilkan kualitas minyak yang berbeda. Sampah botol plastik akan menghasilkan minyak yang lebih jernih, sedangkan sampah kresek akan menghasilkan minyak yang lebih padat. Selanjutnya akan dilakukan uji coba dengan menguji kadar oktan dan percobaan menjadikan minyak itu menjadi bensin. “Kalau sudah banyak minyak yang dihasilkan akan diuji oktannya, bisa disaring lagi menjadi bensin agar aman digunakan,” katanya.

Pria kelahiran 11 Mei 1978 tersebut mengatakan bahwa pihaknya saat ini semakin gencar melakukan sosialisasi untuk mengedukasi masyarakat mengenai betapa pentingnya menjaga kebersihan terutama dari sampah plastik. “Mudah-mudah tidak ada hambatan ke depan namun saat ini yang terpenting adalah dapat mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah baik yang organik dan nonorganik,” pungkasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top