Metropolitan

Pola Asuh Keluarga Pengaruhi Kasus Kekerasan terhadap Anak

Ilustrasi kekerasan anak

Kasus kekerasan terhadap anak semakin mengkhawatirkan. Bukan hanya meningkat dari sisi jumlah tapi juga pelakunya sebagian di antaranya adalah orang-orang dekat si anak. Yang lebih memprihatinkan, akhir-akhir ini muncul sejumlah kasus di mana kekerasan dilakukan oleh orangtua sehingga menyebabkan anak meninggal. Orangtua yang seharusnya menjadi pelindung anak, berbuat sebaliknya. Karena emosi dan tekanan ekonomi, membuat mereka tega menganiaya anaknya hingga tewas.

Kasus teranyar di Jabodetabek terjadi di Bogor dan Tangerang. Kasus yang cukup menyita perhatian publik ini membuat banyak pihak ikut angkat bicara menyoroti hal tersebut.

Di Kabupaten Bogor, seorang bocah 3 tahun tewas dianiaya orangtuanya. Bocah yang sedang lucu-lucunya itu meninggal dunia dengan sekujur tubuh penuh luka. Namun, luka paling fatal adalah pada kepala korban yang sudah beberapa kali dibenturkan ke tembok. Ibu korban mengaku tega menganiaya anaknya karena stres banyak utang, sedang sang ayah mengaku menganiaya karena anaknya tidak mau menurut. Sedang kasus dua bocah di Tangerang masing-masing tewas karena dianiaya ibu tirinya.

Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Erlinda mengatakan, secara keseluruhan pihaknya (KPAI) menerima laporan kekerasan terhadap anak yang terjadi di seluruh Indonesia sekitar 200 laporan per-hari, baik itu kekerasan orangtua terhadap anak, guru terhadap murid, dll. Tingginya jumlah laporan kekerasan terhadap anak ini menunjukkan belum optimalnya sistem pengawasan terhadap anak.

“Masalahnya bukan pada aturan atau sanksi yang ada. Peraturan tentang kekerasan yang ada saat ini sudah cukup. Tinggal harmonisasi dan implementasinya saja yang harus dioptimalkan. Pengawasan di tengah masyarakat juga masih lemah,” ungkap Ketua Divisi Sosialisasi KPAI ini.

Program pencegahan lewat pelayanan terpadu, menjadi penentu berjalan tidaknya pengawasan terhadap anak. “Pelayanan ini harus berjalan sampai ke tingkat paling dasar, yakni  RT, RW juga kelurahan,” katanya.

Makin memprihatinkannya kekerasan terhadap anak juga menjadi sorotan Perwakilan Unicef (United Nation Children’s Fund). Mengutip pernyataan Kepala Perwakilan Unicef di Indonesia, Gunilla Olsson, kekerasan terhadap anak adalah krisis senyap di Indonesia dan hanya akan berhenti jika kita semua—baik itu orangtua, guru, pemuka masyarakat, pemerintah— bekerja sama dan melindungi semua anak, seperti mereka adalah anak sendiri.  “Jadi ibaratnya, jika diperlukan satu desa untuk membesarkan anak maka diperlukan juga satu desa untuk melindungi anak,” kata Gunilla.

Ditambahkannya, anak yang menjadi korban kekerasan akan menderita baik secara fisik maupun psikologis untuk jangka waktu lama. “Bahkan kita tahu bahwa banyak pelaku kekerasan ternyata juga adalah korban kekerasan saat mereka masih anak-anak,” jelasnya.

Karenanya ia mengajak agar masyarakat Indonesia melawan kekerasan dan menjadi pelindung anak. “Sudah waktunya untuk menghentikan kekerasan terhadap anak. Saya pelindung anak dan saya mengajak semua orang untuk menjadi pelindung anak,” tegasnya.

Senada dengan Gunilla, Erlinda juga menyatakan bahwa tindakan kekerasan terhadap anak menjadi trauma yang mendalam bagi si anak yang terus terbawa sepanjang hidupnya. Karenanya ia mengajak agar orangtua, guru juga masyarakat agar memahami pentingnya hak dasar anak.

Khususnya orangtua, papar Erlinda, harus membangun komunikasi keluarga yang baik, berprilaku yang baik sebagai teladan terhadap anak-anaknya. Sebab, tambahnya, anak-anak rentan terpengaruh pola hidup, pola asuh dan prilaku orangtua dalam kehidupan sehari-hari.

Dia juga menambahkan, tidak selamanya masalah ekonomi menjadi pemicu timbulnya kekerasan orangtua terhadap anak. “Masalah pola asuh keluarga juga dominan menentukan terjadinya kekerasan terhadap anak. Banyak keluarga yang secara perekonomian bagus namun pola asuh dan komunikasi kurang baik, sehingga ini juga rentan terjadi kekerasan,” ungkapnya.

KONTRIBUSI MEDIA ONLINE

Tentang meningkatnya kekerasan terhadap anak juga telah dilaporkan Ketua KPAI Asrorun Niam kepada DPR beberapa waktu lalu. Menurutnya, tindak kekerasan terhadap anak mengalami peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Polri, kata Asrorum, terjadi peningkatan tindak kekerasan terhadap anak yang tadinya di tahun 2014 tercatat 382 laporan maka tahun 2015 naik menjadi 574 laporan.

Ia juga menambahkan bahwa kehadiran media sosial berbasis online ikut memberi kontribusi terhadap terjadinya tindak kekerasan terhadap anak. “Selain sebagai sarana pembelajaran, medsos juga menjadi sarana terhadinya pembunuhan dan perdagangan anak,” tegasnya.

Menurutnya, sumber utama masalah terjadinya tindak kejahatan terhadap anak adalah keluarga. Berdasarkan kajian, sumber utama masalah adalah pada keluarga. Selain itu, ia juga meminta agar aparat penegak hukum tidak menyamaratakan proses hukum terhadap semua pelaku kejahatan. Karena kerap kali, katanya, perlakukan kejahatan anak dengan orang dewasa disamakan.

“Harusnya, kalau anak sebagai pelaku, penanganannya beda dengan jika pelaku orang dewasa. Pendekatan kepada anak yang ajdi pelaku adalah dalam konteks pemulihan. Mereka harus direhabilitasi di tempat khusus,” jelasnya. (dianaruntu@cybertokoh.com)

 

To Top