Inspirasi

Almeyda Nayara Alzier: Entrepreneur Cilik  Jagoan Slime

Naya bersama Abien, kakaknya dan Imelda Liana Sari, ibunya

Cerita tentang pengusaha sukses pasti sudah banyak orang mendengarnya, tapi bagaimana dengan pengusaha cilik, usia 9 tahun tapi sudah  mampu mendapatkan penghasilan puluhan juta per bulan dari hasil karyanya. Hal ini mungkin jarang terdengar. Itulah Almeyda Nayara Alzier, bocah cantik kelas empat SD yang lewat karyanya, ‘slime’,  bukan saja sukses berbisnis tapi juga memberi lapangan pekerjaan pada orang lain.

‘Slime’ adalah semacam gumpalan yang lembut, kenyal, dan bisa dibentuk jadi berbagai macam sesuai keinginan. Saat ini ‘slime’ yang juga bisa dipakai sebagai alat untuk membersihkan celah-celah yang kotor yang sulit dijangkau, tengah ngetren di kalangan anak-anak dan remaja sebagai permainan. Dengan bermain ‘slime’, anak-anak akan terangsang otaknya untuk berpikir kreatif,  membentuk gumpalan kenyal itu menjadi berbagai macam benda.

inspirasi-2Nah, aneka ‘slime’ itu lah yang diproduksi Naya, begitu panggilan akrab bocah ini, yang  kemudian dijualnya lewat instagram. “Untuk membuat ‘slime’ tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 3-5 menit,” ucap bocah yang belakangan wajahnya kerap muncul di berbagai televisi nasional untuk berbagi  pengalaman sebagai entrepreneur cilik. Seperti kala itu ia bersama ibunya Imelda Liana Sari berada di sebuah studio di bilangan Kebon Jeruk , Jakarta Barat.

Perkenalannya dengan ‘slime’ , kata Naya, awalnya karena melihat kakak kelasnya membawa cup‘slime’ dan memainkannya. Ia pun merasa tertarik karena ‘slime’ itu bisa dibentuk jadi berbagai macam benda. “Lalu aku bertanya kepada kakak kelas aku, itu apa namanya. Dia menjawab ini ‘slime’,” ungkap bocah kelahiran 18 April 2007 ini.

Rupanya Naya menjadi sangat penasaran, dan ia pun mencari-cari informasi tentang ‘slime’. “Trus aku searching di youtube cara membuat ‘slime’ dan akhirnya ketemu banyak (tutorial) salah satunya adalah slime dari Thailand,” ucapnya. Sang ibu, Imelda Liana Sari menambahkan, Naya mulai bereksperimen membuat ‘slime’ sekitar setahun lalu.

“Waktu itu ia minta uang ke saya Rp50 ribu untuk membeli bahan-bahan. Ketika saya tanya, dia bilang akan membeli bahan-bahan untuk berkreasi membuat mainan baru. Awalnya saya kasih (uang) terus. Tapi kok lama-lama—saya merasa seperti membuang-buang uang karena bahan-bahan ‘slime’ jadi bertaburan di mana-mana, seperti di lantai juga nempel di jilbab sekolahnya. Saya tanya ini apa, dia bilang ini ‘slime’, mama. Saya kan, nggak tahu ‘slime’ itu apa. Lalu Naya menjelaskan,” tutur  ibu cantik ini.

Sebenarnya, tutur Imelda, ia juga sempat menegur Naya karena berantakannya bahan-bahan ‘slime’ itu diberbagai tempat. Namun Naya rupanya terus berusaha agar ia berhasil membuat ‘slime’. Sampai-sampai dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di kamar mandi. Meski diam-diam, kata Imelda, dia tahu apa yang dilakukan Naya. Dari sana, katanya, ia juga melihat anaknya punya tekad kuat dan ulet dalam berusaha. Sampai akhirnya Naya berhasil dalam eksperimennya dan dia pun menunjukkannya pada sang ibu.

PROGRAM ENTREPRENEUR DI SEKOLAH

Kebetulan, lanjut Imelda, di sekolah anaknya ada event ‘Entrepreneur’ yang digelar sebulan sekali. Di ajang tersebut para siswa dapat menjual berbagai produk kreasinya. “Nah Naya ingin menjual sesuatu yang berbeda dari teman-temannya maka dia pun membawa ‘slime’ karyanya untuk dijual dalam ajang “Entrepreneur’ itu,” kata Imelda.

Ternyata jualan Naya mendapat sambutan hangat dari teman-temannya. Dagangannya pun laris manis. “Waktu pertama kali aku menjualnya dengan harga Rp3000 per cup,” kata Naya. Ditambahkan Imelda, meski Naya sudah bisa membuat ‘slime’ bahkan menjualnya, namun dia belum puas. Ia terus mencari cara agar dapat menghasilkan ‘slime’ berkualitas baik.

