Kuliner

Sehat dan Awet Muda dengan Raw Food

Sekalipun sudah banyak orang yang tertarik dengan pola makan makanan mentah atau yang dikenal raw food,  sebagai gaya hidup yang baik, namun masih sedikit yang berhasil menjalaninya. Beberapa orang mencobanya dan gagal dengan berbagai sebab. Ada yang tidak tahan cemoohan orang sekitar atau  masih ragu dengan manfaat makanan mentah ini. Salah seorang penikmat raw food, Nikki Indrawaty mencoba berbagi tips dengan pembaca tokoh kali ini. Fashion Designer lulusan Universitas di Australia ini, memotivasi dirinya agar berhasil menjalankan diet raw food karena keinginannya untuk sehat. Seperti apa?

“Dulu saya terkena mioma ulteri malah sampai operasi. Katanya, selama masih melajang, penyakit ini bisa kambuh lagi. Tentu saja hal itu membuat saya khawatir,” kata perempuan yang memiliki brand Anemone Design ini.

Motivasi ingin sehat membuatnya mencoba mengubah pola makan.  Setahun, setelah bertahan dengan pola makan sehat dengan makanan mentah, ia bisa bernapas lega. Setelah dicek ke dokter, mioma yang sempat bersarang di tubuhnya tidak tumbuh lagi.  Berbekal pengalaman pribadinya itu,  ia ingin berbagi dengan orang lain dalam bidang nutrisi dan kesehatan.

kuliner-2Health coach ini  mengatakan,  raw food adalah makanan yang hidup atau living food. Raw food  mengandung oksigen, mineral, dan enzim yang biasanya  hilang pada saat proses pemasakan. Mengapa  raw food itu baik untuk tubuh? “Pada dasarnya,  kesehatan manusia  ada di pencernaan.  Enzim yang baik  mengandung flora  membantu proses pencernaan itu. Di zaman gaya hidup modern sekarang ini, mengakibatkan banyak pencernaan manusia yang tidak sehat sehingga mengakibatkan  banyak penyakit,” kata Nikki yang juga seorang praktisi yoga ini.

Ia mengatakan, banyak dari kita tidak tahu, saat kita  makan,  tubuh hanya menyerap nutrisi.  Kita harus menyadari, kita makan untuk tubuh atau makan untuk kesenangan. Mengapa raw food sangat baik bagi kesehatan? “Bukan melulu soal makan makanan mentah tapi kita makan makanan kembali ke alam. Misalnya, sayuran hijau yang bisa dibuat jus. “Senang sekali sekitar bulan Oktober lalu selama tiga bulan, saya mendapatkan beasiswa untuk belajar raw food dari ahlinya  di Ubud.  Di sana  saya banyak belajar teknik menyiapkan raw food. Karena gurunya bule, makanan yang diajarkan lebih banyak ke Western. Sebagai orang Bali, saya ingin mengembangkan raw food untuk makanan lokal,” kata Nikki yang sekarang sudah bisa disebut sebagai konsultan raw food di Bali.

Sebelum ikut workshop di Ubud, Nikki menjadi   penikmat raw food dengan otodidak. Banyak hal yang belum dipahaminya soal nutrisi.  Ketika sudah mendapatkan pelatihan, Nikki mendapatkan banyak ilmu nutrisi dan kesehatan, termasuk resep-resep menyiapkan raw food.

Untuk makanan lokal, Nikki sangat menggemari urap mentimun. Bumbunya  terdiri dari parutan kelapa muda, dengan bumbu-bumbu seperti bubuk bawang putih dan  bubuk kunyit. Kemudian ditambahkan mentimun yang dipotong-potong kecil dan diaduk rata.

Berbagai menu raw food  disiapkan Niki setiap hari seperti, pagi-pagi, saat baru bangun, ia minum air lemon. Untuk satu liter air putih dicampur  dengan perasan dua buah jeruk nipis.  Setelah itu ia minum green juice atau jus kunyit.  Green juice dibuat dari campuran bayam inggris, bokcay, mentimun jepang, dan kale. Semua  sayuran ini dijus bersama air secukupnya.  Sedangkan jus kunyit dibuat dengan cara, satu gelas air putih diberi kunyit dua ruas jari dan satu ruas jari jahe. Pilihan lain, ia membuat smoothie dengan cara, daging kelapa muda diblender bersama air kelapa, kemudian ditambahkan bubuk daun kelor yang biasa ia beli di healthy food store.  Siang  hari, ia menikmati salad sayuran.

Nikki mengatakan,  belum sepenuhnya raw food karena  masih mengonsumsi tempe yang dipanggang sebagai peneman saladnya.  Untuk dreesing, ia menggunakan  minyak almond, atau yang sederhana cukup dengan  campuran  jeruk nipis dengan olive oil.

Memang Nikki tak menampik, saat pertama mengubah pola makan menjadi raw food, ia terlihat lebih kurus dan sakit. Dari pihak keluarga banyak yang mengkhawatirkan Nikki, dan memintanya untuk kembali ke pola makan sebelumnya.  “Waktu itu, saya tidak bisa menjelaskan mengapa efek raw food seperti itu. Setelah saya mendapatkan beasiswa saya baru mengerti. Tubuh kita kotor, racun harus dikeluarkan.  Racun keluar dimanifestasikan dengan banyak keluhan. Sakit kepala, sakit perut, sakit tenggorokan, itulah fungsi detoks. Itu yang kita rasakan dalam bentuk sakit,” ungkapnya, yang sudah menjalani pola makan raw food selama tiga tahun ini.

Nikki menilai, ada  peribahasa orang Bali,  “gedek basange”, itu sebenarnya  mengandung arti. Cepat marah, sensitif, galau, dan sebagainya, terjadi karena pencernaan kita tidak sehat.  Ada nasihat, “lantangan basange”, itu juga ada artinya, kita harus bersabar.

“Kebiasaan orang zaman dulu minum loloh, sama artinya dengan kita sekarang minum green juice.  Orang asing sekarang tertarik ke raw food, kita malah terbalik, meniru budaya luar makan junk food yang sudah jelas makanan tak sehat,” katanya.

Ia menyatakan, selain raw food baik untuk menjaga kesehatan tubuh, raw food juga memberikan dampak awet muda.  Nikki sendiri sudah membuktikan, banyak yang bilang kulitnya menjadi lebih halus padahal, ia tidak pernah melakukan perawatan wajah dan kulit.  “Saya ini tomboi, tidak  suka perawatan.  Banyak yang bilang, kulit saya sekarang lebih halus,” kata Nikki.

Ke depannya, perempuan yang kini menyandang predikat raw food chef ini, mempunyai harapan  ingin membuat  workshop mengajarkan memasak sederhana, sehat, dan cepat.  Nikki juga tertarik bertemu orang-orang yang mengikuti pola makan raw food. “Saya ingin sekali membuat komunitas raw food untuk lokal. Tujuannya, adalah untuk saling menguatkan dan berbagi. Ketika awal-awal menjadi penikmat raw food akan banyak sekali tantangan, karena itu perlu adanya komunitas untuk saling menguatkan,” kata Nikki. (wirati.astiti@cybertokoh.com

To Top