Bunda & Ananda

Bangun Kepercayaan Diri Anak tanpa harus Ikut Tren

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

Itu mainan apa ya Nak? Itu pakaian model apa namanya?, Ibu ngga tau?” Belakangan banyak orangtua yang mempertanyakan kemampuan dan kebiasaan anak-anak zaman kini dalam memaknai tren. Anak sekarang menjadi lebih gaul bahkan mudah terhanyut dengan tren. Biasanya yang paling teramati adalah dalam hal teknologi, bahasa dan juga fashion.

Berdasarkan teori perkembangan psikologi, pada dasarnya ananda baik anak-anak maupun remaja akan mengalami perkembangan yang meliputi aspek kognitif, afektif, psikomotor, dan sosial. Untuk memenuhi tahapan perkembangan tersebut, ananda memerlukan ‘rasa ingin tahu’ sehingga dapat belajar dan memaknai setiap pengalaman di lingkungannya.

made-padma-dewi-bajirani-2

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

“Secara alamiah, anak dan remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dimana hal ini juga akan mempengaruhi perkembangan dirinya. Pada masa ini, ananda juga cenderung ingin mencoba atau yang sering disebut dengan masa-masa eksplorasi. Ananda akan mencoba hal-hal yang “menarik” menurutnya. Tidak menutup kemungkinan jika Ananda biasanya akan sering kali mencoba hal-hal yang dianggap sebagai tren di lingkungannya. Hal inilah yang sering kali membuat Ananda terlihat lebih up to date dibandingkan dengan Ayah dan Bunda. Kadang Ayah dan Bunda juga terheran-heran mendengar serangkaian istilah yang disebutkan oleh Ananda,” ujar Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

Perempuan yang akrab disapa Padma ini menuturkan, pada dasarnya, Ayah dan Bunda juga mengalami hal serupa, misalnya saja seperti ingin membeli motor keluaran terbaru. Ingin potong rambut sesuai dengan model yang terkini. Membeli make up yang sedang booming saat ini. Melihat- lihat tas- tas lucu di pasar atau kemeja kantor di swalayan. Nah, apa yang membuat Ayah dan Bunda melakukan hal tersebut? bahkan mengulanginya disetiap datangnya hal-hal baru? Bisa jadi itu juga yang terjadi pada Ananda.

“Sebenarnya banyak sekali faktor yang saling berkaitan sehingga Ananda bisa dengan mudah up to date. Pertama, Ananda mengikuti tren bisa dikatakan untuk menjawab rasa ingin tahu tentang peristiwa yang ada di sekelilingnya. Sebagai contoh, ketika di sekolah, Ananda mendengar teman-temannya sedang menbicarakan tentang  game online terbaru (sebut saja Pokemon Go). Teman-temannya nampak sangat asyik dan seru memperbincangkannya. Setelah melihat situasai tersebut, muncullah rasa ingin tahu Ananda, di dalam benaknya akan bertanya “Pokemon Go itu apa ya?”. Ananda mulai mencari tau tentang Pokemon Go dan pada akhirnya mencoba permainan tersebut,” ujar pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Bali ini.!

Kedua, hal ini akan memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan psikologis Ananda. Teori perkembangan kogninif Vygotsky menjelaskan jika perkembangan mental anak merupakan hasil interaksi Ananda dengan orang-orang di sekitarnya, lingkungannya, termasuk kegiatan sosial dan budayanya. Proses belajar yang dialami oleh anak akan membentuk pribadi Ananda. Misalnya seperti perkembangan sosialnya, Ananda akan menjadi lebih mudah berinteraksi dengan teman-temannya yang lain. Hal ini akan membuat Ananda merasa diterima oleh lingkungannya. Ketika lebih mudah berinteraksi karena memiliki pemahaman tentang tren yang sama, Ananda juga akan membangun konsep diri juga bisa jadi meningkatkan kepercayaan dirinya. Kondisi tersebut menjadi penguatan positif pada Ananda yang membuatnya ingin mengulangi hal serupa berulang kali. Apakah Ayah dan Bunda mengalaminya?

Apa yang membuat hal ini menjadi perbedaan antara orangtua dan Ananda? Generasi yang berbeda antara orangtua dan Ananda menjadikan jenis ketertarikan tren yang berbeda pula. Kini, perkembangan teknologi memiliki andil yang cukup besar terhadap minat keingintahuan setiap individu. Jadi tak memungkiri jika anak-anak zaman sekarang memiliki kecenderungan yang luar biasa terhadap hal-hal yang berbau teknologi.

