Sudut Pandang

Percaya Tuhan Pasti Beri yang Terbaik

Aria Indrawati

Aria Indrawati boleh dibilang beruntung. Di negeri yang masyarakatnya masih kental perlakuan diskriminatifnya pada kalangan disabilitas, Aria yang tunanetra berhasil mencapai pendidikan tinggi bahkan lulus sebagai sarjana hukum di sebuah perguruan tinggi swasta. Untuk mencapai hasil itu bukan hal yang mudah.

Bukan karena otaknya tak mampu mencerna pelajaran di sekolah umum, tapi lebih kepada penolakan pihak sekolah untuk menerimanya sebagai murid. Untuk membuktikan dirinya mampu, Aria yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) bukan saja harus bermental baja, tapi juga belajar super keras agar mendapat nilai baik dalam semua pelajaran di sekolahnya.

Usahanya tidak sia-sia. Aria pun menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolahnya dan berhak masuk ‘kelas teladan’, yakni kelas tempat berkumpulnya siswa-siswa pintar di sekolah itu. Sejak saat itu ‘mata’  orang-orang di lingkungan sekolahnya ‘terbuka’ bahwa Aria lebih dari sekadar mampu dalam menyerap pelajaran di sekolah umum. Nilai-nilai yang didapatnya pun mampu melampaui teman lainnya, dan ia pun berhasil lulus dengan predikat terbaik kedua untuk jurusan IPS.

Di sisi lain, upaya Aria bukan hanya belajar giat tapi dia juga mengembangkan sikap bersahabat kepada semua temannya. Dia bukan pribadi yang tertutup. Karena itu, pada akhirnya sebagian besar orang di lingkungan sekolahnya bisa menerimanya dengan terbuka.

Ketika lulus SMA, Aria kembali harus menerima penolakan dari pihak universitas negeri tempatnya mendaftar dan sempat dinyatakan lulus. Ketika tahu ia tunanetra, pihak universitas pun dengan berbagai alasan, menolaknya. “Memang tidak mudah untuk tunanetra mendapat akses pendidikan, penolakan-penolakan dari sekolah-sekolah umum sudah saya rasakan semua. Jadi ketika  berhasil masuk sekolah umum, saya berupaya keras dengan belajar giat agar tidak diremehkan. Itulah pengalaman saya,” kata Aria yang sempat menjadi dosen di Universitas 17 Agustus.

Menurutnya, tidak ada orang di dunia berkeinginan atau memilih sebagai tunanetra namun ketika hal itu terjadi pada dirinya, tak mungkin ditolak. Ia pun sempat mengalami pergolakan batin yang dahsyat sebelum akhirnya bisa menerima keadaan dan bersyukur atas anugerah Tuhan. “Aku percaya, dilahirkan menjadi seorang tunanetra bukanlah sebuah ‘kebetulan’. Tapi ini adalah rencana Tuhan untukku, dan aku percaya itu pasti yang terbaik,” ucap Aria yang kini juga aktif di Yayasan Mitra Netra sebagai Kepala Humas.

Akses pendidikan untuk kalangan tunanetra, kata Aria, sampai saat ini bisa dibilang masih sangat terbatas. “Pertuni menginginkan anak-anak tunanetra di seluruh Indonesia bisa bersekolah karena sampai saat ini jika melihat data yang ada, masih banyak sekali anak tunanetra tidak dapat sekolah. Bahkan menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah keseluruhan anak disabilitas di Indonesia, termasuk tunanetra, yang bisa bersekolah hanyalah 12%,” ungkap wanita kelahiran 1965 ini.

Karenanya, tutur Aria, memperoleh kemudahan akses bagi anak-anak tunanetra untuk sekolah menjadi salah satu yang diminta Pertuni kepada pemerintah. “Jadi salah satu permintaan Pertuni kepada pemerintah daerah khususnya adalah harus membawa semua anak tunanetra ke sekolah dan untuk itu harus difasilitasi dengan fasilitas pendidikan yang memang khusus dibutuhkan anak tunanetra,” katanya.

Diakuinya, sejak UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas disahkan dan diberlakukan, perhatian pemerintah sudah mulai dirasakan. Namun, karena UU ini masih baru, jadi memang belumlah seperti yang diharapkan. Menurutnya, ada banyak hal yang diharap Pertuni segera dilakukan pemerintah selain masalah akses pendidikan.

“Layanan bank misalnya, sangat kami rasakan sekali masih terkendala. Masih ada perbedaan misalnya di bank yang sama tapi berbeda perlakuan, ada yang bisa ada yang tidak bisa. Tunanetra bisa menabung tapi tidak boleh punya ATM, dan berbagai masalah lainnya. Karena itu saat ini kami sedang mendorong  OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk membuatkan guide line tentang masalah ini,” tuturnya.

Hal yang juga terkait dalam kehidupan sehari-hari adalah transportasi. Sebagaimana diketahui transportasi merupakan hal yang sangat terkait dengan kehidupan sehari-hari, demikian halnya dengan tunanetra. Sayangnya fasilitas transportasi yang ada masih dirasakan belum ‘ramah’ terhadap penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.

Di kota- kota besar kebanyakan sudah memiliki fasilitas yang bisa memudahkan kalangan difabel. “Di Jakarta, yang saya tahu salah satunya adalah di Stasiun KA Gambir yang sudah memiliki fasilitas bantuan. Tapi bagaimana dengan kota-kota kecil, saya berharap hal ini diperhatikan. Saya berharap pemerintah harus mulai punya kesadaran untuk melaksanakan tugasnya, nggak usah menunggu masyarakat marah-marah dulu,” katanya lagi.

Hal yang tak kalah penting adalah perhatian pada akses pekerjaan, baik itu formal maupun kewirausahaan. Pemerintah, menggelontorkan banyak dana untuk UKM, diharapkan juga mengucur pada tunanetra yang menekuni kewirausahaan. (dianaruntu@cybertokoh.com)

To Top