Connect with us

Sosialita

Sakdek: Persembahan yang Terbaik

Published

on

Kebaya modifikasi yang keren dengan pilihan warna dan detil yang khas ala GS Mode saat ini tengah menjadi incaran utama kebanyakan perempuan di Bali. Apalagi untuk momen yang sangat spesial dan bersejarah seperti  pernikahan ,GS Mode juga yang  menjadi tumpuan agar tampil istimewa.

Desak Made Arisanthi Dewi, S.E., yang biasa disapa Sakdek adalah sosok yang dibalik semua persembahan koleksi kebaya modifikasi GS Mode. Pekan lalu Tokoh hadir di show room sekaligus workshop-nya di Jalan Tukad Batangharu XI, Batanghari Residence Kav 1, Denpasar. Show room siap melayani konsumen,  Senin s.d. Sabtu, pukul 08.30 – 18.00, kecuali Minggu.

Dengan penuh keramahan ibu dari  Ni Putu Dyanti Maheswari Giri dan I Made Devananda Maheswara Giri inipun bersedia mengisahkan awal mula usahanya hingga bisa ng membuka lapangan kerja untuk orang lain. Cita-cita seriusnya muncul setelah hampir menyelesaikan kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Pilihannya adalah menajdi dosen atau jadi tukang jahit.

Menurut istri  I Putu Sugi Ambara Giri, S.T., ini hanya dua jenis pekerjaan itu yang ada dipikirannya. Mengingat Sakdek memiliki mimpi jika menikah ingin mengurus keluarga, suami dan anak sendiri, namun masih bisa menghasilkan materi meski tidak banyak. “Saat itu sebenarnya saya sama sekali tidak mengerti bisnis menjahit itu seperti apa. Apalagi cara mejahitnya. Parahkan ,” kenangnya sambil tertawa.

Advertisement

Pada tahun 2000 , Sakdek sempat melamar menjadi dosen di Unud, namun kandas.  Lantas, dengan terpaksa ia bekerja di supplier hotel & restoran, tapi hanya bertahan 3 bulan lalu kabur. Ia kemudian bekerja di tailor milik saudaranya. Meski jenis kerjanya serabutan, ternyata Sakdek sangat menikmati pekerjaannya. “Banyak hal baru yang saya pelajari terutama tentang kualitas jahitan yang menjadi standar utama  saya berkarya sekarang,” cetusnya.

BACA  Perpaduan Kreatif Lokal dan Internasional

Selain itu, katanya Sakde masih sempat juga mencoba peruntungan bekerja Bursa Valuta Asing, harapannya untuk mengumpulkan modal, tapi nyatanya malah gagal total. Berikutnya ia pun bekerja apa aja yang bisa menghasilkan uang. Tahun 2002 awal, atas saran temen kerjanya di tailor dulu, ia memberanikan diri mencari order dengan datang langsung ke rumah–rumah saudaranya yang tinggal di seputaran Denpasar untuk menjahit apa saja yang bisa dijahit.

Singkat cerita, beberapa waktu kemudian, adik ibunya yang memberikan pinjaman uang untuk mengontrak tempat. Total modal awal yang ia miliki ketika itu, Rp 20 juta, yang digunkan untuk biaya kontrak toko selama 2 tahun, membeli mesin nasket (lubang kancing, serta alat jahit lainnya dan sedikit renovasi tempat. “Astungkara, Tuhan selalu ada untuk saya, GS Mode dari hari pertama buka sampai saat ini yang namanya rezeki selalu datang kepada kami. Dari seragam anak SD sampai grup villa di Sanur yang karyawannya ratusan, menjadi pelanggan tetapnya, hanya dengan infonya dari mulut ke mulut,” paparnya.

Tahun kedua mulai melirik kebaya bordir. Saat itu semua dikerjakannya sendiri, dari menggambar motif, mencari kain dan benang bordir hingga tukang bordirnya.

