Metropolitan

Menunggu Perubahan “Wajah” Kalijodo

Sejak ramai diberitakan media pembangunan fasilitas publik di bekas kawasan lokalisasi pelacuran Kalijodo hampir rampung, banyak warga yang kerap datang mengintip di balik pagar seng yang mengelilingi lokasi proyek seluas 1,5 ha itu. Warga mengaku tak sabar sekaligus penasaran atas hasil kerja Pemprov DKI Jakarta setelah berhasil menggusur tempat pelacuran yang berdiri sejak tahun 1970-an itu pada Februari 2016 lalu.

“Kita nggak sabar nih kapan jadinya sih,” ucap Maman yang bersama temannya kedapatan tengah mengintip di balik pagar seng. Memang warga belum diizinkan masuk sekalipun beberapa bangunan tampak sudah hampir rampung. Bahkan lapangan futsal lengkap dengan gawangnya pun sudah berdiri kokoh. “Ini memang hampir selesai. Pengerjaan sudah mencapai 80%, kira-kira bulan depan sudah rampung semua, sekarang tinggal finishing saja. Jadi warga belum boleh masuk dulu, nanti Desember saja (masuk),” ucap pengawas proyek.

Sebagaimana diketahui penggusuran lokalisasi pelacuran Kalijodo sempat menghebohkan publik. Aksi tegas Pemda DKI Jakarta berhadapan dengan masyarakat khususnya pemilik bangunan lokalisasi, sempat menjadi topik berita hangat. Saat itu banyak kritikan dilancarkan berbagai pihak pada Pemda DKI Jakarta, tapi banyak juga yang memuji karena lokalisasi pelacuran itu sejak dulu begitu sulit ditertibkan. Berkali-kali coba ditertibkan, namun kembali muncul dan beroperasi lagi. Disana bukan hanya jadi sarang pelacuran dan perjudian, tapi juga sarang penjahat kambuhan.

Tapi kini wajah bekas lokasilisasi pelacuran itu telah berubah total. Sejak digusur, Pemda langsung action dengan melakukan pengurukan dan pembangunan. Kini sejumlah bangunan yang telah direncanakan sudah hampir rampung, di antaranya arena skateboard, taman, lapangan futsal, bangunan serba guna, jogging track, dll. Di sana juga dibangun sejumlah kios untuk para pelaku UKM setempat.

Salah satu yang juga unik adalah letak ruang fasilitas publik itu yang berada di dua wilayah yakni Jakarta Utara dan Barat, tapi lahan terbesar ada di Jakarta Utara yakni 1,4 ha. Sehingga nantinya bisa jadi hak pengelolaan areal tersebut dibebankan kepada pemda kedua wilayah itu.

Dengan perubahan wajah pada bekas lahan lokalisasi pelacuran Kalijodo, maka berarti Pemda DKI Jakarta untuk kedua kalinya telah sukses mengubah wajah tempat pelacuran. Sebelumnya Gubernur Sutiyoso dengan sikap tegasnya pun berhasil menggusur lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak di tahun 1999. Lokalisasi yang sempat dijuluki sebagai kompleks pelacuran terbesar se-Asia Tenggara ini letaknya di wilayah Jakarta Utara, persisnya di Kramat Tunggak (Kramat Jaya), dekat Pelabuhan Tanjung Priok.

Berbeda dengan Kalijodo, yang merupakan lokalisasi pelacuran liar, Kramat Tunggak yang pada masanya adalah tempat pelacuran resmi yang ditetapkan lewat SK Gubernur DKI Jakarta (Ali Sadikin) pada 1970. Tapi sebenarnya, bukan sengaja tempat itu jadi lokalisasi pelacuran resmi.

Awalnya, tempat tersebut adalah panti rehabilitasi sosial yang dibangun Pemda DKI Jakarta untuk membina para PSK yang terjaring razia ‘penyakit sosial masyarakat’ dengan memberi mereka pembinaan agama juga ketrampilan. Namun, entah bagaimana, perlahan panti rehabilitasi sosial itu berubah fungsi, malah menjadi tempat pelacuran. Akhirnya Pemda memutuskan untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat pelacuran resmi, dengan begitu para PSK yang pada masa itu banyak berkeliaran di sejumlah tempat di Jakarta seperti kawasan Planet Senen, Pejompongan, Binaria, dll, tidak beroperasi sembarang tempat.

