Sehat

Hipnoterapi sebagai Solusi Masalah Pikiran dan Emosi

Pemahaman masyarakat tentang hipnosis sudah makin terbuka dan berkembang, tidak semata seseorang dibuat tidur atau dijadikan bahan permainan seperti yang sering  dilihat dalam pertunjukan-pertunjukan hipnosis di televisi.  Masyarakat sudah mengenalnya sebagai hipnoterapi. Demikian diutarakan ahli hipnoterapi, Agus Wirajaya, S.E., S.Ag., CCH.

Agus Wirajaya, S.E., S.Ag., CCH.

Agus Wirajaya, S.E., S.Ag., CCH.

Ia mengatakan, beberapa tahun terakhir ini di Bali, hipnoterapi khususnya hipnoterapi klinis telah berkembang menjadi salah satu solusi alternatif dalam mengatasi masalah emosi dan  pikiran masyarakat di Bali. “Ini terjadi karena kesadaran masyarakat yang makin meningkat akan kesehatan emosi dan mentalnya. Untuk itu masyarakat sudah tidak lagi malu untuk mencari bantuan profesional guna mengatasi masalah-masalah mereka terkait emosi, pikiran, dan perilakunya,” ujar pria yang mendapatkan Certified Clinical Hypnotherapist  of Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology  ini.

Menurut Agus Wirajaya, hipnoterapi klinis adalah modalitas terapi yang telah diterima dan mendapat pengakuan dari American Psychological Association (APA) sebagai cabang ilmu psikologi di tahun 1960 dan merupakan divisi ke-30 (Society of Psychological Hypnosis) dari 56 divisi dalam APA. British Medical Association (BMA) pada tahun 1955 menerbitkan laporan, hipnosis adalah alat bantu medis yang berharga. Pada tahun 1958 American Medical Association (AMA) juga mengeluarkan pernyataan resmi hipnosis adalah modalitas terapi yang layak dan ilmiah. Sedangkan di tahun 1962 American Psychiatric Association (APA) juga mengakui hipnosis sebagai modalitas terapi yang layak untuk menangani beberapa masalah psikologis.

Barios (1970) telah melakukan survei berbagai literatur ilmiah dan membandingkan tingkat kesembuhan yang berhasil dicapai dengan modalitas terapi berbeda, yang dimuat dalam American Health Magazine, dengan temuan Psikoanalisa 38% kesembuhan setelah dilakukan 600 sesi terapi. Terapi perilaku (behavior therapy) 72% kesembuhan setelah dilakukan 22 sesi terapi. Hipnoterapi 93% kesembuhan setelah 6 sesi terapi.

Hipnoterapi menjadi efektif karena proses terapi dilakukan pada pikiran bawah sadar klien yang menyimpan berbagai program pikiran maupun emosi yang menjadi penyebab utama yang berkaitan dengan atau yang menjadi gangguan emosi, perilaku, maupun penyakit yang bersifat psikosomatis.  “Seringkali seseorang mengabaikan pikiran bawah sadarnya dan menganggap pikiran sadar yang beroperasi sejak kita bangun tidur sampai sebelum tidur sebagai pikiran kita yang utama,” ujarnya.

Padahal,  pikiran bawah sadar itu bertanggung jawab, memengaruhi dan menentukan 95% hingga 99% proses aktivitas berpikir sehingga pikiran bawah sadar ini menentukan hampir semua keputusan, tindakan, emosi, dan perilaku kita.  Misalnya saja, saat kita pergi ke rumah makan, setelah memilih makanan, sering kali saat ditanya mau minum apa kita menyebutkan es teh atau es jeruk atau air putih atau es jus apokat tanpa melihat lagi daftar menu minumannya. Setelah minuman disuguhkan, kita mengambil gelas dengan tangan kanan lalu menyorongkannya ke mulut dan semuanya dilakukan seperti tanpa berpikir. “Hal ini terjadi karena program yang telah tertanam di pikiran bawah sadar kita untuk minum minuman tersebut atau mengambil sesuatu dengan tangan kanan,” jelasnya.

Demikian pula fobia, trauma, dan penyakit psikosomatis yang terjadi pada seseorang seringkali merupakan sebuah bentuk program yang salah sehingga merugikan orang tersebut, dan ini bisa diatasi dengan hipnoterapi.

Menurut Tebbetts (1985) hipnoterapi bekerja berdasar dua prinsip penting, pertama, sebagian besar perilaku maladaptif adalah hasil dari respon penyesuaian yang tidak tepat, yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan masa kecil, yang tidak sesuai dengan situasi atau kondisi saat dewasa. Kedua, sebagian besar penyakit bersifat psikosomatis dan dipilih secara tidak sadar, sebagai upaya untuk lari dari situasi yang dianggap sebagai situasi dengan tekanan mental yang berlebih, yang disebabkan oleh emosi destruktif seperti kemarahan, kebencian, dendam, perasaan bersalah, dan takut. “Hipnoterapi sangat bisa membantu masalah yang berkaitan dengan pikiran dan emosi, namun syarat utamanya agar memberikan hasil yang efektif adalah seorang klien bersedia menjalani sesi konseling dan atau terapi atas kesadarannya sendiri bukan paksaan dari orang lain karena hipnosis baru bisa dilakukan bila klien bersedia untuk dihipnosis,” ujarnya.

Agus Wirajaya mengatakan, hipnoterapi adalah terapi bersifat komplementer yaitu melengkapi proses pengobatan yang sedang dijalankan seorang klien, bukan menggantikannya. “Seorang hipnoterapis tidak berhak menghentikan atau menghambat proses medis yang sedang dijalankan seseorang. Misalkan saja seorang yang sedang menjalani kemoterapi, maka hipnoterapi dilakukan untuk membantu masalah emosi yang mengganggu proses kemoterapinya,” ucapnya. Seorang hipnoterapis juga, tidak berhak menyarankan apalagi meresepkan obat atau sebaliknya meminta seorang klien menghentikan minum obat yang sedang diresepkan dokter, karena hipnoterapis semata hanya berurusan dengan emosi dan pikiran klien. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

 

 

To Top