“Di awal-awal itu, dia kerap gagal dalam eksperimennya. Karena kesal dan putus asal dia sampai sempat mogok tidak mau berjualan lagi (di event entrepreneur’ sekolah),” tambah Imelda. “Tapi aku ingat teman-teman banyak yang pesan, jadi aku kembali membuat ‘slime’,” kata Naya yang kini telah mempekerjakan delapan karyawan untuk membantu bisnisnya.

Terkait dengan kefasihan Naya berselancar di internet, Imelda mengatakan, dirinya sebagai orangtua sangat membatasi anaknya memegang (bermain) gadget. Naya hanya mempunyai kesempatan memegang gadget dua jam sehari, sedang Sabtu dan Minggu, ia baru bisa memegang gadget seharian.

Namun biasanya Naya tidak mempergunakan gadget untuk bermain. Biasanya dia menggunakannya untuk browsing mencari-cari informasi, juga untuk melihat perkembangan toko onlinenya atau membalas komentar-komentar yang masuk. “Jadi kalau saya lihat lebih kepada penggunaan internet sehat ya. Naya browsing internet, youtube dsb itu untuk ‘mengambil’ ilmu di sana,” jelasnya.

Setelah banyak permintaan ‘slime’ buatan Naya, yang konon tidak mudah cair seperti slime yang biasa dibeli dipasaran, Naya pun semakin giat berproduksi. Meski begitu aku Naya, tidak setiap hari ia membuatnya karena ia harus membagi waktunya antara bermain, berkarya (slime) dan belajar. “Aku sih biasanya membuatnya pada Sabtu dan Minggu doang, jadi nggak ganggu sekolah. Tapi kalau aku bosan, ya aku main saja,” tambah Naya yang bercita-cita menjadi desainer dan dokter.

AWALNYA TAK BOLEH BISNIS

Tentang bisnis, menurut Imelda, sebenarnya pada awalnya dia menolak Naya memperluas bisnisnya, dalam pengertian bukan sekadar berjualan di sekolah. “Karena saya nggak mau masa anak-anaknya hilang karena sibuk mikirin bisnis, omzet dan sebagainya. Tapi Naya dan kakaknya mendesak, jadi saya berdiskusi dengan ayahnya. Anak-anak bilang memangnya mama tidak bangga kalau anaknya bisa berkreasi. Terus ayahnya juga mendukung. Lalu saya pikir, ya apa salahnya. Hanya ayahnya berpesan agar saya selalu mengawasi. Maka jadilah Naya berjualan ‘slime’ di instagram,”  ungkap  Imelda panjang-lebar.

Menariknya, ternyata untuk membuka toko online shop, Naya dibantu oleh kakaknya, Abien,  yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari Naya. Seperti Naya, Abien juga punya ketertarikan pada internet dan mencari ilmu di sana. Di usia Abien yang masih sangat belia, dia sudah mampu memfoto produk-produknya, memberi caption, dan mengupload di instagram. “Abien juga belajar sendiri lewat internet,” tambah Imelda.

Menurut Naya, awalnya, dagangan yang dipamerkan di Olshop (toko online) tidak langsung laku. Ia harus menunggu berminggu-minggu sampai akhirnya ada yang membeli. Bisa jadi awalnya karena getok-tular, makin lama pembeli makin banyak. Kalau dulunya follower instagram Naya hanya 12 orang kemudian dengan cepat melejit dan kini sudah mencapai 144.000 orang.

Boleh dibilang jualan ‘slime’ Naya laris manis, pembelinya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua dan Batam. Dagangan Naya semakin laris, juga, karena pihak managementnya, rajin melakukan pameran ke berbagai kota  untuk memperkenalkan produknya.

Imelda juga menambahkan, meski penghasilan Naya cukup lumayan, namun anaknya selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu kalangan tidak mampu. Hal itu, kata Imelda, telah dilakukan Naya sejak dia mulai berjualan di sekolah.

“Jadi ketika itu ia mendapat keuntungan dari penjualan ‘slime’ di sekolah. Kemudian dia menanyakan kepada saya , apakah bisa dia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada teman-temannya yang tak mampu.”

“Saya bilang, tentu saja boleh. Saya pikir, anak seumur Naya sudah memiliki rasa kepedulian kepada sesama. Sebagai orangtua, saya merasa bangga dan mengapresiasi keinginannya untuk bersedekah dengan uangnya sendiri. Jadi saya pikir, karena keinginannya untuk membantu teman-temannya lewat penghasilan yang didapatnya, maka Alhamdulilah Olshopnya menjadi berkah dan mendapat ridho dari Allah. Dengan begitu Naya bisa lebih banyak membantu teman lainnya,” ujar Imelda.(diana.runtu@cybertokoh.com)

To Top