Indonesia

Limbah Kayu Jadi Miniatur Kapal

Prianto dan miniatur kapalnya

Tempatnya sederhana. Tidak terlalu luas  dan bangunannya pun minimalis. tulah gambaran kecil tempat usaha pembuatan miniatur kapal yang dikelola Prianto di Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Meski lokasi keberada dalam perkampungan kecil yang jauh dari pusat keramaian kota Blitar, namun usahanya ini dikenal dimana-mana.

Tidak hanya di wilayah Blitar, tetapi lain daerah seperti Tulungagung, Kediri, Jombang, Malang, Banyuwangi, juga mengenalnya. Bahkan, di kota-kota besar seperti Yogyakarta, Denpasar, Jakarta, Surabaya, Medan, tak asing dengan usaha yang dikelola bapak satu anak ini. “Kalau pasar lokal, hampir daerah ada. Sekarang ini mulai ada satu, dua pesanan dari negara tetangga,” ungkap Prianto.

Usaha pembuatan kapal dari limbah potongan kayu jati ini, di mulai Prianto sejak satu tahun lalu. Ketika ia memutuskan berhenti sebagai salesman onderdil motor. Waktu itu, ia melihat banyak limbah potongan kayu di salah satu pembuatan mebel. Oleh Prianto, potongan kayu jati tersebut kemudian dibeli dengan harga murah.

Setiba di rumah, limbah potongan kayu jati tersebut dijemur hingga kering. Karena belum ada ide, potongan kayu tersebut ditumpuk di samping rumahnya. Seminggu kemudian, terbersit dalam benaknya ingin membuat miniatur kapal. Dengan menggunakan perkakas, gergaji, bor, jadilah miniatur kapal yang diinginkan. “Pertama kali saya buat jenis kapal feri,” cerita Prianto.

Minitur kapal penyebrangan tersebut, selanjutnya oleh Prianto di pajang di ruang tamu sebagai koleksi pribadi. Tanpa disangka, miniatur kapal buatannya ini banyak yang menyukai. Kemudian minta dbuatkan Prianto. Seiring dengan waktu, lelaki tamatan STM ini ingin mengembangkan usahanya dengan cara membuat jenis kapal lainya. Mulai dari ulai dari Dewa Ruci, Amerigo Pesi, dan lain sebagainya.

Dengan makin banyaknya jenis miniatur kapal ini, tempat usaha Prianto ini makin dikenal banyak orang. Termasuk jumlah permintaannya pun terus bertambah. Tidak hanya wilayah Blitar saja yang harus dilayani, tetapi luar daerah juga banyak yang pada ngantre. Tidak ingin kehilangan rezeki, Prianto pun akhirnya merekrut beberapa orang karyawan. “Ada 5 orang karyawan yang membantu saya. Alhamdulillah semua pesanan dapat terlayani,” paparnya.

Masing-masing miniatur kapal buatan Prianto ini, memiliki harga variatif, tergantung ukuran, tingkat kesulitan, dan lamanya pengerjaan. Harganya antara Rp 150.000 hingga Rp 750.000 per biji. Dalam satu bulan Prianto mampu menembus omzet hingga puluhan juta rupiah.  (Khoirul Abadi)

To Top