Buleleng

Ganesha 1.0 Modifikasi Otomotif Inovatif

Ketua jurusan teknik mesin dan tim perancang Ganesha 1.0

Manusia memanfaatkan sumber daya alam guna mendukung perkembangan teknologi. Ada dua sumber alam di bumi, yang dapat diperbarui dan yang tidak dapat diperbarui. Motor adalah salah satu bentuk kemanjuan teknologi yang memanfaatkan minyak sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Bahan bakar minyak yang terbentuk dari fosil-fosil mahkluk hidup berjuta-juta tahun tentu akan tereduksi jika terus-menerus digunakan.

Hal inilah yang mendasari ide kreatif mahasiswa jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik dan Kejuruan (FTK) Undiksha. alternatif energi sebagai pengganti bahan bakar minyak adalah dengan menggarap motor listrik sejenis skuter elektrik.

Motor yang diberi nama Ganesha 1.0 Generasi Pertama tersebut menggunakan arus DC yang dihasilkan dari limbah treadmill. Teknis motor listrik ini bertranmisi Electric Vehicles Base Continous Variable Transmission (EV-CVT) dengan menggunakan mikro switch dan menempel pada mekanis gas, fungsinya memberi keamanan sistem daya kendaraan dalam berbagai kondisi. Selanjutnya, generator menjadi sumber listrik motor, dengan kombinasi alat pengisian energi berfungsi mengubah arus bolak-balik AC menjadi arus searah DC. “Motor listrik lain memakai BLDC, pada tromol ban ada gigi satu sampai empat. Variabel seperti motor matic gigi 1,1 atau 1,2 ada. Jadi penggunaan tinggal di gas saja,” ucap Ketua Jurusn Teknik Mesin yang juga Ketua tim peneliti, Dr. Kadek Rihendra Dantes, MT.

Penelitian tersebut didanai oleh Kemenristekdikti dari Dirjen CPBT (Calon Perusahaan Berbasis Teknologi). Rihendra menambahkan melalui CPBT, Undiksha dapat memproduksi secara massal dan hasilnya untuk kampus sendiri. Secara keseluruhan, penggarapan motor listrik sudah rampung hingga 70 % dengan menghabiskan biaya Rp 80 juta  dari anggaran Rp 112 juta.

Rancangan motor listrik tersebut, tidak ditampik oleh Rihendra bahwa masih banyak memiliki kekurangan. Salah satunya mesin yang digunakan masih menimbulkan suara yang bising. Kemudian tidak sama seperti motor berbahan minyak pada umumnya, motor listrik ini hanya mampu digunakan pada jalanan kota yang notabene memiliki kontur jalan datar karena hanya memiliki kemampuan kurang dari 35 cc. “Kami akan terus lakukan pengembangan sehingga nanti akan ada Ganesha 1.0 generasi pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Mudahan dapat bermanfaat dan bisa menjadi ikon bagi kampus kami,” tambah pria kelahiran 1 Desember 1972 tersebut.

Keunikan motor listrik memakai serat nanas perahu dan daun gebang untuk bahan pembuatan bodi motor yang ramah lingkungan. Selain ramah lingkungan penggunaan bahan-bahan alam tersebut memiliki kekuatan sehingga menghindari benturan saat terjadi kecelakaan.  “Serat digunakan sebagai penguat fiber glass. Kami ambil serat lalu ditiriskan kadar airnya dan dijemur untuk dirol dan dipisahkan dari kambium,” imbuhnya.

Menurut Kejur beprestasi III tahun 2014 se-Undiksha tersebut ingin membangun kreativitas mahasiswa dan memberi gambaran kepada masyarakat luas bahwa anak-anak di jurusan mesin tidak hanya mencetak tenaga pendidik melainkan juga non pendidikan. “Saya dan teman-teman dosen yang lain, berpikir bahwa jika hanya berpikir pada out put pendidikan maka ilmu murni mesin akan hilang. Sehingga dalam kurikulum kami buat dua ranah,” jelasnya. Hal ini bermaksud untuk mencetak lulusan yang bergerak dalam bidang pendidikan namun tetap memahami ilmu mesin murni. Salah satu kosentrasi dalam jurusan adalah modifikasi otomotif dengan kompetensi dasar, mahasiswa menciptakan produk inovasi yang berkaitan dengan otomotif. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top