Akhirnya Sakdek mulai merasakan hasilnya, dengan semakin banyaknya peminat. Namun, saat dirasakan munculnya persaingan kurang sehat, Sakdek segera beralih membuat kebaya modifikasi.

Advertisement

Sakdek pun mengaku ia mulai melihat-lihat  di berbagai majalah wanita dan mengumpulkan semua yang ada foto kebaya modifikasinya. Ia kembali belajar sendiri. Ia mencoba membuat contoh dan ditawarkan ke semua konsumen yang datang ,dan rata-rata belum tertarik. Sambil menunggu konsumen yang tertarik, Sakdek bersama semua karyawan semakin giat membuat contoh yang lebih beragam. Agar lebih menarik ditambah payet , brads dan dibuatkan korsase, sampai dipasang aplikasi bordir yang dipayet untuk bentuk leher.  “Ini yang akhirnya menjadi ciri khas kami sampai saat ini,” katanya tersenyum.

BACA  Ida Ayu Tri Rasmiwinari: Memimpin dengan Sentuhan Keibuan

 FOKUS DI KEBAYA WEDDING

“Melihat perkembangan permintaan kebaya modifikasi yang tiap tahun semakin naik , akhirnya saya memberanikan diri di tahun 2013 fokus hanya di kebaya. Agar saya dan anak-anak GS bisa lebih fokus mengeksplor kemampuan masing-masing. Walau disisi lain, memang, ada kecewa terutama pelanggan tetap kami yang terbiasa menjahitkan seragamnya di kami,” ungkapnya.

GS lebih banyak mengerjakan kebaya untuk wedding dan kebaya dengan acara khusus, dengan harga umumnya berkisar dari  Rp 850 ribu sampai  Rp  2,5 juta. Harga di atas itu biasanya ada permintaan khusus dari pelanggan. Saat ini juga sebagian besar yang kami kerjakan adalah custom order. Sedangkan untuk sewa kami hanya menyewakan untuk pengantin saja. Namun, kebaya modifikasi yang ready to wear  ada, biasanya mereka perlu untuk acara mendadak lebih banyak membeli yang sudah ada. Kini dengan total 20 orang karyawan, GS paling cepat dapat menyelesaikan kebaya dengan standar sedang, pemasangan detil yang tidak terlalu banyak, paling cepat 10 hari.

Bicara soal pelanggan bagi Sakdek pelanggan adalah sahabat, yang senantiasa harus kami layani dengan hati. Berbagai macam keluhan yang datang, menjadi guru-guru terbaik baginya. “Hal ini selalu saya komunikasikan dengan anak-anak GS untuk menjaga, membuat baju seperti milik sendiri,” ujar putri dari  I Dewa Ketut Suteca (alm) dan Luh Made Wathi ini sembari mengatakan untuk tahun  2016 ia membuat sistem baru dalam usahanya agar dapat meningkatkan  pelayanan, dari segi kualitas maupun waktu yang selalu menjadi masalah kebanyakan penjahit yang ada.

Advertisement

Bagi Sakdek yang namanya menjaga hubungan baik itu sangat penting, dengan siapa saja, kapan saja, dimana saja. Sebab, katanya kita tidak pernah tahu suatu saat bantuan itu datangnya dari mana. Termasuk karyawannya dan keluarga mereka semua sudah dianggap sebagai keluarga besarnya. “Untuk karyawan yang telah setahun bergabung, tiap tahunnya ada tanda cinta dari perusahaan yang berbentuk cincin dan dipilih sendiri di toko perhiasannya . Tahun ini kali ketiga kami melakukannya,” ucapnya.