“Generasi masa kini, generasi Y dan Z. Ya istilah ini digunakan untuk anak-anak yang lahir pada era berkembangnya teknologi. Hal ini menjadikan Ananda kita saat ini cenderung menyukai hal-hal yang berkaitan dengan teknologi dan internet. Mereka yang lahir pada generasi ini juga memiliki kecenderungan kebebasan dan keterbukaan di tengah perkembangan teknologi yang kian pesat. Maka dari itu, generasi ini sering menggunakan teknologi komunikasi dalam berinteraksi. Tidak heran jika Ananda akan sering bermain sosial media, media komunikasi instan, game online dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan dunia maya. Keadaan ini tentunya juga akan memberikan dampak pada kegiatan Ananda kita setiap harinya. Mengingat bahwa persebaran informasi dapat terjadi dengan cepat dan sangat luas saat ini. Kondisi ini kadang memunculkan kesenjangan ketertarikan informasi Ananda dan Ayah-Bunda,” jelas mahasiswa Program Magister Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Padma menambahkan banyak hal positifnya seperti Ananda menjadi lebih berwawasan karena terbukanya informasi yang bisa diterima oleh anak. Tentunya karena dukungan kemajuan teknologi tadi. Selain itu, Ananda menjadi tahu tentang perkembangan yang terjadi di belahan dunia yang lainnya, misalnya berita, pendidikan, tren permainan, pakaian, dan lainnya. Hal ini juga menjadikan Ananda cenderung lebih mudah bekompetensi dan beradaptasi dengan persaingan global. Misalnya saja ketika anak biasa belajar bahasa lebih banyak yang berperan pada perkembangan bahasanya. Kemudian, Ananda juga menjadi memiliki kesempatan dalam pengembangan kreativitas anak dimana anak bisa belajar banyak dari perkembangan permainan maupun sains dari belahan dunia lainnya. Adanya peningkatan kemampuan sosial Ananda dengan peningkatan kepercayaan diri atau dalam istilah psikologi disebut dengan self-esteem yang mendukung kemampuan interpersonal anak.

Di sisi lain, kondisi ini juga memiliki kelemahan seperti ketika Ananda menjadi kurang memiliki kontrol ikut tren tersebut. Selain itu, memungkinkan terjadinya ‘kecanduan tren’, dimana anak menjadi merasa selalu ‘harus ikut tren’. Saat Ananda kurang memiliki kendali, tentunya akan berpengaruh pada prestasinya. Sangat memungkinkan terjadinya penurunan prestasi belajar, konsentrasi, Ananda menjadi lupa akan kewajibannya. Kelemahan lainnya Ananda menjadi kurang mampu menyeleksi tren yang sepatutnya atau tidak sampai terbawa pada pergaulan yang bebas. Dampak lainnya adalah penurunan nilai-nilai moral pada anak-anak ketika lemahnya kontrol diri.

“Orangtua juga memiliki kendali atas kecepatan ini. Cobalah untuk tetap melihat sisi positif dari kemajuan tren ini seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, ketika dirasa Ananda mulai berlebihan terhadap tren tersebut, ada baiknya untuk tetap menegur Ananda. Tetap buatlah aturan yang disepakati bersama sebagai bentuk kontrol terhadap kecepatan yang dimiliki anak-anak zaman kini. Tidak menutup kemungkinan adanya negosiasi yang dilakukan dengan anak. Misalnya seperti diskusi bersama tentang tren-tren saat ini, melihat bersama sisi positif dan kelemahan dari tren tersebut. Pada saat berdiskusi, Ayah dan Bunda juga bisa menyisipkan dan mengingatkan kembali nilai-nilai moral keluarga. Untuk Ayah dan Bunda, jangan sungkan atau malu untuk belajar sesuatu tentang teknologi dan tren anak zaman kini, demi keselarasan informasi yang dimiliki,” ujar perempuan kelahiran Denpasar, 30 Juni 1992 ini.

Pada akhirnya, tekankan bahwa tidak semua tren harus diikuti. Ajak Ananda untuk menilai tren tersebut. Selain itu, Ayah dan Bunda juga bisa mengajak Ananda untuk membangun kepercayaan diri Ananda tanpa harus memaksakan mengikuti tren yang ada. Menggali bersama tentang tren yang sejalan dengan konsep diri Ananda, tetap bimbing Ananda sehingga bisa memilih tren yang tepat. Melatih Ananda untuk melihat peluang yang bisa dikembangkan dari tren yang ada sehingga menjadi lebih kreatif dan inovatif. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top