Edukasi

Monumen Jagaraga: Sarana Edukasi Pembelajaran Sejarah

Pembangunan monumen Jagaraga merupakan salah satu bentuk cara untuk menghidupkan kembali sejarah perjuangan pahlawan Buleleng. Perang terbesar dan pertama di Buleleng pernah terjadi di tahun 1847 dan 1849 yang berkaitan erat terhadap sosok Patih Jelantik dan Jero Jempiring dengan teknik perang supit urang.

Drs. Gede Komang, M.Si

Drs. Gede Komang, M.Si

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng Drs. Gede Komang, M.Si berharap monumen memberi pembelajaran penting mengenai makna filosofi perang Jagaraga. “Perang Jagaraga merupakan perang yang memberikan vibrasi dan motivasi kepada raja-raja di Buleleng untuk membakar semangat juang dan nasionalisme,” jelasnya. Dengan dibangunnya monumen Jagaraga sebagai bukti sejarah, generasi muda dapat mempelajari sejarah secara langsung. “Lokasinya persis dengan pertempuran benteng pertahanan Gusti Jelantik dan Jro Jempiring,” imbuhnya.

Ada beberapa hal mendasar yang diutamakan dalam pembangun monumen bersejarah tersebut. Pertama, tokoh Gusti Ketut Jelantik dan Jro Jempiring sebagai simbol heroik perang Puputan Jagaraga. Awalnya, hanya Gusti Jelantik yang ingin ditampilkan karena hanya Gusti Jelantik yang sudah mendapat pengakuan secara nasional. “Banyak tokoh masyarakat yang meminta untuk ditampilkan juga istri dari Patih Jelantik yaitu Jro Jempiring dengan tinggi patung sekitar 6 meter dan terbuat dari perunggu,” paparnya.

Selain pembangunan simbol heroik, akan dibangun juga gedung besar yang di dalamnya berisi diorama tentang penggambaran perang yang dipimpin oleh Patih Jelantik dan Jro Jempiring. Pengunjung  bisa melihat diorama pertama hingga terakhir penggambaran perang Jagaraga. Gedung juga akan dilengkapi perpustakaan yang akan menyediakan buku-buku  mengenai peristiwa sejarah di Buleleng.

Di bagian luar gedung akan dibangun patung-patung yang menggambarkan kekhasan masing-masing prajurit di Bali. “Prajurit Buleleng seperti apa, karakteristik dan pakaiannya seperti apa, begitu juga dengan prajurit Karangasem dan yang lain,” ujarnya. Pembangunan monumen juga akan ditunjang dengan pembangunan panggung, balai serba guna, dan taman untuk memperindah areal sekitarnya. Ia menargetkan proyek yang telah rampung 70 % tersebut dapat diselesaikan akhir Desember 2016.

Pihaknya juga mengatakan pembangunan monumen perang Jagaraga di Desa Jagaraga Kecamatan Sawan, Buleleng akan membawa multi player effect terhadap pembangunan dan ekonomi. Areal monumen bisa dimanfaatkan sebagai lokasi untuk menggelar kegiatan atau mementaskan event seni dan budaya. Langkah ini akan berdampak lebih baik lagi untuk mengangkat nama Desa Jagaraga. “Ke depan monumen Jagaraga mampu sebagai tonggak perjuangan dalam melaksanakan revolusi mental. Keberadaan monumen akan berdampak luas kepada masyarakat. Salah satunya di sekitar monumen akan digunakan sebagai lokasi rekreasi. Ekonomi masyarakat lebih terpacu meningkat berkat multi player effect,” tandasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

 

To Top