Kolom

SI HITAM MANIS

“Menjelang buntut 2016, rasanya ada yang harus kita simpulkan,” kata Bu Amat,”supaya tidak terulang lagi tahun depan.”
Amat tak berkomentar.
“Ya, kan. Pak?!”
Suara Bu Amat agak keras. Amat langsung memperbaiki kesalahannya.
“Ya. Ini lagi nyariin!”
Nyariin! Nyari apa? Nyari jangkrik?”
Lho, katanya mau mengumpulkan apa yang tidak perlu dilakukan nanti tahun 2017!”
“Tapi setuju, tidak? Itu dulu! Kalau setuju, baru cari! Kalau tidak, buat apa nyari jangkrik! Bapak main tubruk saja sekarang, kayak robot!”
Suara Bu Amat makin ketus. Amat jadi deg-degan. Ini ada gosip apa lagi, katanya dalam hati. Jangan gara-gara dia sudah pernah kirim salam sama janda. Yang hitam manis di seberang sana. Tapi jelas itu hanya bercanda. Cuma canda kok bisa jadi pemicu? Pasti ada yang ngomporin. Dan itu sumbernya jelas. Musuh bebuyutannya, siapa lagi kalau bukan Pak Made di sebelah. Tadi pagi sudah senyum bermanis-manis tanpa ada juntrungannya. Kalau sudah begitu, biasanya lagi masang bom waktu.
“Ayo! Ngelamun apa lagi itu, Pak! Keinget-inget terus, kan?!”
Amat terkejut. Lalu mencoba tangkas mengelak.
“Ya! Dapat satu! ini bagus sekali!”
Bu Amat heran.
“Dapat apa? Jangkrik?”
“Kalau Pak Made sudah mulai senyum-senyum artinya dia lagi mau garap kita.  Pura-pura damai, tapi diam-diam mau menggertak. Katanya tetangga, tetapi ternyata musuh dalam selimut. Jadi kalau sudah ada tanda-tanda mau ngerecokin kita,  langsung saja pura-pura tidak dengar dan pergi. Jangan ditanggapi, nanti panjang ceritanya kalau diberi peluang!”
Bu Amat langsung berdiri.
“Bapak ini kenapa sih terlalu banyak sentimen sama tetangga. Orang mau menolong begitu kok dicurigai? Pak Made dulu perokok berat. Sudah diomelin istrinya habis. tapi tidak mau berhenti. Katanya tidak bisa kerja kalau tidak ngerokok. Tapi begitu dokter ngasih tahu jantungnya bermasalah, langsung berhenti. Dia kan mau bilang sama Bapak, jangan nyoba-nyoba main api, nunggu terbakar baru kapok, dah? Dasar bandel! Makanya kalau Bapak sudah mulai suka pusing-pusing, dengerin istrimu ini, jangan ikuti nafsu sendiri? Nggak bisa! Nggak bisa! Alasan! Gara-gara si Hitam Manis, hidup berantakan! Mbok sadar! Sudah tua bangka, kok terus saja ingin lagi, pingin lagi! Sekali kan cukup? Mau berapa kali? Nanti ambrol baru nyesel!”
Bu Amat menyambar gelas kopi Amat, lalu ke belakang. Amat tak berani membantah, masih ada satu teguk terakhir di gelas yang biasanya ia jadikan gong yang paling dinikmatinya.
“Dalam lubuk bisa di duga, dalam hati istri siapa tahu,” bisik Amat dalam hati.
“Darahku tersirap waktu ibu kamu mengucapkan kata Hitam Manis dengan tekanan yang sinis,” kata Amat kemudian mencurahkan perasaannya pada Ami.
“Memang kenapa, si Hitam Manis, Pak?”
Amat terkejut lagi. Lalu mencoba melompat ke soal lain yang jauh.
“Akhirnya aktor politik di belakang demo damai itu siapa kira-kira, Ami?”
Tapi Ami terus mencecer.
“Jadi Bapak tidak boleh lagi sama si Hitam Manis?”
Amat terkejut.
“O ya, Bapak baru ingat, tadi tidak sempat pamitan sama ibu kamu. Bapak pulang dulu nanti ibu kamu nyari-nyari.”
Ami heran.
Lho, katanya tadi ada penting, mau curhat. Soal apa?”
“Apa, ya? Kok Bapak jadi lupa?!”
Ami tambah heran.
“Apa? Lupa?”
“Ya.”
“Bapak betul tidak ingat Bapak mau apa datang ke Ami?”
“Tidak.”
Ami mulai khawatir.
“Wah, jangan-jangan itu gejala dini alzheimer!”
“Apa itu?”
Ami semakin cemas.
“Bapak tahu, Bapak ini di mana sekarang?”
Amat ketawa.
“Ya tahu, masak tidak!”
“Di mana?”
Amat bercanda.
“Di rumah sakit.”
Ami terperanjat.
“Saya siapa?”
Amat ketawa cekakakan.
“Saya siapa?”
“Dokter!”
Ami berteriak kaget. Lalu memanggil suaminya sambil berlari masuk rumah.
“Bli Sugiiii!! Bapak ketagihan si Hitam Manis!”
Amat terus ketawa geli, langsung pulang. Tapi sampai di rumah langsung disemprot Bu Amat.
“Ini dia si pemuja hitam manis! Dari warung ya?! Katanya tadi minta, tuh cepetan si Hitam Manis sudah dingin! Mulai besok hanya boleh satu kali satu hari! Itu yang tidak boleh dilanggar tahun depan! Daripada kopi minum air putih biar tekanan turun!”

