Buleleng

Hindari Unggahan Provokatif

Dr. Nyoman Jampel, M.Pd.

Revisi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang  Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE menjadi trending topic yang sampai kini masih hangat diperbincangkan. Pembaharuan UU ITE terutama pada pasal pencemaran nama baik tersebut sudah diberlakukan sejak Senin, 28/11. Revisi UU ITE bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlakuan yang adil bagi para pengguna internet.

Menurut Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja Dr. Nyoman Jampel, M.Pd., perlu kehati-hatian dalam menggunakan tekhnologi utamanya media sosial. “Kita memang mengalami percepatan kemajuan informasi yang selalu dibarengi dengan dampak positif dan negatif,” jelasnya. Akan tetapi jika setiap orang dapat menggunakan media sosial secara bijak, tentu dampak positif akan jauh sangat dirasakan.

Ia menambahkan salah satu keuntungan yang paling dirasakan adalah dalam memperoleh informasi tanpa batas. Ditegaskan pula informasi dapat disebarluaskan dengan cepat sehingga perlu ketelitian dalam mempelajari informasi tautan yang hendak dibagikan. Pria murah senyum itu mengatakan bahwa media sosial sebagai ruang publik yang tidak terbatas sehingga informasi yang dapat dilihat dari akun pribadi tidak dapat difilter. “Kalau tidak bisa difilter apapun itu bisa masuk ke akun baik yang bersifat hinaan dan provokasi, sehingga perlu sekali bijak dalam menggunakannya,” imbuhnya.

Menurutnya, dengan adanya UU ITE yang diperbaharui tersebut hendaknya tiap individu cermat sebelum mengunggah sesuatu. “Ini akan berdampak hukum sehingga jangan mengungah pernyataan yang berbau kebencian dan SARA,” ujar pria kelahiran 10 Oktober 1959 tersebut. Faktor sengaja maupun tidak kesengajaan statement yang dirasa mengundang provokasi tetap dikatakan melanggar UU ITE dan akan diproses secara hukum.

Di kampus sebagai lingkungan civitas akademika, Jampel dengan tegas menghimbau kepada dosen, staf pegawai, dan mahasiswanya untuk membatasi unggahan yang mengarah pada penghinaan dan bullying. “Kuncinya jangan membuat pernyataan yang menyinggung kehidupan pribadi seseorang,” tandasnya.

Jika revisi UU ITE mendapat kecaman karena dianggap membatasi kebebasan dalam berpendapat lain hal dengan Jampel yang melihat hal tersebut secara bijak. Menurutnya untuk dapat dikatakan merdeka dan bebas harus ada tata aturan yang menjadi pedoman. Sehingga kebebasan pribadi harus juga melihat kebebasan orang lain. “Kalau bebas tanpa adanya aturan itu namanya brutal. Begitu juga kalau kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa ada aturan maka runtuhlah Indonesia,” pungkasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top