BACA  Mezzo Buka Cabang di Mal Bali Galeria

Semua yang ada kini menurut Sakdek karena dukungan  yang luar biasa dari suami tercinta, sejak awal hingga saat ini tanpa henti. Bahkan dengan kemajuan perusahaan yang lumayan cepat di tahun 2013,  setelah berdiskusi panjang selama 2 tahun, suami memilih berhenti dari pekerjaannya dan ikut terlibat total untuk sistem manajemen perusahaan mereka. Sakdek merasa lega bisa lebih fokus untuk membuat inovasi dan memberikan hasil terbaik untuk pelanggan, mengingat pesaing makin hari makin bertambah. Selain itu ia  juga bisa lebih banyak waktu untuk kedua anaknya, seperti awal keinginan saya anak tidak menjadi korban kesibukan orangtuanya. – ard

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosialita

Beradaptasilah dengan Gaya Hidup

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 membuat semua melakukan adaptasi terhadap kebiasaan baru. Aturan yang dikeluarkan pemerintah, khususnya terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pun membuat pemilik usaha harus melakukan penyesuaian.

Malika Jiwaji, GM Cellular World menuturkan pihaknya berusaha mengadaptasi antara perubahan yang ditetapkan oleh Pemerintah, dan juga berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada customer. “Kami berkomitmen untuk menerapkan prokes yang ketat dan membuka toko lebih pagi. Per tanggal 1 Februari kami buka dari pukul 08.00 sampai dengan 20.00. Bagi yang tidak bisa ke toko, kami punya website www.cworld.id dimana customer bisa melakukan pembelian dan barang bisa diantarkan dan di-setting di rumah. Melalui website juga dapat booking janji temu ke teknisi jika handphone rusak atau mengalami masalah,” ujarnya.

Di masa pandemi Covid-19 ini, Malika dan timnya selalu berusaha untuk memberikan solusi terbaik untuk gadget kepada anak sekolah dan yang bekerja dari rumah. Jika harus datang ke toko, ia memastikan menjalankan prokes dengan sebaik-baiknya, untuk melindungi kesehatan konsumen dan karyawan.

Advertisement

“Penerapan prokes yang dilakukan di Cellular World untuk karyawan dan konsumen berjalan dengan teratur. Berawal dari pengecekan suhu tubuh sebelum memasuki area toko, mencuci tangan, memastikan karyawan dan customer yang masuk menggunakan masker, menyemprotkan disinfektan ke meja handle sebelum dan sesudah meng-handle customer dan tidak lupa menjaga jarak dengan customer satu dengan lainnya minimal 1 meter,” ujar perempuan yang hobi bersepeda ini. Ia menambahkan karyawan juga diberikan vitamin dan menjalankan step challenge guna meningkatkan imun tubuh mereka.

BACA  Inovasi “Tabanan dalam Genggaman"

Istri Danish Musthafa ini melihat selama pandemi Covid-19 ada perubahan kebutuhan customer. “Gadget sudah dibutuhkan oleh semua orang tidak terbatas umur. Spesifikasi handphone yang semakin tinggi cenderung lebih murah dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya. Kreativitas rumahan semakin meningkat karena ruang gerak masyarakat semakin terbatas. Kesehatan menjadi prioritas utama dalam kehidupan. Masyarakat akan beradaptasi pada keadaan yang ada dan pasti kita akan bisa melaluinya bersama,” ungkap ibu dua putri ini.

Malika pun memberikan kiat menghadapi masa pandemi, antara lain menabung jika memungkinkan, beradaptasi dengan gaya hidup yang ada, Tidak boleh berhutang demi gaya hidup, kreatif mencari peluang dalam berusaha dan dalam membantu sesama, support local bussines, mengikuti perubahan yang ada,tanpa membebani diri sendiri, selalu berdoa kepada Sang Pencipta, dan berusaha selalu berpikir positif.

