Advertorial

PKK dan Dekranasda Gianyar Bersinergi: Lestarikan Budaya Melalui Lomba Peragaan Busana ke Pura

Hari itu Balai Budaya Gianyar terlihat berwarna, dipenuhi laki-laki dan perempuan yang mengenakan busana adat. Ketika di panggung muncul pasangan berbusana adat ke pura dengan penuh rasa percaya diri, tepuk tangan gemuruh pun mengiringi. Dan, di depan di antara penonton ada 3 orang dewan juri yang menilai mereka.

Acara yang dihadiri oleh Wakil Bupati Gianyar Made Mahayastra, Ketua DPRD Gianyar, anggota DPRD Gianyar serta Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Gianyar tersebut berlangsung meriah dan istimewa. Sebab, hari itu, Senin (28/11), serangkaian Peringatan Hari Ibu ke-88, di Balai Budaya tengah dilaksanakan “Lomba Peragaan Busana ke Pura Berpasangan” yang diikuti seluruh Perbekel dan Lurah se-Kabupaten Gianyar beserta pasangannya masing-masing.

Bupati Gianyar  AA Gde Agung Bharata saat membuka acara menyatakan sangat mengapresiasi acara tersebut, dengan memberikan tambahan dana untuk para pemenang  lomba. Bupati juga sempat menyatakan bangga atas kebersamaan yang terjalin. Menurutnya, kesuksesan seorang perbekel di masyarakat tidak bisa dilepaskan dari peran istri. Terlebih istri perbekel/lurah merupakan Ketua TP PKK di desa/kelurahan. Bupati juga menyebutkant jika acara tersebut baru ada satu-satunya di Indonesa.

Sedangkan Ny. Dayu Surya Adnyani Mahayastra, Ketua TP PKK dan Ketua Dekranasda Kota Gianyar selaku penyelenggara dengan bangga dan bahagia mengatakan acara berjalan lancar. “Bahwa sinergi Dekranasda dengan PKK ini sesuai pula dengan program kerja kami. Jika di PKK adanya di Pokja 3 yakni terkait sandang. Lomba ini bertujuan pertama turut melestarikan budaya , khususnya busana adat Bali. Kemudian memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang etika berbusana ke pura secara baik dan benar. Mengingat juga para Perbekel dan Lurah adalah pimpinan dan publik figur, yang akan menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya. Mereka mesti dapat memberikan contoh di lingkungannya bagaimana sebenarnya busana ke pura yang sesuai dengan etika berbusana dan agama Hindu,” papar istri Wakil Bupati Gianyar ini.

Apalagi, lanjutnya para Perbekel dan Lurah, sehari-harinya disibukkan dengan tugas pemerintahan, di acara ini mereka bisa menjalin kebersamaan sekaligus tampil bersama pasangannya sebagai model memperagakan busana adat ke pura, Dengan diadakannya lomba kita semua juga semakin jelas mana-yang kurang tepat atau salah dalam berbusa adat ke pura. Seperti kesalahan pada bapak-bapak saat mengenakan saput, semestinya menutup ke kanan tapi dikenakannya ke kiri. Sedangkan kain perempuan nutupnya ke kiri. Jangan sampai kebiasaan yang keliru ini berlanjut.

Selanjutnya AA Ayu Ketut Agung yang juga duduk sebagai dewan juri bersama Ny.Dayu Surya Adnyani Mahayastra dan Dewa Putu Metayana,  menambahkan, bahwa perbekel dan lurah hendaknya menjadi contoh yang baik, dan masyrakat akan lebih paham. “Boleh mengikuti mode tapi jangan capes (cacat fashion),” kata  Bu Agung mengutip istilah yang sering digunakan yang sering digunakan Ketua  WHDI Bali, Ny. Bintang Pupayoga, jika mengikutu mode atau tren namun tidak pada tempatnya.

Bu Agung juga mengatakan kalau busana adat ke pura tidak harus putih dan kuning, warna apa saja bisa yang penting bersih dan sopan. “Kemudian ikuti etika yang berlaku di masyarakat sehingga acara ini benar-benar ada manfaatnya bagi kita. Untuk para ibu, gunakan pusung tagel yang merupakan lambang kedewasaan wanita Bali.  Apalagi sudah ada salon desa,” ujarnya..

Untuk bunga di rambut jangan terlalu banyak, lebih baik menggunakan bunga-bunga yang harum-harum  seperti cempaka putih -kuning, mawar dan yang lainnya. Untuk kebaya sebaiknya tidak menggunkan brokat, pilih bahan yang tidak tembus pandang. Brokat dengan segala modifikasinya dapat dikenakan untuk ke acara resepsi.

Untuk para bapak juga mesti diperhatikan bagimana menggunakan kain dan saputnya yang benar, termasuk arah nutup saputnya. “Apalagi hadiahnya yang luar biasa melebih hadiah untuk lomba tingkat nasiona,” cetus Bu Agung  sembari menyampaikan memberikan Voucver  Kursus Gratis Tata Rias untuk Juara 1 sampai harapan 3 dengan kursus sampai bisa di Salon Agung dengan harapan  setelah bisa dapat ditularkan di desanya masing-masing.

Mengenai pemenang, dikatakan oleh Dayu Surya  selain dipilih Juara I hingga harapan juga dipilih juga Juara Favorit,  Busana Terbaik, Pasangan Terbaik atau Serasi dan Make up atau Tata Rias terbaik. Khusus untuk tata rias yang di sini yang dinilai adalah salon desa yang merias peserta. Sebab para peserta lomba wajib tata riasnya ditangani oleh salon desa di wilayah masing-masing.

Setelah melewati proses penjurian yang tidak mudah, akhirnya terpilih sebagai juara pertama pasangan Lurah Bitera Kec. Gianyar, Juara Kedua Lurah Beng Kec. Gianyar, Juara ketiga Perbekel Desa Melinggih Kec. Payangan. Masing-masing meperoleh hadiah  Juara I yang berhak mendapat Rp 15 juta, Jura II Rp10 juta dan Juara III Rp 5 juta. Selanjutnya Juara Harapan I Pejeng Kangin, Tampak Siring ; Harapan II Sebatu  Tegalalang;  dan Harapan ke III Singapadu, Sukawati.

Juara Favorit Perbekel Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Juara Busana Terbaik diraih Lurah Gianyar, Juara Pasangan Terbaik diraih Perbekel Desa Sukawati, Juara Best Catwalk diraih Lurah Ubud dan yang berhasil meraih  kategori make up terbaik adalah Salon Desa Bresela, Kecamatan Payangan. – ard

To Top