Kuliner

Tipat Kuah Taman Kota

Bali memiliki aneka makanan khas tradisional. Masing-masing kabupaten mempunyai ciri khas tersendiri seperti Denpasar dikenal dengan nasi jinggonya, Gianyar ada babi guling, begitu juga di Buleleng, terkenal dengan siobak khas Singaraja.

Salah seorang penggiat kuliner  Desak, asli Buleleng,  mencoba mengadu nasib di kota Denpasar. Berbekal keterampilannya memasak, ia mencoba menawarkan makanan khas ala Buleleng.  Namun, ia tak melulu menjual makanan yang sama persis dengan aslinya, ia memberikan sentuhan inovasi dalam kreasi menunya, tipat kuah. Makanan ini dikenal sangat baik di Buleleng.  Biasanya, menu ini disajikan dengan kuah srosob, yakni lebih kental dari tipat kuah ala Desak,  karena ada campuran tepung sebagai pengentalnya. Sementara, tipat kuah buatan Desak, hanya memakai kuah santan.  “Saya memakai satu bumbu utama yakni bumbu kemiri, campuran dari bawang putih, cabai merah besar, cabai rawit, kencur, kemiri, dan  terasi. Dari satu bumbu ini, saya  jadikan bumbu dari beberapa makanan, seperti ayam  kuah kemiri, ayam sambal matah,  sayur urab, dan sambal cabai hijau,” jelasnya.

Warung tipat kuah milik Desak

Warung tipat kuah milik Desak

Desak mengatakan, sebagai langkah awal, ia membuat bumbu utama yakni bumbu kemiri terlebih dahulu. Bahan utama bumbu kemiri terdiri dari  bawang putih, kencur, kemiri, cabai merah besar, cabai rawit, dan terasi. Setelah semua bumbu dihaluskan, bumbu dimasak  sampai mendidih. Kemudian, ia memasukkan daging ayam ke dalam bumbu tadi.  Setelah  daging setengah matang, ia tambahkan santan. “Sekali-kali harus diaduk agar bumbu menyatu dengan daging ayam,” kata ibu dua anak ini.

Setelah daging ayam matang, angkat  kemudian ayam digoreng sampai kecokelatan. Ayam goreng ini kemudian ia olah menjadi ayam sisit sambal matah dan ayam kemiri.  Untuk ayam sisit sambal matah, ayam goreng disuwir-suwir halus, kemudian dicampurkan dengan sambal matah yang terdiri dari bumbu irisan bawang merah, cabai rawit,  dan terasi.

Untuk membuat sambal cabai hijau, tumis bumbu kemiri secukupnya, masukkan potongan cabai  rawit hijau, aduk rata, kemudian angkat.

Untuk ayam kemiri,  setelah ayam digoreng kemudian dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam wajan, tambahkan kuah bumbu kemiri, dan sambal cabai rawit hijau secukupnya, beri tambahan daun jeruk, daun salam, dan sereh. Tunggu sampai mendidih,  angkat.

“Untuk membuat  sayur urab, saya juga memakai bumbu kemiri. Pertama buat bumbunya dulu. Tumis bumbu kemiri secukupnya,  masukkan kelapa parut dan santan, aduk rata. Bumbu ini yang dipakai sebagai bumbu sayur urab,” kata Desak.

Langkah berikutnya, siapkan sayuran seperti bayam, kacang panjang, dan tauge yang sudah direbus dan ditiriskan. Kemudian  campurkan dengan bumbu tadi dan tambahkan bawang goreng, sambal cabai hijau,  dan terasi goreng, aduk rata. Sayur urab sudah siap.

Untuk satu paket tipat kuah terdiri dari beberapa potongan ketupat, telur sambal kecap, ayam kemiri, ayam sambal matah, sayur urab, kacang tanah goreng, kerupuk jagung, dan sambal cabai rawit hijau. Harganya sangat terjangkau Rp 10 ribu.

 

Peruntungannya  di Taman Kota 

Saat ini Desak mengadu nasib di Taman Kota Denpasar. Dengan restribusi Rp 10 ribu tiap hari, ia merasa peruntungannya berjualan di Taman Kota cukup baik.

Desak memulai usahanya berjualan tipat kuah sejak tahun 2012. Bersama suami, Parwata, ia berbagi tugas dalam menyiapkan tipat kuah. Awalnya ia tertarik berjualan tipat kuah, karena melihat belum banyak penjual tipat kuah dengan bumbu khas Buleleng. Ia pun memberanikan diri mencoba sembari mengasuh  kedua anaknya yang masih kecil. Ternyata, racikan tipat kuahnya disukai pembeli.  Sebelum berjualan di Taman kota Denpasar, ia pernah mencoba berjualan di tempat lain. Namun, ia merasa peruntungannya kurang baik.  Sejak pindah ke Taman Kota, ia melihat prospeknya sangat bagus  Hari-hari biasa, ia menghabiskan 5 kilogram beras untuk tipat kuahnya. Sementara Sabtu dan Minggu bisa sampai 10 kg. “ Tiap Sabtu, Minggu,  dan hari libur banyak orang datang ke Taman Kota. Selain untuk berolahraga juga untuk sekadar jalan-jalan.  Banyak pembeli di hari Minggu,” kata Desak.

Namun, Desak kadang galau. Apalagi, saat ini musim hujan. Ia sering merenung kalau hujan deras turun setiap hari. Otomatis berpengaruh kepada omzetnya. Namun, walaupun begitu, ia belum berpikir untuk menyewa toko tetap. Bagi Desak,  kondisi cuaca yang kurang bersahabat ia siasati  dengan tidak membuat terlalu banyak. “Yang penting saya  punya stok bumbu utama yakni bumbu kemiri sambil saya lihat perkembangan pembeli. Kalau ramai baru saya buat persediaan lagi,” ucap Desak.

Desak dibantu suaminya berjualan. Warungnya buka mulai pukul 7 pagi sampai 21.00. Kalau hujan ia lebih cepat menutup warungnya. Untuk mengolah makanan, Desak langsung mengerjakan di warungnya. Dengan membawa seperangkat kompor gas, Desak mengolah makanan saat konsumen lagi kosong.

Desak meyakinkan, semua makanan paket tipat kuahnya habis dalam satu hari, tidak ada sisa sehingga ia selalu menjual yang baru tiap hari. Karena itu, ia tidak mau membuat banyak- karena selain basi, ia takut juga nanti tersisa. “Kalau sekarang saya biasanya tutup warung kalau sudah habis. Saya sudah tahu perkiraan berapa porsi harus membuat tiap hari,” ujar Desak.

Salah seorang pembeli setia, Ria, yang rutin berolahraga di Taman Kota mengaku, sangat menyukai tipat kuah buatan Desak. “Kalau saya sehabis  olahraga pagi  pasti saya beli tipat kuah. Rasanya beda dengan tipat kuah lainnya. Saya suka keripik jagungnya, apalagi sambal cabai hijaunya krutuk-krutuk enak,” ujarnya sembari menyantap tipat kuah dengan semangat. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

To Top