Griya

SOHO, Solusi Tempat Tinggal bagi Wirausaha

novia-sartika-dewi

Novia Sartika Dewi

Di Ibu Kota, pertumbuhan konsep SOHO (Small Office Home Office) dinilai sangat praktis. Bertambahnya jumlah profesional dan enterpreneur muda menjadi pemicu utama akan kehadiran SOHO. Demikian diungkapkan Novia Sartika D. owner Grafisio Design Bali

Selain itu, dikatakannya juga harga jualnya relatif terjangkau jika dibandingkan harus menyewa unit kantor. Sementara itu, mereka bisa menghemat waktu dan energi karena bekerja di dalam rumah. Menariknya prospek pasar kantor sekaligus tempat tinggal itu menjadikan sejumlah pengembang berminat memasarkannya.

Novi mengingatkan, jika ingin memilih SOHO sebagai tempat tinggal, tetap harus mempertimbangkan beberapa hal. Di antaranya, SOHO bukanlah murni hunian. Karenanya developer yang mengembangkan SOHO seharusnya menerapkan standar layaknya perkantoran yang dilengkapi oleh sistem internet, wi-fi, jaringan komunikasi, bahkan mungkin fasilitas ruang pertemuan untuk meeting.

 

SOHO antara Kebutuhan  dan Gaya Hidup

Bila kita melihat perkembangan properti di Indonesia, sebenarnya konsep SOHO bukanlah hal baru. Di Indonesia, konsep SOHO tidak jauh berbeda dengan konsep ruko (rumah toko) atau rukan (rumah kantor). Melihat konsep SOHO yang lebih dikategorikan sebagai properti komersial seharusnya memang lebih mengarah ke perkantoran dan bukan hunian, mengingat izin ruko dan rukan pun mempunyai izin sebagai bangunan komersial dan bukan hunian.

Konsep SOHO tidak selalu harus dibangun sebagai high-rise building. Banyak juga masyarakat yang menggunakan rumahnya sebagai tempat bekerja bahkan kantornya. Banyak masyarakat yang menggunakan garasi untuk ruang kerja yang tentunya untuk menghemat biaya sewa kantor. Meskipun demikian hal ini tentunya melanggar peruntukan yang ada karena seharusnya rumah tinggal tidak boleh beralih fungsi menjadi kantor.

Dengan masih barunya konsep SOHO yang diterapkan di gedung-gedung yang ada di Indonesia, masih menyisakan beberapa hal yang terkadang dilupakan oleh manajemen gedung terkait dengan keamanan dan jaminan keselamatan yang ada. Karena dengan difungsikan sebagai kantor, artinya dimungkinkan adanya beberapa karyawan dan klien yang hilir mudik dalam area SOHO.

Namun di sisi lain, SOHO menjawab kebutuhan untuk para profesional yang terbiasa bekerja di rumah dan tidak perlu ke kantor untuk bekerja. Dengan berkembang pesatnya teknologi internet, maka mereka dapat melakukan semuanya di rumah dengan bantuan alat telekomunikasi, email, atau tele-conference. Hal ini juga menjawab macetnya lalu lintas untuk hanya sekedar meeting dengan klien. Bahkan mungkin waktu untuk sampai ke tempat meeting lebih lama dibandingkan meeting itu sendiri.

 

CELAH PASAR SOHO DI Bali

Novi mengatakan, perkembangan SOHO di Indonesia saat ini memang lebih dikenal sebagai sebuah transformasi konsep dari apartemen ke perkantoran yang dibangun sebagai high-rise building. Banyak juga yang menggunakan unit SOHO sebagai virtual office yang merupakan simbol domisili sebuah kantor. Dengan keterbatasan space yang ada, banyak unit-unit SOHO yang mulai didesain dengan konsep loft 2 lantai atau unit satu lantai dengan ceiling yang tinggi dengan lantai mezanine di tengahnya.

Pamor SOHO saat ini berkembang sebagai sebuah perkembangan modern dan bergengsi dibandingkan dengan konsep lama ruko atau rukan. Konsep ini dikenal luas di Singapura mengingat disana orang asing yang ingin mendirikan kantor relatif sulit. Banyak entrepreneur muda yang menyiasatinya dengan konsep SOHO. Benar adanya, khususnya di kota-kota besar seperti Denpasar – Bali, konsep SOHO ini akan semakin diminati para entrepreneur dan pekerja profesional.

Pasar SOHO diperkirakan lebih mengarah kepada pengusaha dan profesional muda yang baru memulai usaha dimana mereka akan mengefisiensikan ruang unitnya sebagai hunian juga. Dalam perkembangan pasar yang ada, konsep ini masih harus diuji di pasar Indonesia, mengingat saat ini belum terbentuk secara jelas minat pasar yang ada. Celah pasar SOHO tidak akan menggeser pasar ruko atau rukan yang lebih ‘kuno’, karena diperkirakan masing-masing jenis properti tersebut relatif mempunyai pasar yang berbeda. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top