Sudut Pandang

Berbagi Ilmu sesuai Pengalaman

Made Nyiri Yasa
made-nyiri-yasa2

Made Nyiri Yasa

Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Namun, apalah arti pengalaman baik maupun yang buruk jika setiap orang tidak mampu mengambil hikmahnya. Pengalaman  buruk akan menjadi baik jika seseorang tidak mengulangi kesalahan yang sama pada pengalaman tersebut. Begitu sebaliknya, pengalaman baik akan berfaedah jika seseorang dapat membagi pengalaman tersebut.

Made Nyiri Yasa, S.Sos M.MA, Kepala Badan Kerjasama Lembaga Perkreditan Desa Kabupaten Buleleng menceritakan pengalaman yang dimiliki kepada orang lain adalah salah satu bentuk berbagi kepada sesama. Pengalaman buruk maupun pengalaman baik sama-sama penting untuk dibagikan. Pria yang selama 28 tahun menjabat sebagai Kepala LPD Desa Ambengan Kecamatan Sukasada Buleleng ini menambahkan tidak semua pengalaman yang ia bagikan perlu dicontoh dan diterapkan oleh tiap orang. “Ya pengalaman yang saya bagi tentu terkait dengan pengalaman organisasi di LPD, sehingga pengalaman yang buruk bisa dipelajari lagi dan pengalaman yang baik mungkin bisa dicontoh oleh masyarakat,” paparnya.

Dosen luar biasa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Panji Sakti Singaraja tersebut mengungkapkan hal penting yang perlu diperhatikan dalam berbagai pengalaman adalah kejujuran. Sebagai orang yang telah lama berkecimpung di lembaga perkreditan, kejujuran dan disiplin adalah dua modal utama yang harus dipegang teguh. “Tanpa kedua hal tersebut bagaimana orang bisa percaya dengan kita?” tegasnya. Pengalaman yang paling sering ia bagi dengan rekan-rekan sesama pengurus LPD lainnya adalah cara mengelola lembaga. Profesionalitas perlu dijaga antar kepala LPD dan pengurusnya, sehingga ketika menemui suatu masalah dapat diselesaikan secara musyawarah mufakat. “Sebagai kepala seharus bisa bertanggungjawab jangan ada masalah malah lari tetapi cari solusi,” jelasnya.

Berbagi pengalaman menurut pria kelahiran 13 Mei 1963 tersebut bukanlah hal yang merugikan. Justru dengan berbagi pengalaman dirinya dapat bertukar pikiran (sharing) ide-ide yang dapat dikembangkan dalam keorganisasian. “Dengan berbagai cerita pengalaman orang lain bisa menerapkan teori kita begitu juga sebaliknya,” tandasnya.

Selain pengalaman, berbagi yang ia lakukan melalui LPD adalah berbagai dalam bentuk materi. Sesuai peraturan 20% dana dari laba LPD digunakan sebagai dana pembangunan desa adat baik fisik maupun nonfisik sedangkan 5% digunakan sebagai dana sosial yang dikelola oleh pengurus LPD dengan persetujuan desa adat. “Kami akan tuangkan dalam rencana kerja yang disusun tiap tahunnya. Biasanya digunakan untuk sosial keagamaan, pendidikan dan kegiatan yang mendukung perkembangan LPD ke depan,” pungkasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top