Sudut Pandang

Ada Kepuasan Saat Mengajar

I Ketut Lanus, S.Sn., M.Si.

“Biarkan semua berjalan apa adanya, yang penting berbuat yang positif”. Demikianlah prinsip hidup yang dipegang I Ketut Lanus, S.Sn., M.Si., seniman musik yang juga dosen IKIP PGRI Bali yang mengampu mata kuliah Dasar-dasar Musik, Tradisi Apresiasi Musik dan Penciptaan Musik ini, mengatakan ilmu yang ia miliki khususnya di bidang musik akan lebih bermanfaat dan berkembang jika dibagi. Itu pula yang menjadi alasannya menerima tawaran sebagai dosen di kampus pencetak calon guru tersebut, tanpa memikirkan nilai rupiah yang disodorkan.

“Saya mengajar di IKIP PGRI Bali, lebih ke idealisme saya sebagai seniman. Sebagai pengembangan diri dan bisa berbagai kepada adik-adik yang perkembangannya tentu berbeda dengan saya. Terutama tentang tuntutan kekinian, yang bisa saya terapkan dalam bermusik. Dengan berinteraksi  dengan mereka, saya juga jadi tahu perkembangan anak muda sekarang. Jadi, sama-sama belajar dan saling berbagi, dapat output dan input,” paparnya.

Demikian halnya dengan mahasiswa, paling tidak, saat ujian akhir mereka mampu menghasikan/menciptakan suatu karya. Karena menurutnya, seni itu harus banyak menonton, melihat dan terjun langsung bergabung dengan grup lain sebagai proses, serta diajak praktik langsung. “Di sanalah ia akan mendapatkan teori yang sudah diajarkan di kampus, yang tak bisa hanya dipelajari di bangku kuliah,” ujar Ketut Lanus.

Idealismenya sebagai seniman, ia harus membedakan dimana tempat mencari uang dimana untuk sosial. “Tempat mencari uang sudah ketemu sesuai dengan profesi saya. Tapi ternyata kepuasan tidak ada disana. Prinsip saya, buat apa belajar akademik jika hanya diketahui sendiri. Karena itu, sebelum di IKIP, saya dulu sempat juga mengajar di sekolah-sekolah umum,” imbuhnya.

Menurutnya, ilmu seni itu jangan sampai meninggalkan akar dan jangan pula mengabaikan perkembangan. Itulah konsep yang ia tawarkan dalam penciptaan karya-karya musiknya. Hal itu ia ibaratkan seperti mategenan (mengusung), jika kita bisa seimbang kiri-kanan, atas-bawah, pasti bisa, konsep keseimbangan dalam hidup.

Ketut Lanus yang mendirikan Sanggar Cahya Art tahun 1999, sebagi belajar menari dan gamelan, kini mengaku lebih fokus pada penciptaan musik. Mengemas musik tradisional dengan originalitasnya dikolaborasikan dengan musik modern. Syukurnya, hasil garapan musik yang sering disebut musik kontemporer ini diterima baik masyarakat, dan hingga kini terus berkembang. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top