Kreasi

SGA Mekar Jaya Lambing: Mengungkapkan Ekspresi Memunculkan Kreativitas

 

Ketika diumumkan sebagai Juara II pada Lomba Gong Kebyar Anak-anak pada Festival Seni Budaya (FSB) Badung 2016, para pendukung Sekaa Gong Anak-anak Mekar Jaya langsung tersenyum. Senang dan tidak senang, puas dan tidak puas, mereka harus menerima kenyataan itu. “Juara adalah yang kesekian, yang terpenting adalah proses belajar dan memupuk rasa kebersamaan,” kata Wah Elang, anak yang bertugas sebagai tukang kendang itu.

Dalam FSB itu, Sekaa Gong Anak-anak (SGA) Mekar Jaya Desa Adat Lambing, Desa Mekar Bhuana tampil sebagai duta Kecamatan Abiansemal. Mereka menampilkan tiga materi yaitu Tabuh Kreasi Pepanggulan “Tapa Wana” karya I Wayan Gede Arnawa, S.Sn, “Tari Manukrawa” ciptaan Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST MA (tari) dan alm. Wayan Berata (tabuh) serta Tabuh Kreasi “Purwa Pascima” juga karya alm. Wayan Berata.

Penabuh setingkat SD dan SMP itu beraksi dengan seksi. Sebagai penabuh anak-anak, mereka tidak mau menampilkan gaya yang bukan miliknya sendiri. Artinya, tidak meniru panabuh dewasa atau gaya sekaa tabuh yang ada. Mereka memainkan gamelan sesuai dengan dunianya sendiri, sehingga tampil tanpa beban namun berkarakter. Mereka tampilkan gaya merupakan efek dari memainkan gamelan itu sendiri, bukan dibuat secara berlebihan.

Demikian pula dengan gending-gending yang mereka sajikan. Para penata tabuh dan pembina, tampak cerdas dalam mengolah gending yang enak dimainkan oleh penabuh anak-anak. Walau demikian, bukan berarti meninggalkan pakem, teknik dan uger-uger dalam megamel itu tiada atau dihilangkan. Justru sebaliknya, penampilan SGA Mekar Jaya yang didukung sekitar 40 anak itu mengutamakan pakem, teknik serta uger-uger dalam megamel.

Semua syarat itu mereka kuasai, seperti nyorot dan ngotek, sehingga aksi seniman cilik ini mengigit. Mereka memainkan gamelan sambil menari dengan ekspresi luar biasa. Sambil terenyum egar, mereka memainkan bilah-bilah gamelan dengan penuh kegembiraan. Permainan ritme, tempo serta mengedepankan teknik pukulan membuat penampilannya semakin manis dan terkesan lengut.

Para penabuh mengedepankan rasa, sehingga terdengar merata. Apalagi didukung dengan penataan busana yang sangat manis, udeng ngenjik, kain dan saput meprada ngereneb, baju putih serta aksesoris menambah keindahan dalam penampilannya. Mereka tampil kompak dan maksimal, seperti halnya dalam latihan sehari-harinya. Maklum, SGA Mekar Jaya adalah sekaa sebunan, sehingga siap megamel secara utuh kapan dan dimanapun.

Semua pendukungnya adalah satu banjar, sehingga memiliki jiwa dan rasa yang tak jauh berbeda. Kebersamaan bermain dalam kesehariannya itu juga menjadi kebersamaan di atas pentas, sehingga suasana tak menjadi kaku. Hal itu juga merupakan sebuah kemenangan yang sesungguhnya. Karena, sebelum ataupun sesudah mengikuti festival, sekaa gong itu tetap bisa tampil bersama secara kompak. Beda dengan sekaa gong yang didukung dari penabuh bon (pinjaman). Ketika ngayah, lomba ataupun festival, kapan dan dimanapun pasti akan lebih mudah mengkordinirnya.

I Gusti Made Lumbung, seniman tabuh asal Banjar Lambing yang juga selaku pembina mengatakan, sebelum mengikuti festival SGA Mekar Jaya sudah pernah mapetuk, tampil bareng bersama Sekaa Gong Dewasa Genta Gurnita Santi dan pentas bersama Sekaa Gong SMK Negeri 5 Denpasar. Namun, sebelum itu mereka selalu ngayah sebagai bentuk syukur karena sudah mendapat kesempatan ikut melestarikan seni budaya Bali. “Kegiatan ini untuk menumbuhkan mental dan kemampuan dalam megamel,” ucapnya.

SGW Mekar Jaya berdiri sejak 2015 yang berawal dari Pasraman Kilat di Desa Adat Lambing. Anak-anak setingkat SD dilatih memainkan gamelan secara terjadwal yaitu setiap 3 kali dalam seminggu. Tak hanya, memainkan gamelan gong kebyar, tetapi juga memainkan gamelan gender wayang dan jenis gamelan tradisional lainnya. Bahkan, diantara mereka ada yang sudah berkali-kali yang tampil dalam Pesta Kesenian Bali pada Parade Dalang Anak-anak sebagai penabuhnya.

Menurutnya, tampil dalam festival bukanlah sebagai puncak, melainkan sebagai sebuah proses pembelajaran. Sebab, memainkan gamelan tradisional Bali, tak hanya sekadar menjalankan hobi, mengasah keterampilan dan bentuk pelestarian seni, tetapi juga sebagai bentuk pembelajaran budi pekerti. “Manfaatnya  lebih, karena dapat menyeimbangkan otak kanan dan kiri serta membangkitkan kecerdasan emosional (EQ) anak,” jelas Lumbung.

Dalam memainkan gamelan, anak akan secara bebas bisa mengungkapkan ekspresinya sehingga memunculkan kreativitas. “Mereka melakukan dengan senang dan tanpa beban, sehingga mampu membangkitkan kreativitasnya. Komunikasi antara anak dan pelatih dan masyarakat selalu ada dalam mencapai tujuan,” imbuhnya. Selain I Gusti Made Lumbung, sekaa gong ini juga dibina I Wayan Gede Arnawa, S.Sn dan I Wayan Muliyadi, S.Sn. (Darsana)

To Top