Kolom

AHOK

“Jadi bagaimana Ahok, Pak Amat?” tanya pak Made.
“Ya, serahkan saja pada proses hukumnya, Pak!”
“Pak Amat masih milih Ahok?”
“Ya, tetap!”
“Meskipun Pak Amat bukan penduduk Jakarta?!”
“Tetap, Pak Made!”
“Kenapa?”
Amat nampak bingung. Kemudian langsung memperbaiki jawabannya.
“Ya, nggaklah Pak Made. Kita kan bukan penduduk DKI!”
“O, kirain Pak Amat jadi pindah ke DKI!”
Pak Made ketawa. Lalu ngeloyor pergi. Para tetangga yang lagi pada menyapu halaman, ikut ketawa. Amat yang merasa sudah diejek, ngedumel.
“Apa salahnya orang milih Ahok?” kata Amat sewot. Bu Amat cepat nongol.
“Kenapa, Pak? Pagi-sudah ahok-ahok?!”
“Itu Pak Made, masak ngeledek Bapak terus?”
“Ngeledek bagaimana?”
“Ya kan gara-gara Bapak milih Ahok.”
Lho, jadi kita  jadi mau pindah ke Jakarta?”
Amat tercengang. Para tetangga yang masih nguping kembali ketawa. Terpaksa Amat tidak menjawab. Ia heran kenapa ia terus jadi bahan olok-olok. Bahkan istrinya sekarang ikut menertawakan di depan tetangga.
Amat memang sudah sempat gembar-gembor memujikan Ahok. Ia menganggap Ahoklah yang sudah berhasil menyelamatkan ibukota dari banjir. Baginya setelah Bang Ali, baru Ahok gubernur yang berani dan nyata kerjanya membenahi “rimba'” Jakarta.
Malam hari, karena penasaran,  Amat terpaksa bertanya:
“Kok ibu ikut ngejek Bapak mau pindah Jakarta? Kenapa?”
Bu Amat tersenyum.
“Bapak kesel, ya?”
“Kesel sih tidak. Cuma mangkel saja!”
“Kalau begitu, bagus.”
Amat terkejut.
“Kok bagus?”
“Ya! Habis, gara-gara Bapak pernah memuji Ahok sebagai gubernur yang satu-satunya kerja betul sesudah Bang Ali, Pak Made marah. Nah sekarang Ahok kena perkara, kesempatan bukan hanya Bapak, saya juga diketawain oleh ibu Made di depan ibu-ibu arisan. Disindir-sindir, kapan jadi pindah ke ibukota, katanya!. Jadi saya terpaksa ikut-ikutan ngomong begitu, ikut ngetawain Bapak, supaya mereka berhenti ngetawain saya!”
Amat manggut-manggut.
“O, begitu?! Jadi kalau ikut-ikutan ketawa jadi tidak termasuk pihak yang diketawain?”
“Iya, kan?!!”
Amat tiba-tiba ketawa.
“Jadi kalau begitu, kalian ibu-ibu juga sudah main politik kecil-kecilan, sesama tetangga!”
“Ya bagaimana lagi, Pak, supaya aman. Apa enaknya kalau hidup tegang.”
“Kalau begitu, Bapak harus pura-pura memang mau pindah ke Jakarta, tapi sekarang tidak jadi! Begitu?”
“O, jangan! Nanti mereka kecewa, kehilangan bahan untuk ketawa! Bapak terus saja seperti sekarang ini. Tapi tidak boleh marah!”
Amat mau membantah, tapi Bu Amat membentak.
“Sudah! Jangan membantah terus! Ini politik!”
Amat bengong. Tak habis pikir kenapa sandiwara sudah menjalar keluar panggung. Tidak hanya ke jajaran
atas. Juga sudah merambah ke pergaulan antar tetangga.
“Tapi baiklah, kalau itu dapat membuat hidup bertetangga lebih damai. Apa beratnya hanya  bersandiwara mau pindah ke Jakarta!” kata Amat akhirnya.
Sejak itu, Amat jadi badut untuk diketawakan semua oraang. Ia berkoar memastikan akan pindah ke Jakarta segera.
Tapi apa yang terjadi? Sebaliknya dari ketawa, semua orang bengong. Mereka ramai kasak-kusuk. Dan pada puncaknya, malam-malam bertamu ke rumah Amat.
Dipimpin  oleh Pak Alit, mereka bertanya, apa rumor Amat mau hijrah ke Jakarta itu betul. Ketika Amat mengangguk dengan harapan semua akan ketawa, terjadi sebaliknya.
“Aduh, Pak Amat, maaf seribu maaf,  kalau kami lancang,”kata Pak Alit mewakili warga,”bukan ingin mencampuri hak-hak azasi Pak Amat, tapi kami hanya mengingatkan sebagai sesama warga, persoalan Pak Ahok sudah diurus oleh hukum. Sebagai warga dari negara hukum, kita wajib mematuhi bagaimana pun nanti keputusannya. Lalu, soal gubernur, Pak Amat, sekali lagi beribu maaf,  sudahlah biarkan rakyat Jakarta memilih gubernurnya sendiri, kenapa mesti direcoki? Pak Amat lebih baik memikirkan siapa nanti yang harus memimpin Bali dalam 5 tahun ke depan ini. Bagaimana Pak Amat, cocok, tidak dengan saran kami?”
Amat terpesona.

To Top