Dara

“Kambing Takutin Macan”: Simbol Perlawanan terhadap Penguasa Licik

Di Negeri Patali Nagantun, tersebutlah seorang raja yang setiap malam harus dihidangkan seorang gadis perawan. Sang Prabu Eswaryadala memerintahkan kepada patihnya agar memburu gadis-gadis itu ke seluruh pelosok kerajaan. Suatu hari, karena Patih Bandeswarya tidak lagi mendapatkan  perawan  untuk melayani birahi rajanya, terpaksa ia menghaturkan anak gadisnya sendiri. Namun putrinya, Ni Diah Tantri, bukan wanita sembarangan. Kecerdikan dan kecerdasan Tantri justru berhasil menyadarkan Prabu Eswaryadala untuk menghentikan mengumbar nafsu liarnya. Caranya adalah melalui tuturan dongeng yang sarat pesan moral.

Minggu (27/11), cerita yang banyak  dijadikan sumber lakon karya seni pentas tersebut, disajikan oleh Pasraman Prabha Budaya Denpasar, dalam gelar seni Nawanatya di Taman Budaya Bali. Bertempat di panggung Ayodya, komunitas seni yang dipimpin oleh Anak Agung Ngurah Bagus Supartama itu, menuangkannya dalam presentasi teater pakeliran dengan mengangkat lakon “Kambing Takutin Macan”. Pijakan kreatif dari garapan seni pertunjukan yang bergulir hampir dua jam ini adalah mengeksplorasi estetika seni pedalangan. Di tengah panggung dibentangkan layar putih (kelir) 3×2 meter, tempat sebagian adegan  divisualisasikan melalui media wayang dua dimensi.

Seni pertunjukan Bali yang identik dengan cerita Tantri adalah dramatari tantri. Namun, seni pentas yang pernah dikenal pada zaman kerajaan Bali itu kini sulit ditemukan keberadaannya. Pernah ada upaya untuk mendenyutkannya kembali akan tetapi tak berhasil. Belakangan, dongeng-dongeng yang dimuat dalam cerita Tantri banyak diadopsi untuk garapan seni pentas dolanan yang disajikan dalam parade gong kebyar tingkat anak-anak di arena Pesta Kesenian Bali (PKB). Sementara itu, lomba-lomba masatua (mendongeng) yang digelar untuk kalangan pelajar pun, juga pada umumnya mengangkat materi dongeng dari karya sastra Tantri.

Berbicara mengenai teater pakeliran yang mengangkat lakon bersumber dari sastra Tantri–yang sempat secara signifikan mengaktualisakan cerita Tantri– adalah Wayang Tantri. Adalah Dalang I Wayan Wija dari Banjar Babakan, Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar, yang menggarap dan mempersembahkan kepada khalayak Bali sejak tahun 1987. Secara perlahan wayang kreasi itu diterima para penonton dan hingga kini masih sering pentas di tengah masyarakat. Melalui sumber lakon dari Tantri, teater wayang kulit yang sudah dipentaskan Dalang Wija di mancanegara ini tetap anut dengan pakem estetika-dramatik wayang kulit klasik Bali. Hanya keseluruhan karakter-karakter wayangnya diciptakan baru, sesuai dengan kebutuhan lakon.

Komunitas seni Pasraman Prabha Budaya tampaknya mencoba memberikan penafsiran baru terhadap kisah Tantri yang diangkatnya. Layar yang membentang di tengah panggung dijadikan media semprotan cahaya atau gambar latar dari arah belakang, menggunakan proyektor yang dikendalikan komputer. Karakter-karakter wayang dimainkan oleh sejumlah dalang. Sebagian pengadegan berlangsung di depan layar dibawakan oleh penari dan atau aktor. Seluruh jalannya pertunjukan digarisbawahi oleh antawacana seorang dalang yang duduk di depan penabuh. Aksentuasi dan dramatisasi garapan pakeliran ini didukung oleh olah karawitan menggunakan gamelan slonding dan gender wayang. Terasa ada totalitas berkesenian dalam garapan bertajuk “Kambing Takutin Macan” ini.

Alkisah, seekor kambing perempuan pergi ke tengah hutan mencari makanan. Di tengah hutan kambing betina ini bersua dengan macan yang menyeringai garang. Tetapi, si kambing tak gentar dan dengan tenang serta meyakinkan mengatakan dirinya sakti serta biasa menyantap daging macan. Bukan main kecutnya nyali si macan, tanpa pikir panjang langsung lari tunggang langgang ketakutan. Seekor kera membesarkan hati macan, dan mereka berdua kembali menemui kambing. Lagi-lagi kambing menggertak dengan mengatakan macan yang diantar kera adalah untuk bayar utang. Si macan gemetaran dan meloncat kabur, lalu  terjerembab jatuh menemui ajalnya di dasar jurang.

Secara verbal-naratif, macan si raja rimba dikisahkan begitu bodoh yang mudah diolok-olok oleh kambing. Namun, jika disimak pesan moral “Kambing Takutin Macan” yang dituturkan Diah Tantri sungguh menohok Raja Eswaryadala. Betapa seorang penguasa semestinya memimpin dengan arif dan bijaksana serta selalu waspada terhadap isu-isu menyesatkan yang membawa bencana bagi kehidupan, persatuan dan kesatuan bangsa. Kambing dalam hal ini  menjadi simbol pemberi peringatan kepada sang pemimpin. Sebaliknya, si kambing berjenggot juga bisa  menjadi representasi figur antagonis yang dengan segala muslihat menjungkirkan  penguasa yang sah dengan  cara-cara licik.

Garapan teater pakeliran ini cukup apik dan memikat. Penari dan pendongeng Larasari yang memerankan kambing, tampil penuh kesungguhan. Penari dan aktor drama gong Tilem Pastika yang memerankan macan, bermain total. Jika saja dialog-dialog dan perdebatan kambing versus macan dibingkai dengan kontekstualisasi topik kekinian yang sedang hangat di tengah masyarakat, misalnya tentang  bhineka tunggal ika kita atau tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang belakangan mencuat jadi perbincangan nasional, niscaya garapan seni pentas ini akan lebih menggigit. Sebab dongeng-dongeng cerita Tantri yang sebagian besar dipersonifikasikan melalui peran-peran binatang (fabel) memiliki fleksibelitas nan satiristik yang ditujukan untuk masyarakat manusia, kita-kita, mahluk ciptaan Tuhan yang konon paling mulia ini.       (Kadek Suartaya)

To Top