Bunda & Ananda

Kelola Waktu Tidur Anak agar Hidupnya Menyenangkan

Widiantara

Bagi orangtua yang anak bersekolah, pasti memiliki pengalaman dalam membangunkan anak di pagi hari. Ada yang mudah dibangunkan, ada yang sulit. Bagaimana kiat agar orangtua bisa membantu anak bangun pagi dan semangat menjalani hari-harinya?

Menurut I Made Widiantara, S.Psi. M.Psi, ada beberapa penyebab seorang anak sulit bangun pagi. Pertama, kuantitas  dan kualitas tidur si anak. Anak akan sulit bangun pagi jika tidur malamnya kurang, baik secara kuantitas maupun kualitas. NSF (National Sleep Foundation) menyatakan bahwa keperluan tidur si anak berbeda-beda sesuai dengan usianya. Sebagai contoh, anak dengan usia pre-school dengan usia 3 sampai 5 tahun memerlukan waktu tidur antara 10 sampai dengan 13 jam sehari, Anak dengan usia 6 sampai dengan 13 tahun memerlukan waktu tidur selama 9 sampai 11 jam, sedangkan anak dengan usia 14 sampai 17 tahun memerlukan waktu tidur selama 8 sampai 10 jam.

Kedua, kondisi kesehatan si anak. Ada beberapa anak yang sakit atau juga yang kurang gizi akan mengalami kesulitan tidur, sehingga bangunnya pun akan mengalami permasalahan. Bayangkan kalau anak masih lapar terus disuruh tidur, pastilah akan susah tidur karena menahan lapar. Dalam beberapa penelitian menyatakan ada dua hal yang paling besar pengaruhnya seorang anak akan dengan cepat tertidur yaitu karena perutnya kenyang dan lelah setelah bermain (beraktivitas).

“Anak yang mudah bangun pagi, pastinya ketika dia mendapatkan waktu tidur yang cukup dengan kualitas tidur yang cukup pula, selain karena si anak sudah dibiasakan oleh orang tuanya untuk secara rutin bangun pagi,” ujar pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini.

Agar anak mudah bangun pagi untuk melakukan aktivitas rutinnya seperti ke sekolah, orangtua semestinya melakukan pendekatan yang humanis. Persiapkan malam hari sebelum si anak tidur dengan memperhatikan asupan gizi si anak. “Anak harus dalam kondisi sehat tanpa kurang gizi. Sebagai contoh makan malam secukupnya sehingga si anak tidak sampai kelaparan yang bisa membangunkannya saat tidur malam. Kalau anak sehat pastilah kualitas tidurnya akan lebih bagus. Minum susu mungkin menjadi salah satu kebiasaan bagus di malam hari, karena dengan kandungan gizi yang ada di dalamnya akan membuat si anak cepat tidur,” ujar dosen Poltek Negeri Bali ini.

Selain itu, orangtua harus membiasakan kebiasaan sehat di sore hari atau sebelum tidur, seperti: mandi sore setelah beraktivitas (berkeringat), kemudian sebelum naik ke kasur biasakan cuci kaki dan tangan, menggosok gigi dan juga minum air putih, kemudian sebelum terlelap diajak berdoa agar tidurnya nyenyak dan mimpi indah.

Ritual membacakan dongeng merupakan suatu hal yang positif bagi si anak, selain mengembangkan imajinasi si anak, juga membuat pikiran anak akan lebih fokus dan memudahkannya cepat tertidur. Ketika mendongeng pun perlu diakhiri dengan kata-kata sugesti untuk membuat si anak berpikir positif. Berikan pengertian, tidur yang nyenyak akan membuat badan lebih sehat, dan kalau nyenyak tidurnya besok pagi bisa bangun pagi sehingga bisa sekolah tepat waktu dan tidak ketinggalan pelajaran.

“Oran tua bisa mengkondisikan suasana kamar si anak dengan nyaman, misalnya mengatur suhu ruangan dengan pengaturan AC kalau di kamar memakai AC. Jangan terlalu dingin ataupun terlalu panas. Selain itu sinar lampu perlu diatur sedemikian rupa sehingga tidak begitu terang dan menyilaukan mata sehingga akan membuat susah tidur. Sebaliknya, kamar yang gelap pun juga tidak bagus, karena kebanyakan si anak takut akan gelap. Dari kelima indera manusia, indera yang paling terakhir dan yang pertama terjaga adalah indera pendengaran, sehingga sangatlah penting bagi orang tua yang ingin agar anaknya bisa tidur nyenyak untuk mengkondisikan agar sedikit ada suara-suara yang mengganggu tidur si anak. Seperti dengan menurunkan volume televisi, radio dan lainnya termasuk ponsel orangtua,” ujar ayah dua anak ini.

Di pagi hari, orang tua perlu membuat suara-suara yang bisa membangunkan si anak. Suara bisikan dan ajakan bangun pagi merupakan cara terhalus untuk membangunkan. Bisa juga menggunakan alarm, sehingga si anakpun bisa terbangun dengan baik dan tanpa dipaksa dibangunkan. Cara lain untuk membangunkan si anak, dengan melakukan pemijatan lembut di punggungnya. Dengan pijatan lembut tersebut, diharapkan akan merangsang persyarafan si anak agar cepat tersadar dan terbangun. Hal positif lain yang perlu dibiasakan orangtua adalah minum air mineral (air putih) sesaat setelah bangun pagi, setelah itu jika memungkinkan ajaklah si anak untuk sekadar menggerakkan badannya atau berolahraga agar makin sadar dan tidak mengantuk lagi.

