Sudut Pandang

Gali Potensi

I Komang Sarira, S.S.

Selama ini, keberadaan penyandang disabilitas cenderung diabaikan  dalam hak-haknya. Salah satunya terkait hak hidup. Banyak yang masih memberi stigma ‘kutukan’ ataupun ‘malapetaka’ bagi mereka yang berkekurangan secara fisik maupun mental. Tak jarang, pandangan semacam ini justru datang dari keluarga dekat. Para penyandang disabilitas pun sering mengalami nasib kurang menyenangkan. Entah dikucilkan, dikirim ke panti, atau yang terburuk, dipasung.

Menurut Ketua National Paralympic Commite (NPC) Kabupaten Buleleng I Komang Sarira, S.S., keberadaan UU yang mengatur hak penyandang disabilitas diharapkan mampu memberikan kesamaan dalam bidang pendidikan dengan orang normal pada umumnya. Ia menambahkan, anak dengan kebutuhan khusus jika dilatih dengan baik maka akan mampu berprestasi sesuai dengan bakat yang dimilikinya. “Kalau mereka berprestasi ini akan menjadi motivasi untuk penyandang disabilitas yang lain dan menjadi kebanggaan bagi diri sendiri dan keluarga,” jelasnya.

Pada dasarnya penyandang disabilitas memerlukan pendidikan seperti layaknya anak normal, namun pandangan orangtua yang beranggapan bahwa pendidikan untuk disabilitas tidaklah begitu berguna, padahal sebaliknya bahwa pendidikan disabilitas sangatlah berguna untuk menggali potensi anak tersebut sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya dibalik kekurangan yang dimiliki.

Sarira menambahkan, keberadaan Sekolah Luar Biasa di Buleleng rupanya belum mampu menyadarkan betapa pentingnya pendidikan ditengah keterbatasan fisik maupun mental. Bahkan tidak jarang orangtua yang memiliki anak dengan kelainan fisik malah merasa malu dan tidak mengizinkan anaknya mengenyam pendidikan. “Bagi orangtua, untuk apa menyekolahkan anak yang memiliki keterbatasan fisik dan mental,” tambahnya. Dirinya sangat berharap kesadaran dari keluarga untuk menyekolahkan anaknya di SLB.

Menurut Binpres NPC  tingkat provinsi Bali tersebut  dengan adanya peraturan perundang-undangan yang melindungi hak-hak penyandang disabilitas, merupakan langkah progresif untuk menghilangkan stigma terhadap penyandang disabilitas. Tantangan selanjutnya adalah kesiapan sekolah untuk memfasilitasi siswa penyandang disabilitas. “Semoga pemangku kebijakan dapat memberikan perhatian khusus bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Semoga tak ada lagi diskriminasi di masa depan,” pungkasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

 

To Top