Griya

Sentuhan Rococo pada Konsep Bali

Seperti halnya desain rumah tinggal, desain museum yang diperuntukkan publik pun umumnya mencerminkan karakter pemiliknya, tanpa meninggalkan filosofi Hindu-Bali. Hal itu bisa dilihat pada The Blanco Renaissance Museum, di Campuan Ubud, Bali.

Blanco Museum memajang sekitar 300 karya lukisan sang Maestro Don Antonio Blanco yang bergaya Ekspresionis-Romantik. Gaya lukisannya itu tercermin pula dalam pemilihan bentuk, warna dan keseluruhan museum. Bentuk-bentuk melengkung dengan warna-warna lembut (pastel) yang berkesan romantis sangat mendominasi interior ruang museum. Meski permainan warna pada masing-masing bidang dinding terlihat kontras, namun masih tetap terlihat harmonis. Permainan warna yang dinamis tersebut seolah berkata bahwa meski hidup ini penuh dinamika dan warna namun tetap harus dijalani dengan harmoni (seimbang) .

griya-2Bangunan utama museum terdiri dari tiga lantai, yang mengambil filosofi dan kepercayaan orang Bali yang melukiskan struktur Tuhan dengan percikan sinar sucinya yakni dewa-dewi, manusia, dan bhutakala. Museum ini terlihat megah dengan wujud arsitekturalnya yang memperlihatkan keanggunan sentuhan Rococo yang dipadu dengan konsep dan kearifan arsitektur Bali.

Bangunan Blanco Museum ini pun memiliki arti dari setiap bentuknya. Sebut saja di depan museum berdiri batu marmer besar menyerupai pintu masuk atau candi kurung setinggi 15 meter. Ini adalah logo Blanco Musem yang merupakan tanda tangan Don Antonio Blanco apabila dilipat dua. Sementara di kiri-kanan pintu masuk tersebut terdapat patung naga dari batu yang menyiratkan sebagai pengawal/penjaga museum secara mistis. Di depan museum terdapat air mancur yang melambangkan ombak di laut dan juga berhubungan dengan semua kosmos yang ada.

Puncak atap museum disebut dome yang dalam bahasa Bali dikenal dengan nama saab. Dome (saab) ini melambangkan topi penutup sebagai wujud persembahan kepada Sang Maha Pencipta. Satu (1) atap ini dengan 8 sudut ini memiliki arti lambang dari 9 penjuru mata angin (pengider-ider).

Sementara di atas museum ditempatkan patung-patung penari berwarna keemasan sebagai wujud penghargaan sang Maestro Don Antonio Blanco kepada penari-penari Bali, yang merupakan sumber inspirasinya dalam melukis saat pertamakali datang ke Bali.

Tak hanya itu, mereka yang mengunjungi Blanco Museum ini juga bisa menikmati suasana lingkungan museum yang dirancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan aspek lingkungan. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top