Nine

drg. Farida Istiarini, Sp.Ort: Senyum Mereka Jadi Bahagianya

Dokter Farida saat memperdalam ilmu orthodonti-nya di Eropa

 

Senyum adalah bahasa paling indah untuk mengungkapkan perasaan bahagia. Dan lewat bibirlah senyum itu disampaikan. Dapat dibayangkan jika bibir yang dipakai untuk tersenyum itu kondisinya memprihatinkan. Hal inilah yang dialami oleh para penderita bibir sumbing. Mereka tidak dapat menyampaikan ungkapan hatinya dengan senyuman karena kondisi bibir yang terbelah. Tentulah dapat dibayangkan bagaimana perasaan para penderita bibir sumbing. “Kebanyakan mereka sedih, tidak percaya diri dan berada dalam kondisi minder,” ungkap drg. Farida Istiarini, Sp.Ort. Tidak hanya itu beban mereka akan ditambah lagi dengan sikap lingkungan yang tidak mendukung. Mereka kerap mengalami bullying dan tidak jarang dikucilkan.

Karena itulah, saat melihat pasiennya tersenyum kembali, adalah momen yang paling membahagiakan dalam hidup dokter Farida. Ada rasa haru tiap kali ia melihat pasien bibir sumbingnya akhirnya bisa tersenyum menampilkan keindahan. “Sungguh saya sangat bahagia tiap kali melihat mereka tersenyum,” ujar Farida yang ditemui menjelang praktik di klinik Joli Sourire Dental Care di Lombok miliknya beberapa waktu lalu. Meski usianya masih relatif muda, Farida tidak melulu menghabiskan waktunya di ruang praktik untuk mengumpulkan pundi-pundi uang yang bisa datang tiap waktu bahkan tiap menit, melainkan ia juga kerap meluangkan waktunya untuk bekerja sosial.

Bersama timnya dari Rotary Club Internasional dan Yayasan Kita Peduli, Orthodontist pertama yang merupakan putri daerah NTB ini turun lapangan melakukan bakti sosial demi membuat para penderita bibir sumbing di NTB tersenyum bahagia. Farida memanfaatkan keahliannya untuk bekerja sosial sejak pertama kali menjadi dokter.

Setelah delapan tahun terlibat kerja sosial dalam melakukan operasi bibir sumbing di Nusa Tenggara Barat sejak tahun 2008, dokter Farida Istiarini, Sp.ort., belum juga bisa bernapas lega mengingat kasus bibir sumbing masih terus banyak ditemukan. Padahal setiap tahun setidaknya satu hingga dua kali operasi gratis bibir sumbing dilakukannya bersama timnya. “Kasus bibir sumbing di NTB masih belum berkurang jumlahnya. Tiap kali operasi kami lakukan, rata-rata pesertanya ada 35-45 orang pasien. Dan jumlah itu relatif stabil tiap tahunnya. NTB termasuk yang tinggi angka bibir sumbing dibandingkan daerah lain di Indonesia,” ungkap Farida. (nanik.itaufan@cybertokoh.com)

 

80% Penderita Bibir Sumbing Karena Faktor Genetika

Menurut dokter Farida, tingginya angka bibir sumbing di NTB khususnya di Pulau Lombok dipengaruhi faktor genetik dan kebiasaan pernikahan yang terlalu dekat (antar keluarga) yang sering terjadi di Lombok. “Banyak kecenderungan memilih pernikahan antar keluarga khususnya yang memiliki hubungan keluarga terlalu dekat menjadi salah satu faktor genetis lahirnya anak bibir sumbing. Sebagian besar (80%) dari pasien yang datang untuk operasi bibir sumbing, adalah mereka yang terlahir dari orangtuanya yang masih berkerabat, seperti pernikahan antara sepupu,” ungkap putri dari H.M. Rapi’i dan Hj. Kurniah ini.

Bibir sumbing pada bayi bisa dihindari bila si ibu menjaga asupan gizi yang dikonsumsinya selama hamil. Karena menurutnya bibir sumbing ini terjadi selain karena faktor genetik (keturunan), perkawinan antar kerabat dekat juga karena ibu hamil kekurangan gizi.

