Kolom

BHINEKA TUNGGAL IKA

Sudi,  anak tetangga bertanya pada ibunya: “Pak Guru nanya, apa beda, Bhineka Tunggal Ika dengan Bhineka Tunggal Eka?”
Ibu Sudi merasa tidak ada perbedaan. “Memang dulu ditulis Eka, sekarang Ika, tapi maksudnya sama. Berbeda-beda tapi satu adanya!”
Anak itu tertawa.
“Salah!”
“Salahnya apa? Mungkin dulu salah tulis jadi eka, mestinya kan ika!”
“Kenapa?”
“Sudah diem! Orang salah tulis, kok kenapa! Ya salah tulis! Kalau kamu jalan keseleo lalu jatuh, kenapa, ya keseleo, kok repot!”
Sudi ketawa lalu mencatat. Bu Sudi penasaran, lalu nanya suaminya.
“Pak, kenapa dulu Bhineka Tunggal EKA, sekarang Bhineka Tunggal IKA?”
Pak Sudi yang sedang asyik mengikuti berita-berita Demo Damai jilid dua dan jilid tiga, asal menjawab, “Biar eka atau ika, pokoknya damai, biar  bhineka!”
“Tapi Sudi  tadi nertawain . . . .  .”
“Sudah, jangan ngurus politik, pusing! Sudah ada ahlinya! Masak saja yang cepetan,  sudah kriuk-kriuk nih!”
Bu Sudi tertawa. Pak Sudi merasa ditertawakan. Malam hari, kebetulan ia papasan jalan dengan Amat. Langsung dia rogoh pendapat orang yang dianggapnya panutan itu.
“Pak Amat, maaf, apa artinya Bhineka Tunggal Ika?”
Amat kontan menjawab, “Walau pun berbeda-beda, semua itu dalam kesatuan.”
“Kalau Bhineka Tunggak Eka?”
Amat tertegun. Lalu menatap Pak Sudi.
“Ini kuis atau apa Pak Sudi?”
Pak Sudi ketawa lalu menjelaskan masalahnya.
“Ini akibat tv sekarang kebanyakan politik, Pak Amat. Istri saya ngetes saya. Waktu saya bilang, sama saja, eee…, dia ketawa! Padahal sama saja kan? Hanya beda tipis, dulu E sekarang I. Ya, kan Pak?!”
Amat terpaksa ngajak Pak Sudi berhenti, lalu memberi kuliah.
“Memang beda tipis, hanya E dan I, tapi bedanya banyak, Pak Sudi. Sama dengan uang seratus ribu, misalnya. Sebagai kertas, lembaran uang itu kecil sekali. Untuk bungkus apa pun tak cukup. Tapi coba dibelanjakan, bisa untuk beli berkilo-kilo koran bekas yang bisa untuk membungkus keperluan belanjaan sampai sebulan. Jadi antara EKA dan IKA itu nampaknya sama tapi beda!”
Pak Sudi bingung.
“Pak Sudi! Bhineka yang jadi eka itu berarti unsur-unsurnya lebur jadi satu, tapi bhineka ika itu, unsur-unsurnya tetap utuh: suku, adat-istiadat, agama dll.  tetap berbeda-beda, tapi semuanya berada dalam kesatuan sebutan dan cita-cita: Indonesia! Memang kedengaran sama, tapi sebenarnya tak sama!”
“Jadi sama, tapi tak sama?”
“Paaaakkk!”
Terdengar suara Bu Amat memanggil. Amat terpaksa bergegas pulang.
Pak Sudi termenung. Waktu sampai di rumah, ternyata ia sudah ditunggu Sudi.
“Pak, guru nyuruh aku mewawancarai Bapak. Apa beda Bhineka Tunggal Eka dan Bhineka Tunggal Ika?”
Pak Sudi kontan menjawab: “Sama! Tapi tak sama!”
Tengah malam itu juga, pintu rumah Pak Sudi diketok. Gelagapan Sudi membuka pintu.
“Pak Amat! Ada apa, Pak?”
“Bilangin Bapak! Salah! Bukan sama, tapi tak sama! Yang betul, beda jauh! Meskipun kedengaran sama!

To Top