Terkait Ingat Pesan Ibu 3M, Malika menegaskan pihaknya sudah menerapkan hal tersebut. Mencuci tangan, dengan menyediakan tempat cuci tangan di tempat yang strategis yang mudah dijangkau. Di beberapa titik juga menyediakan handsanitizer. Memakai masker, dengan mewajibkan semua karyawan dan customer yang datang ke toko untuk memakai masker. Menjaga Jarak, setiap karyawan dan customer selalu menjaga jarak pada saat berada di dalam toko. Apabila ada salah satu anggota yang sakit, anggota keluarga yang lain juga harus menjaga jarak. (Ngurah Budi)

BACA  Politeknik Internasional Bali Siap Cetak SDM Profesional Berjiwa Tourismpreneurship

Advertisement
Continue Reading

Sosialita

Tetap Sehat dan Kreatif saat Pandemi Covid-19

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Menghadapi pandemi Covid-19 ini sebaiknya kita tetap harus waspada dalam kehidupan sehari-hari. Tetap memakai masker, sering mencuci tangan dan menjaga jarak di mana pun kita berada dan dengan siapa pun. Karena kita tidak pernah tahu siapa yang membawa bibit Covid-19. “Tetap jaga kesehatan dan yang terpenting, tetaplah kreatif,” ungkap Helga Riftiana, S.E., yang akrab disapa Helga Rif.

Perempuan yang juga penulis novel ini menuturkan sudah mengaplikasi Pesan Ibu Ingat 3M di lingkungan keluarga. “Kami lumayan ketat menerapkan proses karena kami tinggal dengan orang tua yang usia lanjut. Jadi setiap datang dari bepergian, harus cuci tangan sebelum masuk rumah. Mencuci atau membuang masker yang telah digunakan dan tetap menjaga jarak jika ada tamu yang berkunjung,” ungkap istri dari Bagus Sakaputera dan ibu dari Arkana Putera Saka dan Arkananta Putera Saka ini.

Selama pandemi Covid-19 ini, Helga yang juga model dan atlet tembak ini tetap menjaga imun dengan berolahraga. Senam pilates menjadi pilihan olahraga di ruangan. Untuk olahraga di luar ruangan, Perempuan Inspiratif Tokoh Tahun 2015 ini bersepeda bersama keluarga. Satu hal yang juga tetap ia lakukan adalah menulis novel.

Advertisement

“Saat saya menulis novel biasanya di malam hari saat semua aktivitas sudah selesai. Anggota keluarga juga tahu betul bahwa saya membutuhkan konsentrasi yang tinggi, sehingga mereka menjaga privasi saya untuk tidak ribut atau mengganggu saya. Anak-anak dan suami juga sangat membantu dalam pekerjaan sehari-hari di rumah,” ungkap penulis yang sudah menghasilan sembilan novel ini, Gara-Gara Irana Jadi Arini (2007), Menemukanmu: dalam sebuah kisah cinta (2011), Kepingan Cinta Lalu (2012), Melepaskanmu: Cerita Cinta yang Lain (2013), First Love (2014), DI Bawah Langit yang Sama (2015), Let Me Love You (2017), Rahasia Duma (2019), Grab Me If You Can (2020).

BACA  PIB dan BCPS Karya Keluarga Siswanto untuk Bangsa

Novel Grab Me If You Can merupakan novel yang bergenre dewasa. Helga beralasan, saya suka membaca novel bergenre dewasa dengan masalah yang lebih kompleks. Lagipula novel genre dewasa di Indonesia tidak terlalu banyak. Jadi ia ingin membuat sesuatu yang berbeda. Novel ini menceritakan Mina dan arti cinta adalah sebuah rasa nyaman, damai, dan saling melengkapi. Hingga dia bertemu dengan Tomi, pria asing di sebuah perkemahan saat berlibur dengan anaknya. Naluri wanitanya memberontak keluar, membuatnya tidak mengerti akan siapa dirinya selama ini. Dia menginginkan Tomi. Tetapi Mina tidak berani berharap lebih, hingga sebuah peristiwa membawa mereka kembali bersama dan mengabaikan semua alarm yang bertalu-talu di kepala mereka.