Awalnya areal panti tidaklah terlalu besar, namun seiring waktu, tempat itu berkembang pesat bahkan meluas hingga mencapai 12 ha. Pengunjungnya datang berbagai tempat, bahkan tak jarang ada ‘orang bule’ di sana, maklum letaknya tak jauh dari pelabuhan.

Tidak itu saja, perkembangan kompleks pelacuran tersebut juga diikuti dengan bermunculannya  warung “remang-remang” di luar kompleks Kramat Tunggak. Pertumbuhan rumah remang-remang yang pesat dan ‘bercampur-baur’ dengan permukiman penduduk, semakin membuat warga setempat dan para ulama resah dan khawatir.

Mereka khawatir itu membawa dampak negatif bagi perkembangan anak-anaknya. Karena tak dapat dipungkiri, ketika Kramat Tunggak berjaya, remaja juga kalangan muda warga setempat pun, ikut meraup ‘rezeki’ semisal menjadi juru parkir, dll.

Berdasarkan data, jumlah PSK yang beroperasi di Kramat Tunggak sekitar 2.000 orang lebih, mereka di bawah kontrol 258 mucikari. Suburnya usaha ini konon juga ikut menghidupi 700 lebih pembantu, 800 pedagang asongan dan ratusan tukang ojek. Walau ada ‘rezeki’ yang bisa dikais dari bisnis tersebut, tetap saja sebagian besar warga setempat menginginkan tempat itu ditutup.

Namun, entah kenapa kala itu teriakan warga dan ulama seolah tidak terdengar oleh pemerintah setempat.  Rencana pembongkaran selalu gagal. Sampai akhirnya pada 1999 ketika Gubernur Jakarta dijabat oleh Sutiyoso barulah tindakan tegas berhasil diambil.

Kala itu, sikap keras Pemda DKI Jakarta bukannya tak mendapat penentangan keras, khususnya dari para preman dan pemilik tempat hiburan di dalam lokalisasi, namun Sutiyoso tetap jalan dengan tekadnya. Akhirnya kini, setelah 17 tahun berlalu, wajah bekas lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak telah berubah total.

Stigma itu sudah hilang dan menjadi bagian sejarah pertumbuhan kawasan itu. Masyarakat asli sana yang kini usianya sudah lanjut hanya bisa mengenangnya. Perubahan wajah itu terjadi bukan hanya karena digusurnya kompleks lokalisasi tertua di Jakarta itu, tapi juga karena keberadaan Islamic Center yang nan megah yang kini menempati bekas kawasan lokalisasi itu.

Total luas kompleks Jakarta Islamic Center sekitar 21.452 M2, selain masjid sebagai tempat ibadah juga di kompleks tersebut terdapat bangunan untuk tempat pengkajian agama Islam, sarana pendidikan, bisnis, hingga wisma. Kini Jakarta Islamic Center bukan hanya  selalu ramai pengunjung tapi juga menjadi kebanggaan warga setempat.

Padahal dulu –hingga tahun 1990-an sebelum dibongkar—sebagian masyarakat kawasan tersebut mengaku sempat malu menyebut tempat tinggalnya di dekat kompleks pelacuran tersebut.  Anak-anak  SMP hingga SMA, terlebih lagi. Untuk kalangan anak sekolah, tinggal di sekitar lokalisasi seperti ‘aib’ karena mereka menjadi bulan-bulanan ejekan teman-teman sekolahnya. Padahal tak jauh dari lokalisasi itu ada sejumlah sekolah, salah satunya adalah SD,SMP dan SMA Khatolik Marsudirini-Fons Vitae II.

“Sudah belasan tahun, sudah daerah sini sudah banyak berubah. Warga asli pun sudah banyak yang pindah. Kami sekarang tidak malu lagi karena kan ada Islamic Center. Pengunjung yang datang pun bukan hanya warga Jakarta tapi luar daerah bahkan luar negeri. Islamic Center kini jadi kebanggaan warga,” ungkap Lily, yang pada masa kejayaan kompleks pelacuran Kramat Tunggak ia dan keluarganya tinggal persis di samping tempat pelacuran itu. (dianaruntu@cybertokoh.com)

 

To Top