Kolom

AMBIL MUKA

Biasanya perusahaan mem-PHK karyawan. Tapi kali ini 5 karyawan mau mem-PHK perusahaan yang punya 250 karyawan. Caranya dengan minta berhenti secara sepihak.
Tiga sekawan berkata tegas. ” Pak Presiden Direktur, kami beda konsep  dengan Bapak, bahkan bertentangan tujuan. Bapak  ingin perusahaan berkembang jadi perusahaan  raksasa, tapi sebaliknya,  kami ingin kesejahteraan karyawanlah yang diprioritaskan. Jadi kalau ada keuntungan karyawan pertama yang menikmatinya, baru sisanya untuk mempebesar perusaan. Bukan sebaliknya!!”
Dua karyawan lainnya mengaku kecewa. “Bapak Presdir, mengapa perusahaan terlambat minta maaf karena sudah telat naikkan gaji kami, padahal perusahaan sudah setahun di belakang maju pesat! Coba kalau cepat minta maaf kami akan mengerti. Sekarang kami sudah terlalu kecewa. Kami resign!”
Presdir cepat menego tiga sekawan. “Jangan resign, perusahaan memerlukan oposisi seperti kalian,  agar langkah tetap terjaga kritis.”. Tetapi kepada dua sekawan, Presdir berkata singkat: “Terimakasih, silakan mundur!”
Tiga sekawan kembali bekerja. Malah diharapkan duduk di Dewan Karyawan memberikan saran-saran, tetapi lewat mekanisme dan prosedur yang sudah ada aturannya. Serta menjunjung azas demokrasi tunduk kepada aturan yang ada.
Sementara dua karyawan yang diizinkan berhenti, menikmati uang pesangonnya selama 3 bulan. Tapi masuk ke bulan keempat mereka mulai kelimpungan. Melamar ke sana ke mari ditolak.
Akhirnya mereka datang ke rumah Amat. Tentu saja Amat terkejut, karena tak kenal.
“Bapak tidak kenal kami, tapi kami kenal Bapak. Bapak adalah Pak Amat, teman sekolah Pak Ngurah Budi, mantan Presdir kami. Beliau sering menyebut-nyebut nama Bapak kalau memberikan kami pengarahan. Bapak dipuji sebagai orang jujur, berdedikasi tinggi, punya komitmen tangguh, sederhana, bersih jujur dan mensyukuri karuniaNya. Karena itu hidup Bapak tenang dan panjang umur. Tidak banyak orang seperti Bapak!!”
Amat tidak membantah. Ia mendengarkan saja kedua orang itu mengamuknya dengan pujian. Entah siapa sebenarnya yang dia mau puji. Sambil menduga-duga apa mau kedua orang itu, Amat hanya manggut-manggut.
Setelah setengah jam cerita ke sana-ke mari akhirnya mereka buka kartu.
“Pak Amat, kami heran, Pak Amat, mengapa ketiga kawan kami yang mengecam keras dan beda konsep dengan Bos kok ditarik masuk? Kami yang hanya menuntut dia minta maaf malah dipecat? Apa dasar logikanya? Di mana letak keadilannya? Padahal kita ini kan berdasarkan musyawarah dalam mufakat dan berkeadilan sosial untuk seluruh rakyat. Jadi kami merasa diperlakukan tidak adil. Bagaimana pendapat pak Amat? Padahal kritik kami kan positif sekali. Kami membela karyawan seluruhnya dengan mengorbankan kepentingan kami sendiri. Apa yang kami tuntut itu kan bukan uang yang bisa merugikan perusahaan. Seharusnya dia kan mesti berterima kasih kepada kami, karena kalau saja mau minta maaf, seluruh karyawan akan terpanggil rasa memilikinya pada perusahaan dan saya yakin kinerja mereka akan tambah bagus. Jadi akhirnya perusahaan juga yang akan diuntungkan. Kan begitu, Pak Amat? Bagaimana pendapat Pak Amat. Memecat kami itu tindakan yang keliru! Dari mana-mana saya dapat empati yang mendukung tindakan kami. Tolong sampaikan ini kepada beliau, supaya beliau bisa melihat persoalan yang sebenarnya. Kalau tidak, saya takut nanti ada gerakan yang mengadukan tindakan yang tak adil ini ke pengadilan. Jadi saya kasihan, jangan sampai … .”
“Bapak tak mampu lagi mendengar lalu tertidur.” Kata Amat esoknya bercerita pada Ami. “Waktu Bapak bangun lagi, temannya yang satu lagi bicara. Suaranya lembut, halus. Tapi Bapak sudah kenal suara seperti itu. Itu bukan lembut asli. Sopan-santun palsu. Sayup-sayup Bapak dengar: ….  ”
“Kami seluruh karyawan ikut membina perusahaan dari nol. Mulai dari hanya uang makan harian, sampai gaji di bawah UPH minimum sampai sepuluh tahun. Bahkan waktu perusahaan sudah berkembang, upah kami terhitung paling murah. Sekarang perusahaan jadi raksasa kok tidak ada penghargaan pada karyawan yang sudah berjasa. Atas dasar itu kami bertindak memperjuangkan nasib mereka dengan mempertaruhkan karier kami .. .. .”
“Sampai di situ, Bapak tertidur lagi,” lanjut Amat. “Waktu Bapak bangun lagi ternyata mereka sudah pergi. Kata ibu kamu, mereka tidak tahu Bapak tertidur. Mereka menyangka Bapak marah.
Ami tertawa.
“Terus?”
“Kata ibu kamu, mereka lalu minta maaf. Dan sebelum pulang berjanji akan kembali ke kantor untuk minta maaf pada Presdir.”
“O,ya, kenapa?”
“Kata ibu kamu, karena melihat Bapak marah, mereka terus-terang mengaku, tindakan yang mereka lakukan itu sebenarnya bukan untuk membela nasib karyawan,  tapi mau ambil muka sama karyawan, sebab selama ini mereka dikeluarkan dari serikat karyawan karena ada kasus.”
“Terus Presdirnya bilang apa?
“Ya nggak tahu, Bapak kan tidak kenal.”

To Top