Sehat

Waspadai Kembang Api Dari Ceria Jadi Buta

dr. Rian Ananta M.Biomed., Sp.M.

Sebentar lagi kita akan menjalani pergantian tahun dan memasuki tahun baru 2017. Malam pergantian tahun identik dengan  permainan dan pertunjukan kembang api. Kembang api selain indah dipandang juga dapat merusak pemandangan dengan berbagai akibat yang ditimbulkannya. Orang yang memainkan kembang api dan orang yang berada di sekitarnya rentan mengalami musibah.

Menurut dr. Rian Ananta M.Biomed., Sp.M. mengatakan, kembang api berisikan senyawa kimia yang akan menjadi panas apabila dinyalakan dengan api. Bila meluncur ke arah yang tepat tentu mengasyikkan untuk dilihat, namun apabila meluncur ke arah yang salah, tentu mengakibatkan luka. “Jenis luka yang ditimbulkan apabila mengenai kulit adalah luka bakar akibat panas api yang ditimbulkan. Apabila mengenai mata akan menjadi luka bakar ditambah cedera akibat zat kimia yang dikandung kembang api,” ujar dokter spesialis mata RSU Surya Husada Denpasar ini.

Setiap menjelang tahun baru atau saat malam pergantian tahun, unit gawat darurat rumah sakit dan pelayanan kesehatan lain sering kali menerima kunjungan pasien akibat terkena kembang api baik pada mata dan anggota tubuh lain. Tidak jarang pasien ini adalah anak-anak yang memainkan kembang api tanpa diawasi orangtuanya. Kejadian ini tentu membuat orang tua dan anggota keluarga lain khawatir.

Ia menyarankan, apabila ada anggota keluarga yang terkena kembang api di bagian mata, dapat memberikan pertolongan pertama dengan mencuci bola mata dengan air bersih untuk meminimalkan kontak  zat kimia dengan bola mata. “Biasanya pasien yang mengalami trauma mata akibat kembang api akan merasakan perih dan panas yang hebat. Segera mungkin setelah dicuci dengan air bersih, pasien dibawa ke rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan untuk mendapat pertolongan awal. Sebaiknya tidak memberikan obat mata baik yang tradisional ataupun modern terlebih dahulu karena mungkin dapat memperburuk trauma mata yang dialami,” saran staf dosen di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warwadewa ini.

Ia menambahkan, saat diperiksa, dokter akan menilai bagaimana kondisi mata yang terkena trauma, apabila bola mata masih utuh biasanya akan dicuci kembali dengan larutan infus yang memakan waktu tidak sebentar. Belum lagi apabila pasien yang datang dengan keluhan serupa dalam waktu yang hampir bersamaan, tentu menimbulkan waktu penanganan yang lebih lama. Setelah dibersihkan   dokter akan memutuskan terapi terbaik yang diberikan kepada pasien. Namun, sering kali dokter harus menyarankan pasien untuk opname terutama apabila trauma mengenai kedua mata untuk tujuan evaluasi dan follow up lebih lanjut.  “Trauma kembang api pada bola mata dapat menimbulkan luka bakar pada kelopak mata, alis, bulu mata, dan luka bakar pada kornea. Trauma kembang api dengan kekuatan luncur yang kuat dapat menyebabkan kerusakan yang lebih jauh seperti robekan pada kelopak mata, selaput bening bola mata (konjungtiva), kornea, dan lapisan putih bola mata (sklera) sampai menimbulkan lepasnya lapisan dalan saraf mata,” jelas dokter yang praktik di Sudirman Agung Eye Care Denpasar ini.

Menurutnya, makin kuat benturan akan menyebabkan trauma yang lebih berat. Apabila luka terjadi pada kornea, sklera, dan saraf mata, maka akan dapat menimbulkan gangguan pengelihatan sampai dengan kebutaan. Hal ini yang perlu diketahui masyarakat dan orangtua sehingga mereka dapat lebih bijak dan dapat mengawasi apabila anak anak bermain kembang api demi mencegah trauma baik pada orang yang bermain kembang api maupun orang-orang yang kebetulan ada di sekitarnya.

Ia menegaskan, trauma mata akibat kembang api sering menimbulkan akibat yang fatal bagi penglihatan. Penurunan penglihatan dapat bersifat sementara namun tidak jarang bersifat permanen. “Kecacatan penglihatan akibat trauma kembang api tentu dapat dicegah dibandingkan disesali apabila sudah terjadi. Pencegahan tersebut dapat berupa: tidak memainkan kembang api; tidak menonton terlalu dekat dengan orang yang memainkan kembang api; apabila memainkan kembang api sebaiknya menggunakan perlindungan diri dan kaca mata dan dengan pengawasan orangtua. Lebih baik tidak terlalu banyak keluar rumah mendekati akhir tahun,” sarannya.

Sering sekali pasien trauma mata akibat kembang api adalah orang yang hanya kebetulan lewat atau kebetulan berada di dekat lokasi kembang api. Tentu sangat merugikan bila mengalami kejadian yang tidak diinginkan seperti terkena kembang api. Bagaimanapun lebih baik mencegah dari pada mengobati. (wirati.astiti@cybertokoh.com).

To Top