Indonesia

Cangkul Tulungagung Siap Bersaing dengan Cangkul Tiongkok

Sugianto pengrajin cangkul

Cangkul asal Tiongkok sempat membuat heboh. Sebab, impor cangkul tersebut dilakukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk langsung pemerintah Indonesia. Menjawab tantangan ini, puluhan pande besi khususnya perajin cangkul di Tulungagung, mengaku siap menghadapi cangkul buatan negeri Tirai Bambu ini.

Sugianto, seorang perajin cangkul, asal Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, mengatakan, cangkul buatan Tiongkok ini tak akan mempengaruhi cangkul buatan lokal. Alasannya, cangkul buatan lokal ini lebih mengutamakan kualitas bahan. Selain itu, ketajamannya juga lebih terjamin. “Kualitas bahan bagus, tajamnya juga terjamin,” kata Sugianto.

Tidak hanya itu, perajin cangkul lokal juga memberikan garansi 100 persen kepada pelanggannya. Misalnya, ada cangkul yang belum lama digunakan kok, sudah patah, perajin langsung memperbaikinya tanpa dipungut biaya sepersepun. Menjaga mutu dan layanan inilah yang dipersiapkan perajin cangkul Tulungagung untuk menandingi cangkul buatan Tiongkok.

Bicara soal kualitas, Sigianto tidak mau sembarang menggunakan bahan yang digunakan. Ia harus selektif memilih baja yang berkualitas tinggi, sebagai dasar pembuatan cangkul. Selain itu, proses pembakarannya harus seimbang. “Saya jamin, cangkul sampai tipis tetap tajam, dan tidak mudah mletot,” jawab Sugianto.

Yang dikhawatirkan Sugianto, justru masyarakat salah pilih. Sebab, nama dan bentuk antara cangkul buatan lokal dengan impor dari Tiongkok, hampir mirip. Untuk itu, masyarakat harus bisa mengenali mana buatan lokal dan produk Tiongkok.

Panjang mata cangkul 25 cm dan lebar 15 cm. Namun, cangkul impor dari Tiongkok ini lebih berat ketimbang cangkul buatan pengrajin lokal. “Berat bukan berarti bahan yang digunakan Tiongkok lebih bagus. Tapi tajam, ringan, dan tahan gempuran itulah yang lebih berkualitas,” tambahnya. (Khoirul Abadi)

 

 

 

To Top