Advertorial

TINGKATAN DISIPLIN BERLALU LINTAS: STIKES BULELENG GANDENG POLRES BULELENG DAN JASA RAHARJA

Dr. Sundayana

Tuhan menyayangi ciptaan-Nya, termasuk manusia sebagai bagian ciptaan tertinggi yang memiliki sabda, bayu, dan idep. Menyayangi sudah pasti hormat dan terima kasih kepada sang Pencipta dan sudah pasti pula ketenangan serta kenyamanan segera dapat singgah di hati kita. Inilah sebuah disiplin yang memiliki makna yang dimulai dari diri sendiri termasuk displin etika berlalu lintas di jalan raya.

Melalui kerja sama Stikes Buleleng dengan Jasa Raharja dan Polres Buleleng, diadakan ceramah dan pemahaman tentang disiplin beretika berlalu lintas yang rutin diselenggarakan di Stikes Buleleng di Jln. Raya Air Sanih Km.11, Bungkulan, Singaraja.

Ketua Stikes Buleleng Dr. Sundayana wanti-wanti memberikan cemeti dan sugesti bagi peserta didiknya. Bahwa kesuksesaan akan diraih oleh diri sendiri yang diawali dengan  disiplin yang selalu berwawasan ke depan. “Untuk dapat meraih kesuksesan, seseorang harus memiliki sifat  optimis dan siap menghadapi tantangan, ancaman dan kenikmatan hidup termasuk di dalamnya berdisiplin berlalu lintas di jalan raya,” paparnya.

Mahasiswa sedang mengikuti sosialisasi

Mahasiswa sedang mengikuti sosialisasi

Generasi muda sebagai estafet bangsa hendaknya memilih komitmen dalam berdisiplin berlalu lintas, karena hal tersebut merupakan program rutin Polres Buleleng. Kanit Lalu Lintas Ipda Okta Wawan. A dan tim memberikan secara menyeluruh etika berlalu lintas. “Salah satu indikator dalam berlalu lintas adalah  selalu memeriksa kondisi kendaraan, surat-surat kendaraan bermotor, dan selalu mentaati peraturan,” ungkapnya.

Sebanyak 60 mahasiswa mengikuti sosialisasi tersebut sangat antusias dengan program yang dicanangkan oleh Polres Buleleng. Bahkan mereka menyadari bahwa etika berlalu lintas merupakan keperluan bagi semua individu. Pada kesempatan tersebut juga mengundang beberapa peserta diskusi untuk bertanya kepada narasumber. “Apakah wisatawan atau WNA yang mengalami kecelakaan akan mendapatkan tanggungan?” satu pertanyaan yang dilontarkan oleh Sastra. Pertanyaan tersebut ditanggapi bahwa seluruh warga negara Indonesia atau negara asing sama- sama mendapat tanggungan semasih pengendara itu membawa kendaraan yang berplat Indonesia karena kendaraannya membayar pajak. Meri Permatasari juga mengajukan pertanyaan tentang sebuah kasus. Jika seseorang yang sedang mengendarai sepeda motor ditabrak oleh pengendara lain, namun dalam kasus ini si penabrak memiliki SIM dan korban tidak memiliki SIM maka dalam kejadian itu siapakah yang salah?. Jawaban dari kasus tersebut adalah kesalahan terjadi di kedua belah pihak. Polisi dapat membawa kasus tersebut ke pengadilan dan menyidangkan sesuai dengan ketentuan hukum.  Dengan terbatasnya waktu penanya terakhir adalah Sukma,  mahasiswa dari semester I ilmu keperawatan. “Seorang yang mengenakan pakaian adat tetapi tidak memakai helm, apakah dikenakan sanksi tilang?” ujarnya. Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah  pengendara tetap harus memakai helm untuk keselamatan dirinya. “Kami akan melakukan peneguran kepada yang bersangkutan.  Pentingnya keselamatan berkendara baik itu sembahyang maupun kemanapun harus memakai helm,”jelas Ipda Okta.

Disadari bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan karena pemahaman tentang etika hidup dan kehidupan mulai menjadi hal terpenting. Inilah yang menjembatani MoU Stikes Buleleng dengan Polres Buleleng dan Jasa Raharja sehingga hal-hal yang tidak diinginkan demi sebuah kualitas diri dapat dilewati, dan untuk panutan diri dan orang lain kelak nanti menjadi tenaga kesehatan di tengah masyarakat luas.

 

 

To Top