“Ada tantangannya bagaimana saya harus menuliskan adegan dewasa dengan cara yang menarik, tidak vulgar, dan manis. Tidak terlalu banyak kendala dalam menulis novel “Grab Me If You Can” karena apa yang ada di dalam novel tersebut sejatinya sering kita alami di kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya.

Ke depan , Helga yang mengaku hanya seorang ibu rumah tangga yang suka galau kalau tidak ada makanan di malam hari sebelum menjelang tidur tetap ingin menulis novel dengan tema romance. (Ngurah Budi)

BACA  Inovasi “Tabanan dalam Genggaman"

Advertisement
Continue Reading

Sosialita

Ny. Putri Suastini Koster: Berikan Ruang untuk Perempuan Wujudkan Kesetaraan Gender

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Ketua Tim Penggerak PKK Prov Bali Ny. Putri Suastini Koster hingga kini tak henti-hentinya menggaungkan wacana kesetaraan gender bagi kaum perempuan. Seperti halnya dalam webinar yang diselenggarakan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Bali, Ny Putri Koster menekankan pentingnya peranan perempuan dalam lini kehidupan sehingga peran dan fungsi perempuan harus selalu diperhatikan.

“Berikanlah ruang di manapun itu, baik rumah tangga, tempat kerja dan masyarakat untuk perempuan menunjukkan eksistensinya, sehingga cita-cita kesetaraan gender bisa terwujud,” ujarnya dalam siaran pers Humas Pemprov. Bali terkait webinar yang diselenggarakan oleh IBI Prov Bali dengan tema ‘Memaknai Hari Ibu di Dalam Mencegah Kekerasan dan Praktik P2GP’ dari kediaman Gubernur Bali, Jayasabha.

Dalam kesempatan tersebut, pendamping orang nomor satu di Bali ini menyatakan bahwa peranan perempuan sejak dulu sudah berjalan seiringan dengan peran laki-laki dan saling melengkapi. “Hal itu bisa dilihat dalam kehidupan berumah tangga, masyarakat dan terutama di Bali dalam kehidupan beradat serta beragama,” ujarnya. Peranan seorang perempuan terutama ibu tidak bisa dilepaskan begitu saja. Ia menambahkan, meskipun sudah berjalan dengan baik, apresiasi terhadap perempuan terutama ibu sangatlah penting.

Advertisement

Ny. Putri Koster menambahkan, seperti hadirnya webinar kali ini yang tujuannya juga mengapresiasi para perempuan terutama ibu, dirasa sangat bermanfaat. Apalagi webinar kali ini mengangkat tema yang sangat penting yaitu tentang praktik ‘Pemotongan dan Perlukaan pada Genital Perempuan’ (P2GP). “Terus terang sebagai Ketua TP PKK saya baru mendengar tentang praktik ini, dan setelah saya pelajari ini sangat berbahaya bagi kesehatan perempuan, sehingga perlu dicegah,” imbuhnya.

BACA  Perpaduan Kreatif Lokal dan Internasional

Selain itu, praktik tersebut juga tidak sesuai dengan upaya semua pihak dalam melindungi hak-hak para perempuan. Untuk itu, ia mengajak para peserta webinar untuk benar-benar menyimak paparan para narasumber. “Saya ingatkan untuk menyimak dengan baik webinar kali ini kemudian berperan aktif mensosialisasikan tentang bahaya sunat perempuan kepada masyarakat,” ujarnya seraya menambahkan bahwa sosialisasi bisa dilakukan melalui media sosial ataupun di lingkungan masing-masing.

Ia menilai perlindungan hak dan upaya kesetaraan gender tidak hanya bisa dilakukan oleh golongan tertentu saja, namun memerlukan peran aktif semua pihak agar cita-cita dalam mensejahterakan perempuan bisa terwujud. (Ngurah Budi)

 

Advertisement
Continue Reading

Tren