Bunda & Ananda

Men Brayut: Banyak Anak Berlimpah Kasih

Dongeng Men Brayut yang dikisahkan memiliki belasan anak, dipandang aneh di era keberhasilan Keluarga Berencana (KB) sekarang ini, dengan anjuran cukup dua anak, laki dan perempuan sama saja. Tetapi, dulu ketika masyarakat bersetuju dengan pandangan banyak anak  rezeki melimpah, kisah suami-istri Pan Brayut dan Men Brayut yang digelayuti banyak anak, dipahami masyarakat sebagai suatu yang wajar dan bahkan dikagumi.

Kendati kini dongeng Men Brayut menjadi kurang populer, namun di mata seniman, cerita itu justru  menginspirasi. Tengoklah garapan seni tari dengan tajuk “Kasihku” yang disajikan dalam gelar seni Nawanatya, Jumat (2/12) di Taman Budaya Bali.

Karya tari yang berdurasi sekitar satu setengah jam itu dikoreografi dalam bingkai seni pentas kontemporer. Segenap aspek estetik tari ini melenggang lepas dari tatanan gaya dan unsur seni tradisi. Adalah Sanggar Tari Bali Lokananta Singapadu bergabung dengan Komunitas Prodi Tari ISI Denpasar, menjelajah mengejawantahkan sebuah konsep pertunjukan tari kontemporer–seni seni pentas masa kini yang sedang mencari ruang apresiasi dan eksistensi di tengah masyarakat kontemporer. Tari “Kasihku” mencoba menggugah perhatian masyarakat penonton Bali dengan gagasan tari kontemporer yang menarik ditonton dan sekaligus dengan muatan pesan moral yang kontekstual.

Panggung dengan dekor candi bentar permanen itu, seluruhnya ditutup kain hitam. Para pemain keluar masuk dari belahan-belahan kain. Diawali dengan penampilan sepasang penari laki dan perempuan dengan latar musik melodi sayup-sayup romantis. Adegan pembuka ini terasa ceria, bergairah, suka cita dan mesra dalam nuansa ekspresi optimistik kedua penari lewat menguasaan ruang dan mengungkapan simbol-simbol gerak, pose, dan gestur. Bagian ini, ditutup dengan simbol kehamilan si wanita melalui penegasan kedua pemain mengelus cikal, sebutir tunas buah kelapa. Kecemasan merona pada raut wajah sepasang remaja yang dimabuk cinta asmara itu.

Tampak penonton dapat menangkap prolog garapan tari “Kasihku” itu. Kemudian, dari seluruh sudut panggung menguak delapan anak-anak laki perempuan dari belahan-belahan kain hitam. Bercawat dan berkaos putih, mereka bertingkah polah menggelikan. Ada yang merangkak mondar mandir, merengek berguling-guling, meloncat-loncat tak karuan kesana kemari dan ada pula yang cengar-cengir senyum sana senyum sini. Semuanya menggambarkan betapa semerawutnya kehidupan keluarga besar Pan dan Men Brayut yang tampak sangat repot mengurus dan melayani anak-anaknya di tengah kemiskinan nestapa hidup yang menderanya.  Kendati demikian, Men Brayut tak ada henti, secara sambung menyambung melahirkan dan melahirkan anak.

Membesarkan belasan anak dari bayi yang masih menyusui hingga yang sudah menginjak remaja yang dilakoni Pan dan Men Brayut dalam garapan tari kontemporer ini digulirkan secara naratif lewat ungkapan visual laku yang imajinatif. Setelah bagian pengasuhan anak-anak Men Brayut usia bocah, disambung dengan adegan usia kanak-kanak hingga remaja. Tampak dimunculkan konflik diantara anak-anak Pan dan Men Brayut itu. Melalui format estetika tari yang berdinamika rampak, pecah, bergelut, bersatu, dan mengalir, dihadirkan ego-ego yang bertumbuh pada diri setiap  anak manusia.  Pan dan Men Brayut tetap tabah mengasuh, membesarkan belasan anak-anaknya dengan kasih sayang nan tulus, sehingga ketika semuanya sudah dewasa menjadi sumber insani yang berguna bagi dirinya sendiri maupun di tengah masyarakat.

Siratan pesan moral dari garapan tari “Kasihku” ini adalah bakti kepada orangtua yang melahirkan, mengasuh, dan membesarkan kita. Pesan ini digambarkan dalam adegan terakhir. Bagaimana Pan dan Men Brayut yang telah renta mensyukuri bakti semua anak-anaknya. Kasih yang ditumpahkan Pan dan Men Brayut kepada anak-anaknya dibalas kasih tulus yang setimpal dari seluruh buah hatinya. Pesan ini, sungguh sebuah cerita kehidupan yang ideal dan mulia namun tidak jarang dalam kenyataannya di tengah masyarakat masa kini bahwasannya tidak sedikit anak manusia berprilaku durhaka terhadap orangtua sendiri. Tampak, “Kasihku” ingin mengingatkan kita semua agar memposisikan ibu-bapak dengan penuh rasa hormat.

Rasa hormat rupanya patut diterima oleh Pan dan Men Brayut. Sebab setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, suami istri ini menyerahkan geliat zaman membentuk jalan hidup anaknya masing-masing. Ada kesejajaran kearifan pengasuhan anak ala Pan dan Men Brayut dengan pemikiran penyair  Kahlil Gibran, “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu, mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri, mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu, meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu”. Kandungan pesan puisi itu bahwa, hubungan antara orangtua dan anak hanya memberikan arahan dan bimbingan tetapi bukan memaksakan keinginan dan pemikirannya. Secara insplisit, tari “Kasihku” mengkomunikasikan pesan itu.

Bertindak selaku koreografer, Ida Ayu Made Dwita Sugiantini, S.Sn, dibawah binaan I Wayan Sutirtha, S.Sn., M.Sn, dosen ISI Denpasar yang juga ketua Sanggar Tari Lokananta Singapadu. Didukung oleh 30 orang pemain usia lima hingga belasan tahun yang semuanya sedang dalam proses pembelajaran tari Bali, garapan seni pertunjukan “Kasihku”, hadir memikat dalam ujaran tema manusiawi yang memancarkan pesan hidup berbinar maknawi.

Kadek Suartaya

To Top