HINDARI “MAGER”

“Secara psikologis, pasti terkait antara aktivitas anak dan waktu tidur. Anak yang normal dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal akan membuat kualitas tidurnya juga normal. Jika seorang anak beraktivitas secara berlebihan, mereka akan merasa kelelahan secara berlebihan dan  akan lebih sering mengalami masalah tidur, misalnya akan mengigau atau mimpi buruk. Mungkin para orangtua pernah mengalaminya saat mendapati si anak yang terbangun di malam hari kemudian mengigau dan gelisah, kemudian setelah ditelusuri, si anak pada saat siangnya bermainnya begitu lama dan berlebihan. Orangtua perlu mengawasi anak agar jangan sampai beraktivitas berlebihan, begitupun sebaliknya jangan sampai kurang melakukan aktivitas, istilah kerennya saat ini “mager” atau malas gerak. Sepertinya ini menjadi fenomena anak-anak saat ini, dimana anak-anak terlalu asik bermain gadget dengan permainan yang beraneka macam, sehingga juga mempengaruhi perkembangan otot kebugarannya,” jelas Widiantara.

Agar anak bisa istirahat yang cukup, orangtua perlu sering berkomunikasi dan mengadakan kesepakatan yang positif. Berkomunikasi dengan kata-kata positif dengan ajakan beraktivitas dan bermain yang baik, seperti olahraga berjalan, bersepeda, dan aktivitas lainnya. Membatasi aktivitasnya dalam bermain gadget adalah tantangan terbesar orangtua saat ini, salah satu caranya adalah membuat kesepakatan agar bermain gadget dibatasi waktunya, kapan saja boleh main gadget dan kapan tidak boleh. Memang biasanya anak susah diajak kompromi untuk yang satu ini, caranya adalah saat gadget-nya mati, maka ada baiknya jangan buru-buru di-charge, sehingga memberikan waktu yang lebih lama untuk tidak bermain gadget. Atau, jangan selalu sediakan paket data internet, sehingga si anak tidak selalu bisa mengakses permainan di gadgetnya.

Cara lain untuk mengatur anak agar bisa istirahat yang cukup, adalah dengan cara mengubah perilaku orangtua. Sebagai contoh orangtua juga harus membatasi atau mengurangi menonton televisi. Banyak orangtua yang kadang kalau sudah menonton televisi apalagi nonton sinetron atau teledrama, menjadi tidak peduli lagi waktu istirahat si anak, sehingga si anakpun ikut-ikutan menonton dan lupa waktu istirahat.

Salah satu indikator kesehatan dan kebahagiaan sebuah keluarga adalah bagaimana keluarga tersebut bisa memulai kegiatan pagi hari dengan cara menyenangkan. Hal ini termasuk saat mempersiapkan anak-anak bangun pagi dan memulai aktivitasnya ke sekolah. Pentingnya contoh bagi orangtua agar tidak malas bangun pagi, adalah salah satu hal yang perlu dilakukan para orangtua. Sehingga orangtua yang membiasakan bangun pagi dengan bermacam-macam kegiatan di dapur dan mandi akan membiasakan si anak untuk mengikutinya.

“Perlu adanya pembagian peran dan tugas orangtua dalam hal ini seorang ayah dan ibu agar tidak “megrudugan”. Sebagai contoh, selagi si ibu mempersiapkan sarapan pagi, si ayah yang membangunkan si anak, kemudian mandi, dan begitu seterusnya. Sehingga peran dan tugas kedua orang tua ini bisa saling mengisi dan berbagi. Membiasakan aktivitas yang terjadwal di pagi hari sangatlah penting, seperti bangun pagi jam berapa, siapa yang harus merapikan tempat tidurnya, siapa yang mandi duluan agar tidak berebut (kalau kamar mandinya tidak banyak), sarapan pagi yang cukup dan jam berapa harus sudah berangkat ke sekolah. Si anak, kalau sudah dibiasakan dengan pola perilaku yang terjadwal akan lebih menikmati aktivitasnya. Secara umum, konsep hidup teratur itu akan dimaknasi oleh si anak sebagai sesuatu yang menyenangkan.  Jadi kata kunci dalam mengatur agar anak bisa bangun pagi dan dapat beraktivitas dengan menyenangkan adalah dengan membuat kesepakatan hidup teratur dan terjadwal. Sebagai orangtua harus menjalankan dengan konsisten jadwal dan kesepakatan tersebut. Kemudian secara berlahan-lahan buatlah si anak untuk ikut bertanggung jawab atas aktivitasnya di pagi hari, dengan menekankan hukum sebab akibat, yaitu bahwa kalau si anak tidak mentaatinya (tidurnya malam dan tidak bangun pagi, misalnya) maka akan merusak jadwal kegiatan hari itu,” ungkap Widiantara. (ngurahbudi@cybertokoh.com).

To Top