SI HITAM MANIS

“Menjelang buntut 2016, rasanya ada yang harus kita simpulkan,” kata Bu Amat,”supaya tidak terulang lagi tahun depan.”
Amat tak berkomentar.
“Ya, kan. Pak?!”
Suara Bu Amat agak keras. Amat langsung memperbaiki kesalahannya.
“Ya. Ini lagi nyariin!”
Nyariin! Nyari apa? Nyari jangkrik?”
Lho, katanya mau mengumpulkan apa yang tidak perlu dilakukan nanti tahun 2017!”
“Tapi setuju, tidak? Itu dulu! Kalau setuju, baru cari! Kalau tidak, buat apa nyari jangkrik! Bapak main tubruk saja sekarang, kayak robot!”
Suara Bu Amat makin ketus. Amat jadi deg-degan. Ini ada gosip apa lagi, katanya dalam hati. Jangan gara-gara dia sudah pernah kirim salam sama janda. Yang hitam manis di seberang sana. Tapi jelas itu hanya bercanda. Cuma canda kok bisa jadi pemicu? Pasti ada yang ngomporin. Dan itu sumbernya jelas. Musuh bebuyutannya, siapa lagi kalau bukan Pak Made di sebelah. Tadi pagi sudah senyum bermanis-manis tanpa ada juntrungannya. Kalau sudah begitu, biasanya lagi masang bom waktu.
“Ayo! Ngelamun apa lagi itu, Pak! Keinget-inget terus, kan?!”
Amat terkejut. Lalu mencoba tangkas mengelak.
“Ya! Dapat satu! ini bagus sekali!”
Bu Amat heran.
“Dapat apa? Jangkrik?”
“Kalau Pak Made sudah mulai senyum-senyum artinya dia lagi mau garap kita.  Pura-pura damai, tapi diam-diam mau menggertak. Katanya tetangga, tetapi ternyata musuh dalam selimut. Jadi kalau sudah ada tanda-tanda mau ngerecokin kita,  langsung saja pura-pura tidak dengar dan pergi. Jangan ditanggapi, nanti panjang ceritanya kalau diberi peluang!”
Bu Amat langsung berdiri.
“Bapak ini kenapa sih terlalu banyak sentimen sama tetangga. Orang mau menolong begitu kok dicurigai? Pak Made dulu perokok berat. Sudah diomelin istrinya habis. tapi tidak mau berhenti. Katanya tidak bisa kerja kalau tidak ngerokok. Tapi begitu dokter ngasih tahu jantungnya bermasalah, langsung berhenti. Dia kan mau bilang sama Bapak, jangan nyoba-nyoba main api, nunggu terbakar baru kapok, dah? Dasar bandel! Makanya kalau Bapak sudah mulai suka pusing-pusing, dengerin istrimu ini, jangan ikuti nafsu sendiri? Nggak bisa! Nggak bisa! Alasan! Gara-gara si Hitam Manis, hidup berantakan! Mbok sadar! Sudah tua bangka, kok terus saja ingin lagi, pingin lagi! Sekali kan cukup? Mau berapa kali? Nanti ambrol baru nyesel!”
Bu Amat menyambar gelas kopi Amat, lalu ke belakang. Amat tak berani membantah, masih ada satu teguk terakhir di gelas yang biasanya ia jadikan gong yang paling dinikmatinya.
“Dalam lubuk bisa di duga, dalam hati istri siapa tahu,” bisik Amat dalam hati.
“Darahku tersirap waktu ibu kamu mengucapkan kata Hitam Manis dengan tekanan yang sinis,” kata Amat kemudian mencurahkan perasaannya pada Ami.
“Memang kenapa, si Hitam Manis, Pak?”
Amat terkejut lagi. Lalu mencoba melompat ke soal lain yang jauh.
“Akhirnya aktor politik di belakang demo damai itu siapa kira-kira, Ami?”
Tapi Ami terus mencecer.
“Jadi Bapak tidak boleh lagi sama si Hitam Manis?”
Amat terkejut.
“O ya, Bapak baru ingat, tadi tidak sempat pamitan sama ibu kamu. Bapak pulang dulu nanti ibu kamu nyari-nyari.”
Ami heran.
Lho, katanya tadi ada penting, mau curhat. Soal apa?”
“Apa, ya? Kok Bapak jadi lupa?!”
Ami tambah heran.
“Apa? Lupa?”
“Ya.”
“Bapak betul tidak ingat Bapak mau apa datang ke Ami?”
“Tidak.”
Ami mulai khawatir.
“Wah, jangan-jangan itu gejala dini alzheimer!”
“Apa itu?”
Ami semakin cemas.
“Bapak tahu, Bapak ini di mana sekarang?”
Amat ketawa.
“Ya tahu, masak tidak!”
“Di mana?”
Amat bercanda.
“Di rumah sakit.”
Ami terperanjat.
“Saya siapa?”
Amat ketawa cekakakan.
“Saya siapa?”
“Dokter!”
Ami berteriak kaget. Lalu memanggil suaminya sambil berlari masuk rumah.
“Bli Sugiiii!! Bapak ketagihan si Hitam Manis!”
Amat terus ketawa geli, langsung pulang. Tapi sampai di rumah langsung disemprot Bu Amat.
“Ini dia si pemuja hitam manis! Dari warung ya?! Katanya tadi minta, tuh cepetan si Hitam Manis sudah dingin! Mulai besok hanya boleh satu kali satu hari! Itu yang tidak boleh dilanggar tahun depan! Daripada kopi minum air putih biar tekanan turun!”

To Top