Kreasi

Ida Bagus Blangsinga: Kisah Ketekunan, Fokus dan Sepasang Dupa Untuk Hyang Taksu

Ida Bagus Oka Wirjana atau yang lebih akrab disapa, Ida Bagus Blangsinga dikenal sebagai Maestro Tari Kebyar Duduk. Tarian tunggal yang diciptakan oleh I Ketut Mario (I Ketut Mariya) mampu ia ekpresikan dengan baik, sehingga menjadi begitu khas saat ia tarikan. Tari itu menjadi lebih indah, agem kuat, harmoni irama musik dengan gerak tubuh yang pas, serta gerakan mata yang menakjubkan.

Seledet dengan gaya permainan mata yang naik turun kemudian bergetar menjadi inspirasi setiap generasi pecinta Tari Kebyar Duduk kini. Memiliki ragam gerak yang banyak membuat dirinya kaya eksplorasi, sehingga mampu menguasai panggung dalam bentuk apapun serta kondisi penontonnya. Setiap jengkal panggung seakan tak pernah kosong, meski ia membawakan tarian tunggal. Hal itu memunculkan sebuah getaran dan vibrasi seni pertunjukan yang kuat.

Sangat sulit mendeskripsikan keindahan jiwa yang ia miliki, jika tidak merasakan langsung aura pementasannya. Itulah taksu dari seorang maestro asal Ubud ini. Taksu sebagai hasil laku sadhana, ia menggeluti dunia kepenarian. Menari baginya adalah keyakinan hidup, diperlukan usaha keras untuk mencurahkan seluruh hati dan pikiran pada seni yang ditekuni. “Fokus pada yang satu!” katanya.

Ida Bagus Blangsinga memiliki disiplin latihan yang tinggi, fokus pada satu titik, selalu ingat pada ajaran sesepuh (pakem) dan Sang Pemilik Jiwa (Taksu) agar berkenan hadir dalam diri, terpatri dalam setiap laku hidup. Dan ia menjalani keindahan dan beratnya tantangan perjalanan karier sebagai seorang penari. Pernah pada satu masa ia terjebak selama 4 jam dalam susana perang peluru yang bersliweran di atas kepala. “Suasana sangat mencekam. Saya pikir tak dapat  kembali lagi ke Bali,” kenangnya ketika menjalani tugas sebagai penari Angkatan Perang di tahun 50-an.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Ida Bagus Blangsinga bersama penari lainnya sering mendapat tugas menampilkan sajian estetis bagi Angkatan Darat di Jakarta melalui DUKT (Dinas Urusan Kesejahteraan Tentara), di Istana Negara. Kedekatannya dengan Presiden RI I kala itu mempengaruhi dirinya untuk melabuhkan pilihan pada jalan hidup bersahaja.

Meski bolak-balik melakukan lawatan ke luar negeri, murid-murid dari seantero negeri tidak merubah kesahajaannya. “Pak Presiden ngranaang aji ten medue napi (Pak Presiden yang membuat saya miskin). Tapi aji sugih ken nyama braya, timpal, pengalaman, to ne alih to ne langgeng (Tapi saya kaya akan keluarga, kerabat, teman, dan pengalaman, itu yang dicari itu yang langgeng),” kenang Ida Bagus Blangsinga saat bercakap-cakap dengan Presiden Soekarno.

Di usianya yang ke 87 Ida Bagus Blangsinga masih aktif menari. Beberapa waktu lalu ia menari saat mlaspas geria (upacara syukur atas selesainya pembangunan rumah dan mohon agar dapat menempatinya dengan segala limpahan berkah) sendiri. Rumahnya direnovasi atas bantuan pemerintah Kabupaten Gianyar dan diplaspas pada April 2016.

Ida Bagus Blangsinga terkenal energik meski usianya sudah sepuh, sehingga tak pernah menyerah pada panggung. Sayangnya kondisi kesehatannya menurun akibat kurang cairan dan sakit pada lambung sejak 4 bulan terakhir. Ia tampak sedikit frustasi pada penyakitnya, “Banyak janji menari yang harus dibatalkan,” ungkapnya.

Namun, ketika berkisah tentang tarian, taksu tampaknya tak kuasa menghindar darinya. Dalam nafas berat terengah-engah beliau berkisah senang sepotong demi sepotong, semua masih tampak jelas dalam ingatannya. Bahkan sesekali menari dan menggerakkan mata khasnya. Dalam nafas berat itu, ia mengungkapkan kesedihannya karena belum ada yang mampu menangkap getaran jiwa sang maestronya. Utamanya pada Tari Goak Macok gayanya.

Ada ne andelang aji, tapi be lepas dadi pregina,.. liu jejemak nik nik jani…, sing inget ngenjit asep kekalih nunas ica ring sane ngeragaang seni, …to mawinan Taksu joh, mekohkeh nak nik nik ngigel penonton ten nyantep. (Ada yang saya harapkan mampu tapi sudah usai menari, … terlalu banyak kegiatan anak anak sekarang, … juga tak selalu ingat menyalakan sepasang dupa mohon pada Hyang Taksu sebelum menari, … itulah sebab taksu menjauh. Mekohkeh (jungkir balik) anak-anak menari tak mampu menyentuh hati penonton,” keluhnya.

Dan yang menjadi harapannya kini adalah cucu kesayangannya Ida Ayu Triana Titania Manuaba untuk dapat melanjutkan ruh kepenariannya, meski perjalanan masih jauh.

Dayu Ani

To Top