Sehat

Waspadai Penyakit Autoimun

dr.IA. Ratih Wulansari Manuaba,SpPD-KR,M.Kes.

Saat ini makin hari makin banyak bermunculan kasus penyakit autoimun. Kalangan masyarakat awam mulai mempertanyakan kebingungannya karena cukup heran mendengar istilah penyakit autoimun.

Menurut dr.IA. Ratih Wulansari Manuaba,SpPD-KR,M.Kes, tubuh manusia memiliki sistem imun atau kita sebut sistem kekebalan tubuh. Sistem ini normalnya bekerja memiliki mekanisme sentral maupun perifir yang mampu membunuh dan membersihkan organisme patogen seperti virus, bakteri, parasit yang masuk ke dalam tubuh manusia, sehingga tidak sampai sakit. Namun adakalanya sistem ini gagal karena berbagai faktor risiko yang terjadi sehingga manusia bisa sakit.

Mengapa bisa terjadi penyakit autoimun? “Konsep terjadi autoimunitas sudah mulai dipelajari dan dipublikasi oleh Paul Ehrlich di tahun 1901 dengan mempostulasikan horror autotoxicus yaitu terjadi kerusakan sel tubuh yang normal sebagai akibat suatu mekanisme perantara reaksi imun tubuh yang salah mengenali sehingga menyerang sel tubuh sendiri (breakdown in tolerance),” ujar dokter di RS Manuaba ini.

Akibat terjadinya kerusakan struktur jaringan tubuh sendiri hasil dari reaksi imun spesifik tadi disebut sebagai penyakit autoimun (Burnet & Fenner 1949). “Dalam tubuh pasien dengan penyakit autoimun didapatkan suatu autoantibodi dalam konsentrasi tinggi yang terlibat dalam mekanisme terjadinya penyakit autoimun ini, umumnya dalam bentuk isotope IgG dg aviditas tinggi sebagai antigen dan terdapat hipermutasi somatik region V, autoantibodi ini sebagai produksi dari aktivasi sel T helper oleh sel B secara terus menerus. Jadi sesungguhnya mekanisme terjadinya penyakit autoimun pada seseorang sangat rumit dan ini telah terinisiasi sejak lama sebelum penyakit itu sendiri muncul,” kata dr. Ratih.

Ia menyatakan, penyakit autoimun banyak sekali jenisnya mulai dari yang organ spesifik atau ada yang sistemik, dan berdasarkan perbedaan dari mekanisme terjadinya penyakit. Pada mekanisme penyakit yang berakibat hilangnya fungsi jaringan target secara komplit bisa diambil contoh tiroiditis Hashimoto; diabetes mellitus tipe I, mekanisme reaksi imun yang mengakibatkan hiperstimulasi kronis & hambatan fungsi organ contohnya penyakit Graves; miastenia gravis mekanisme yang lebih rumit menimbulkan kondisi kerusakan jaringan & organ vital serentak secara sistemik  contohnya Lupus eritematosus sistemik.

Apakah penyakit autoimun ini merupakan penyakit keturunan? “Jawabannya tidak. Pasien yang terkena penyakit autoimun sesungguhnya sudah memiliki gen (30%) yang salah dibawa sejak lahir namun gen ini tidak diturunkan,” tegasnya.

Insiasi yang panjang sepanjang umurnya bisa melalui faktor lingkungan (70%) sebagai pemicu antara lain pola makan (diet) yang tidak sehat, aktivitas yang memicu kelelahan kronis dan stres berlebihan semuanya berpadu mengakibatkan meningkatnya autoimunitas & menurunnya kemampuan regulasi autoimunitas tubuh terjadilah penyakit autoimun.

Muncul pertanyaan mengapa pasien penyakit autoimun lebih banyak wanita? Faktor sex hormone memegang peranan penting sebagai pemicu terjadinya penyakit autoimun.  Telah diketahui sex hormone baik natural maupun sintetik secara langsung berinteraksi dengan sistem imun melalui reseptor permukaan maupun dalam sel. “Hormon estrogen maupun androgen mempengaruhi produksi antibodi dan proliferasi sel imun, bisa merangsang maupun menghambat sistem imun. Perempuan dikatakan memiliki respon pembentukan antibodi lebih aktif daripada pria, dan dalam perjalanan hidupnya produksi sex hormone  perempuan sangat berfluktuasi tergantung kondisinya sebagai contoh .menjelang menstruasi, saat menstruasi, periode kehamilan, periode menyusui, menjelang menopause terjadi perbedaan fluktuasi produksi sex hormone yang mengakibatkan produksi antibodi bisa lebih tinggi,” ungkapnya lebih jauh.

Apa saja gejala penyakit autoimun? Berbagai jenis penyakit autoimun diketahui di dunia ini bahkan mencapai lebih dari 150 jenis.  “Gejala penyakit autoimun tentu saja sangat beragam. Pada umumnya pasien akan mengalami gejala konstitusional seperti mudah lelah, sering pusing, badan sakit ngilu-ngilu, rambut menipis dan rontok berlebihan, muncul ruam-ruam kulit yang aneh, sendi bengkak tiba-tiba, dan lain-lain,” jelasnya.

Gejala lain, tergantung organ yang terkena misalnya didapatkan benjolan di leher, mata makin melotot, otot lemas sampai hampir lumpuh, ruam merah di pipi kanan kiri, luka keropeng pada kulit, mata merah tiba-tiba dan sangat sakit, ketombe yang berlebihan di kulit kepala dan wajah, kejang, bisa juga gejala seperti orang gila, banyak sekali gejala lainnya yang memerlukan ketelitian dan kecermatan dokter yang memeriksa pasien.

Ia menyebutkan, berbagai pilihan pengobatan bisa diberikan oleh dokter sebagai terapi terhadap pasien dengan penyakit autoimun. Penggunaan obat golongan steroid bisa menjadi dasar pengobatan untuk kemudian bisa dikombinasi dengan berbagai obat golongan imunosupresan sesuai dengan jenis penyakit. Namun, ia menegaskan,  pasien dilarang  mengonsumsi dan membeli sendiri obat-obat jenis ini karena tentu efek samping obat harus dievaluasi oleh dokter yang memberi terapi. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Terkini

To Top