Sudut Pandang

Berbagi untuk Kehidupan yang lebih Baik

nova elisa dan yuni shara

Sejumlah artis saat ini tengah sibuk menggalang bantuan untuk korban gempa bumi yang terjadi di Aceh, Rabu (7/12). Di antaranya adalah Tompi dan Nova Eliza yang memang berasal dari bumi ‘Serambi Mekkah’  itu. Apalagi Nova yang bukan saja berasal dari Aceh tapi keluarga besarnya ada yang menjadi korban gempa. Menurut Nova, sebagian keluarganya ada di Pidie sedang ibu saudara lainnya  di Banda Aceh.

“Begitu tahu ada gempa, aku sempat telepon mama tapi teleponnya mati. Aku telepon keponakan, juga mati. Aku benar-benar panik karena tidak bisa menghubungi mereka. Untungnya kakak rupanya sempat menelepon mama dan nyambung. Mama cerita mereka merasakan gempa dan mereka lari ke halaman rumah. Jadi mama nggak apa-apa. Tapi ada saudaraku di Pidie kabarnya menjadi  korban  terkena reruntuhan bangunan,” ungkap Nova yang menggalang bantuan lewat medsos.

Aksi menggalang dana dan aktif dikegiatan sosial memang bukan hal yang baru bagi Nova. Sejak lama ia sudah menyukai berbagai aktivitas berbagi dengan sesama, khususnya pada kegiatan sosial terkait masalah  perempuan dan anak-anak tak mampu. Ia juga aktif memperjuangkan anti kekerasan terhadap perempuan. Melalui organisasi ‘Suara Hati’ ia aktif mengumpulkan dana bagi perempuan tak mampu korban kekerasan dengan tujuan agar para korban dapat memperoleh kehidupan lebih baik, semisal membuka usaha.

Nova mengaku sangat mensyukuri kariernya yang bagus di dunia entertainment, baik itu akting, menyanyi maupun jadi host acara. Wujud dari rasa syukur atas rezeki ia dapat adalah berbagi dengan sesama. “Jadi aktris sudah, menyanyi, host juga, sudah semua. Jadi waktunya adalah berbagi pada sesama yang memerlukan,” ujar Nova yang juga membantu anak-anak yatim dan mendirikan rumah singgah untuk korban kekerasan.

Selain Nova, artis lain yang juga peduli pada perempuan dan anak-anak adalah Yuni Shara. Penyanyi mungil ini bahkan sudah mendirikan sekolah untuk anak-anak tak mampu di kampungnya, Batu Malang, Jawa Timur, sejak beberapa tahun lalu.

“Aku suka kegiatan sosial, khususnya bidang yang terkait dengan anak-anak dan perempuan. Untuk pendidikan anak-anak tak mampu misalnya, sudah empat tahun ini aku telah membangun tempat pendidikan di kampung aku Batu Malang,” unkap perempuan yang bernama lengkap Wahyu Setyaning Budi, ini.

Dulu ada sekolah di daerahnya akan ditutup. Sebagai pemerhati pendidikan anak, dia merasa sangat sayang jika hal itu terjadi padahal ada banyak anak-anak di daerahnya membutuhkan pendidikan. “Akhirnya saya meneruskan sekolah itu, saya jalani saja. Saat memutuskan itu, saya nggak mikir nantinya bagaimana-bagaimana (biaya), ya mengalir saya. Saya percaya, Insya Allah, ada jalan Tuhan akan memberi rezeki. Jadi yang penting adalah nawaitu-nya saja, niat saya adalah membantu manusia lain,” ucap ibu dari Cavin dan Cello ini. Tuhan memang memberkati niat Yuni ini. Empat tahun berjalan, sekolahnya berkembang pesat. Dari awalnya hanya play group saja, kini sudah memiliki tiga kelas TK, juga daycare atau TPA (tempat penitipan anak). “Muridnya banyak, kami sampai kewalahan. Banyak anak ingin bersekolah di tempat saya, tapi tempat terbatas. Terpaksa saya menolak anak-anak yang ingin mendaftar.  Itulah yang sekarang saya sedang pikirkan  bagaimana pengembangan sekolah ini,” ujarnya.

Menurut Yuni, guru-guru yang mengajar di sekolahnya adalah guru-guru profesional sarjana PAUD. “Guru-guru saya adalah guru-guru berkualitas, mereka adalah sarjana-sarjana PAUD. Mereka sering saya kirim untuk studi banding pendidikan ke Jakarta, juga ke sejumlah sekolah di sana, di antaranya sekolah Kak Seto. Hasil studi banding itu diterapkan di sekolah kami. Dengan begitu pelajaran di sekolah kami sama dengan anak-anak yang ada di Jakarta,” ujar Yuni yang namanya mulai melejit di blantika musik nasional tahun 1991.

Namun demikian, kata pelantun tembang ‘Hilang Permataku’ ,ini, sampai sekarang sekolahnya belum mendapat subsidi dari pemerintah. Hal ini disebabkan lahan yang digunakan adalah lahan sewa. Karena itu, lanjut wanita kelahiran 1972 ini, saat ini dia tengah giat mengumpulkan uang untuk membeli lahan sendiri dan membangun sekolah.

Ditambahkan Yuni, semangatnya yang tinggi dalam menangani sekolah tersebut, tak lepas dari dukungan yang diberikan Cavin dan Cello. “Kedua anak saya juga keluarga sangat mendukung. Mereka kerap memberikan masukan untuk banyak hal,” kata Yuni. (dianaruntu@cybertokoh.com)

To Top