Woman on Top

I Gusti Agung Rai Mayuni: Lestarikan Tradisi Hasilkan Seni

I Gusti Agung Rai Mayuni

 Bahasa Bali jangan sampai ditinggalkan oleh para generasi muda. Bahasa Bali yang merupakan Bahasa Ibu merupakan akar dari kebudayaan Bali. Maka dari itu, akar dari kebudayaan Bali tersebut harus dijaga sebagaiamana kita menjaga kebudayaan Bali. Kecintaan terhadap Bahasa Bali harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda Bali dan harus bersumber dari kesadaran dalam diri setiap indvidu untuk ikut serta melestarikan Bahasa Bali.

Sebagai perempuan Bali, I Gusti Agung Rai Mayuni, yang lahir di Desa Sukahat, 23 Februari 1992 merupakan putri pasangan I Gusti Agung Ngurah, S.Pd dan I Gusti Ayu Tirtawati (Alm). Putri pertama dari lima orang saudara perempuan ini sejak kecil memang sudah senang dengan Bahasa Bali. “Sejak kelas 4 SD saya sudah senang menulis dan melukis di daun lontar. Bakat melukis di daun lontar (prasi) diturunkan oleh ayahnya yang sudah menekuni kegiatan melukis di daun lontar sejak dahulu,” ujar perempuan yang akrab disapa Agung Mayuni ini.

Dengan menekuni menulis di daun lontar ini, Agung Mayuni telah mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya juara-juara dalam menulis aksara Bali, menjadi finalis pada pemilihan Wirausaha Bank Indonesia, dan juara 3 pada pemilihan Wanita Kreatif Indonesia tahun 2015

“Menulis di daun lontar ini adalah wujud kecintaan saya terhadap budaya dan bahasa Bali. Tradisi menulis di daun lontar harus tetap dilestarikan terlebih lagi oleh generasi muda Bali. Dari tradisi dapat menghasilkan seni dan menambah pundi-pundi. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak ikut serta melestarikan budaya dan bahasa Bali,” tegasnya.

Selain itu, Agung Mayuni juga ikut melestarikan Bahasa Bali dengan sebuah kerja nyata yaitu membina kelompok-kelompok belajar Bahasa Bali. Sarjana Pendidikan Bahasa Bali lulusan Universitas Pendidikan Ganesha ini bekerja sebagai Penyuluh Bahasa Bali yang ditugaskan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Ia pun melaksanakan kerja nyata dengan membentuk kelompok-kelompok belajar Bahasa Bali.

Dalam kelompok belajar Bahasa Bali tersebut, para siswa diajarkan menulis aksara Bali, berbahasa Bali yang baik dan banyak lagi kegiatan lainnya yang tujuannya adalah memupuk kesadaran siswa untuk mencintai budaya dan bahasa Bali. Selain itu kelompok belajar Bahasa Bali tersebut dilaksanakan agar para siswa lebih giat belajar Bahasa Bali. “Saya berharap dengan adanya kerja nyata tersebut, keberadaan Bahasa Bali akan tetap lestari,” tegasnya. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top