Nine

Melewati Ujian tanpa Masalah

bersama ibundanya, Hj. Siti Rauhun Zaenuddin Abdul Majid

Menjalani karier dalam lingkungan yang sangat berbeda membuat Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah matang dengan pengalaman. Pernah menggeluti berbagai profesi, dari hiruk pikuk dunia politik sampai kini berlabuh di dunia pendidikan, membuat Rektor Universitas Hamzanwadi Lombok Timur ini, terbilang sebagai sosok perempuan yang beruntung. Masa-masa menjalani karier dilewatinya dengan begitu berwarna.

Dari tiga profesi yang pernah dijalaninya itu, ia jatuh hati ‘setengah mati’ pada dunia pendidikan. Ia  mulai fokus memimpin STKIP Hamzanwadi sejak tahun 2012 yang kemudian beralih status menjadi Universitas Hamzanwadi pada September 2016 lalu. Tetapi, ketika ia jatuh hati pada dunia pendidikan, Rohmi selalu merindukan dunia profesional dan politik yang pernah digelutinya. Karena dua bidang itu telah mengajarkannya begitu banyak hal dalam perjalanan hidupnya.

Tidak banyak perempuan yang memiliki kesempatan menggeluti tiga profesi yang sangat berbeda itu. Rohmi menikmatinya dengan suka dan duka yang menjadi bagian dari catatan hidupnya hari ini. Tentu saja, ada senyum, ada tawa, ada galau, ada gelisah juga ada kesedihan yang mengaduk-aduk emosinya saat menjalani semua itu. Bagi Rohmi, di sanalah hidup yang sesungguhnya diuji dan ia membuktikan bahwa ia mampu melewati semua itu dengan tanpa meninggalkan masalah.

Rohmi menggeluti dunia profesional ketika ia bekerja di PT Newmont Nusa Tenggara dengan jabatan General Foreman selama hampir sepuluh tahun (2000-2009).  Di sana Rohmi belajar dan mendapat pengalaman tentang kedispilinan, komitmen, konsistensi dan menjadi profesional. Segala sesuatu yang sudah ditargetkan harus terlaksana sesuai dengan komitmen yang dibangun dengan dasar kedisplinan. Sesungguhnya bagi Rohmi tidaklah sulit menjalani disiplin ala perusahaan asing seperti itu, karena sejak kecil ia telah dididik dengan kedisiplinan yang luar biasa dari sang ayah,HM. Djalaluddin. Rohmi enjoy menjalaninya. Peralihan profesi dari profesional ke dunia politik, rupanya punya cerita sendiri bagi Rohmi.

Secara jujur Rohmi mengakui bahwa ketika akhirnya ia terjun di dunia politik tahun 2009, di permulaan kisahnya ia sempat shock. Sangat wajar jika Rohmi mengungkapkan hal itu. Lingkungan profesional yang lebih dari 10 tahun ia jalani (sebelum di Newmot Nusa Tenggara), Rohmi juga pernah bekerja di perusahaan swasta lain), sangatlah berbeda dengan arena yang baru dimasukinya yakni politik. Di mana politik bicara tentang kepentingan, terutama kepentingan partai, kepentingan masyarakat, kepentingan konstituen dan konteksnya tetaplah kepentingan.

Kisahnya beralih dari dunia profesional ke dunia politik rupanya menarik untuk disimak. Di mana ibundanya, Hj. Siti Rauhun Zaenuddin Abdul Majid, berperan besar dalam perjalanan Rohmi ketika menjatuhkan pilihannya pada dunia politik. Sang Bunda yang merupakan putri pertama dari Almaghfurlah Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zaenuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat, Nahdlatul Wathan ini, adalah sosok yang sangat dikagumi Rohmi.

Begitu banyak teladan yang dicontohkan oleh ibundanya tentang bagaimana menjalani kehidupan ini harus dalam “kesadaran” yang tetap terjaga dengan baik. Ummi Rauhun juga yang selalu mengingatkan untuk mengejar barokah dalam hidup ini. “Berdoalah untuk mendapatkan ilmu dan rezeki yang barokah pula. Karena ilmu tidak ada artinya jika tidak bermanfaat bagi orang banyak dan rezeki tidak ada artinya jika tidak bermanfaat dunia dan akhirat,” ujarnya. Dengan bekal dari Umminya itulah, Rohmi merasa dapat melalui perpindahan profesi dari seorang profesional yang telah memiliki pekerjaan yang mapan ke dunia politik lalu kini bergelut dengan dunia pendidikan.

Sebelum akhirnya benar-benar memutuskan untuk meninggalkan dunia profesional kemudian beralih ke dunia politik, ibundanya sudah mulai mewacanakan hal tersebut. Hampir setahun lamanya Rohmi menjalani proses untuk mengambil keputusan tersebut. Penyampaian wacana yang dilakukan ibundanya membuat ia terkagum-kagum. Menurutnya, cara penyampaian wacana tersebut dilakukan ibundanya dengan sangat halus dan jauh dari kata memaksa. Di matanya ibundanya sukses membimbing dan mengarahkannya dengan menyerahkan seluruh perjalanan masa-masa ia memilih dengan begitu cerdas. “Ketika saya akhirnya memilih, maka pilihan itu saya rasakan benar-benar datang dari kesadaran saya sendiri atas bimbingan Ummi itu,” ujarnya.