Farida banyak menyiapkan waktu dan tenaga tanpa dibayar dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti ini, adalah karena keinginannya melihat anak-anak NTB penderita bibir sumbing dapat merenda cita-cita dan memiliki masa depan. Karena menurutnya, angka penderita bibir sumbing di NTB sangat tinggi, terutama anak-anak. Anak-anak yang memiliki peluang menjadi pemimpin dan penerus generasi NTB yang menderita bibir sumbing kebanyakan putus sekolah akibat minder dan kerap dibully.

“Jika para penderita bibir sumbing, terutama anak-anak, tidak tertangani dengan baik dan sejak dini, bagaimana masa depan mereka dengan segala beban psikologi dan tekanan yang terus mengikuti selama mereka sumbing. Dan ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” kata dokter Spesialis Orthodontis lulusan Universitas Gajah Mada tahun 2008 ini. Karena itulah sejak pulang ke Lombok tahun 2009, Farida lalu mendedikasikan sebagian waktunya untuk menjadi voluntir dalam menangani penderita bibir sumbing ini.

Farida termasuk perempuan yang beruntung menjalani profesinya itu. Karena ia berada dalam dunia yang perbedaannya sangat mencolok. Saat ia turun lapangan dan menjadi voluntir bagi penderita bibir sumbing, Farida harus berhadapan dengan orang-orang biasa yang kebanyakan hidupnya kurang beruntung dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang minim. Di sana ia harus menjadi sosok yang dituntut harus bisa menghadapi situasi serumit apapun. Sangat berbeda ketika ia tengah menjalankan praktik sebagai dokter yang merawat dan mempercantik gigi pasiennya yang kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke atas. Para pasien itu datang ke tempat praktiknya dengan tampilan yang wangi dan pengetahuan yang mumpuni dengan begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang juga siap dengan biaya-biaya untuk membayar keahliannya.

Itulah keuntungan bagi Farida yang mungkin tidak bisa diperoleh semua dokter. Ia mengenal dunia pasien bibir sumbingnya dengan segala permasalahannya, ia juga mengenal dunia pasien dari kalangan atas. Di sanalah keseimbangan hidup diperoleh Farida. Dan itu pengalaman dan pelajaran berharga bagi dirinya dan juga putera putrinya yang kerap ia ajak saat melakukan bakti sosial. Farida mengajarkan anak-anaknya untuk hidup dengan kepedulian.

Meski kesibukannya terbilang tinggi, sebagai seorang ibu dua anak, Keysha Nasheeta dan Arvyn Ramadhany, Farida masih tetap meluangkan waktunya untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah. Hanya dalam keadaan yang sangat terpaksa saja ia tidak melakukan itu. Sehari-hari selain melakukan bakti sosial operasi bibir sumbing sesuai dengan yang sudah terjadwal, Farida menjalankan tugasnya di rumah sakit daerah Lombok Barat. Usai jam kerjanya itu ia pulang untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah dan setelah itu langsung menuju tempat praktik di kliniknya hingga malam hari.

Di sela-sela aktivitasnya sebagai seorang dokter, Farida rajin berolah raga sepeda. Ia kerap bersepeda untuk mengisi waktunya. Di samping untuk menjaga kebugaran tubuhnya, rupanya Farida sempat menjajal kemampuannya bersepeda dengan mengikuti ajang lomba Grand Fondo New York (GFNY) jalur Lombok. Pada kategori 80 km, Farida sukses menjadi juara ketiga pada ajang lomba yang diikuti oleh peserta yang datang dari lebih 100 negara itu dengan menduduki posisi ketiga untuk usia 40-44 tahun. Hobi bersepeda yang tiga tahun terakhir digelutinya inilah yang membuatnya dapat menjaga vitalitas dan kebugaran tubuhnya meski aktivitasnya padatnya. (nanik.itaufan@cybertokoh.com)

 

To Top