Rohmi bahkan seperti merasakan pilihan itu mengalir begitu saja, datang dari hati kecilnya yang paling jujur. Ya, ini pilihan yang ia putuskan sendiri. Di balik pilihan itulah, kuliah-kuliah Umminya sangat berpengaruh baginya. “Saya dapat kuliah ber-SKS-SKS tentang masalah keberkahan dari Ummi,” ujarnya tertawa.

Bisa dibayangkan, saat bekerja di perusahaan asing itu, Rohmi jelas mendapatkan penghasilan secara finasial yang begitu mapan dengan jabatan yang mapan pula. Lalu kemudian dengan serta merta ia keluar dan beralih pada dunia yang harus ia mulai dari nol kembali dan belum tentu menawarkannya nilai materi seperti halnya di perusahaan tersebut. Apalagi dengan jabatan yang tinggi. Awalnya, Rohmi sempat merasa galau. Nasehat-nasehat Umminya membuat ia menyadari bahwa rezeki itu bukanlah matematika.

Umminya meyakinkan benar akan hal ini. “Ummi selalu bilang bahwa keberkahan itu tidak tergantung dari banyaknya uang. Rezeki itu bukanlah hitungan matematika. Ummi meminta saya mempertimbangkan hal itu dengan dasar saya harus melanjutkan perjuangan kakek saya,” ujarnya. Rohmi sadar dengan sendirinya bahwa sebagai cucu tertua dari Almaghfurlah Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zaenuddin Abdul Majid, ia harus dapat melanjutkan perjuangan, tokoh agama dan tokoh pendidikan tersebut. Lewat jalur legislatiflah salah satu cara yang lebih dekat dengan perjuangan sang kakek. Ia kemudian mantap untuk memilih politik sebagai jalan perjuangannya. Rohmi lalu meninggalkan pekerjaan lamanya yang cenderung membuatnya lebih banyak memikirkan diri sendiri, kemudian beralih dengan lapang dada, ikhlas pada lahan perjuangan baru yang lebih luas bagi umat dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD),  Lombok Timur.

BELAJAR DARI ADIK

Saat berada dalam kawah politik itu, Rohmi terpilih menjadi Ketua DPRD. Di sinilah peristiwa-peristiwa ‘mengejutkan’ banyak dialaminya, dimana Rohmi tidak mungkin memakai cara dari pengalamannya di dunia profesional karena posisinya sebagai Ketua DPRD itu hanyalah menjalankan tugas sebagai fasilitator bagi seluruh anggota yang mewakili konstituen masing-masing. Ia harus bisa menjadi fasilitator dengan anggota yang membawa kepentingannya masing-masing. Namun begitu, pengalamannya memimpin di dunia profesional, setidaknya pada hal-hal yang bersifat prinsip bisa diterapkannya.

Dalam kekagetan-kekagetannya menghadapi dunia politik, Rohmi mengaku beruntung dan bersyukur memiliki seorang adik yang sudah jauh lebih panjang perjalanannya di dunia politik, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, yang saat ini menjadi Gubernur NTB. Lebih beruntung lagi karena Rohmi adalah tipe yang mau belajar dari siapapun tanpa mengenal usia. Sekalipun Majdi adalah adiknya, ia merasa bahwa adiknya adiknya yang pernah menjadi anggota DPR RI dan menjalani amanah tugas sebagai Gubernur NTB dua periode itu jauh lebih paham dan berpengalaman dari dirinya dalam dunia politik. Jadilah adiknya itu sebagai tempat curhat politiknya.

Tiap kali mendapati peristiwa yang ‘mengejutkan’ ia bisa langsung berdiskusi dan meminta nasehat politik pada adiknya itu. Menurut Rohmi, penyampaian adiknya yang kerap bercanda kala menenangkan dan menasehatinya selalu membuatnya menemukan jalan keluar yang tepat. “Tenang… tenang…. Itu belum apa-apa. Maklumlah, namanya juga pemain pemula. Pegang dan amankan prinsip itu dan yakinkan apa yang ada depan mata sesuai dengan prinsip tersebut tentang apa yang sedang kita perjuangkan,” kata Rohmi mengulang kelakar dan nasehat adiknya.

Inilah yang membuat Rohmi kemudian terbiasa dengan intrik-intrik politik dan bisa menikmati dunia yang menawarkannya medan perjuangan bagi umat ini. Rohmi belajar berkompromi dengan keadaan. Saat menjadi Ketua DPRD ia sempat membuat peraturan no smoking di ruang rapat. “Namun peraturan tersebut implementasinya menjadi no smoking kalau ada Ibu Ketua,” ujarnya tertawa memaklumi situasi itu dengan penuh kompromi. Rohmi menikmati setiap peristiwa yang sudah dilewatinya. Namun pada hal-hal yang bersifat prinsip yang menjadi tanggung jawabnya, Rohmi bertindak tegas.

Kompromi pada tempatnya membuat Rohmi mampu menjaga kekompakan dalam institusi ini hingga akhir masa jabatannya sebagai Ketua DPRD Lombok Timur 2009-2013. “Walaupun DPRD itu lembaga politik tapi alhamdulillah selama berada dalam institusi tersebut kami semua kompak berfikir yang terbaik untuk Lombok Timur,” katanya Rohmi yang kini menjatuhkan pilihan hatinya pada dunia pendidikan.(naniek.itaufan@cybertokoh.com)

To Top