Sudut Pandang

Pilih Akik Warna Unik

Utami Dwi Suryadi

Sebelum trend batu akik booming, Utami Dwi Suryadi sudah tertarik dengan aneka bebatuan. Bahkan, ia sempat membeli banyak batu ketika sedang ada  tugas ke luar negeri. “Sebenarnya ikut-ikutan teman awalnya, tapi lama-kelamaan saya malah jadi suka,” tutur  anggota DPRD Bali ini

Saat  batu akik mulai ramai, dan pedagang batu akik begitu mudah ditemukan dimana-mana, ia  sempat berburu  aneka batu-batu yang memiliki manfaat bagi si pemakai.   Kesukaannya pada batu lebih karena keindahan warnanya, bukan karena batu itu memiliki manfaat bagi si pemakainya.

utami-dwi-suryadi-2

Utami Dwi Suryadi

Utami sudah mengoleksi ratusan batu. Harga termurah Rp 5000 dan harga  termahal Rp 3 juta.   Namun, ia merasa agak terganggu dengan  persepsi masyarakat,  kalau pengguna batu akik identik dengan dukun. “Saya jadi ga enak kalau mau pakai cincin atau leontin yang batunya agak besar nanti dikira dukun,” tuturnya sembari tertawa. Padahal, kata Utami, aneka batu akik koleksinya, warnanya sangat menarik dan menawan.

Ia mengatakan,  saat  sedang bersantai atau terlalu  letih urusan pekerjaan,  ia akan mengeluarkan semua koleksi batu akiknya. Satu persatu ia lap dan pandangi. “Saya merasa ada satu kepuasan, seperti refreshing dari semua kepenatan kerja. Apalagi, saya mengoleksi aneka warnanya yang cantik-cantik, saya senang sekali melihatnya,” kata politisi Partai Demokrat ini.

Walaupun ia banyak mengoleksi batu, hanya beberapa saja yang dibuatkan cangkok untuk cincin dan kalung. “Ada batu yang kecil dan warnanya terlihat manis, saya pakai cincin. Jadi tidak terlalu menyolok,” imbuhnya.

Uniknya, walaupun tak pernah mengatakan kepada publik, ia menyukai bebatuan, saat reses ke masyarakat, ada beberapa warga yang memberikan cendramata batu akik. “Saya banyak dapat batu saat reses menyerap aspirasi masyarakat. Kebanyakan sih mereka adalah orang-orang spiritual. Padahal saya tidak pernah memakai batu yang mencolok, tapi kok sering mendapat hadiah batu,” katanya heran.

Bukan itu saja, ia juga menyimpan beberapa batu yang ia dapatkan di beberapa Pura. “Batu yang saya dapatkan di Pura itu, ada yang dikasi pemangku, ada juga yang memang dapat begitu saja,” katanya sembari mengatakan tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi.   Walaupun ia memiliki banyak batu, ia tetap ingat satu persatu batu koleksinya. Termasuk, ia ingat dimana mendapatkannya, di mana membelinya, atau mendapatkan  dari seseorang.  Semuanya tetap ia ingat sampai sekarang.

Dulu, ia memiliki seorang paman yang mengoleksi bebatuan. Ia melihat sendiri, ada batu yang bernama kecubung pengasihan,  sering diurutkan di wajah sang paman. Entah percaya entah tidak, wajah pamannya yang ada sedikit benjolan menjadi normal kembali lantaran khasiat batu tersebut. Sejak itu, ia tertarik mendengar khasiat bebatuan.

Ia juga mendengar ada batu yang jika dimasukkan ke dalam air, akan memilki satu kekuatan. Bahkan, ia melihat sendiri, lantaran “kesaktian” batu itu, ada orang yang bisa mengangkat sepeda motor dengan tangannya sendiri.

Namun, kesukaannya pada batu saat ini lebih kepada keindahan warnanya. Malah, saat ia ke Eropa, ia membeli batu yang warna-warnanya bak seperti permen yang transparan. “Warnanya yang indah dengan berbagai warna membuat saya menjadi kepincut batu akik,” ujarnya.

Setelah beberapa bulan, kini trend batu akik sudah selesai. Utami mengatakan, walaupun trend sudah habis, kalau  menemukan batu yang memiliki warna yang unik, mungkin saja ia akan membelinya.  “Saya sih tidak terlalu melihat trendnya. Tapi lebih kepada suka saja,” kata Utami.

Walaupun ia getol mengoleksi batu akik, sang suami ternyata tidak terlalu tertarik. Tapi, ketika Utami membelikan  cincin dengan  aneka warna batu, suaminya juga tidak menolak. Bahkan, suaminya sering memakai cincin tersebut dengan menyesuaikan pakaian yang digunakan. “Kalau bapak pakai baju endek biru, dia pakai cincin yang berwarna biru, begitu juga kalau pakai baju merah,  pakai cincin dengan batu yang berwarna merah. Kata orang yang melihat katanya bapak lebih berwibawa. Kalau menurut saya sih, karena sesuai antara baju dengan aksesorisnya jadi kelihatan pas saja,” katanya.

 

IKUT TREND KOREA

Sementara, bagi Puspita, ia lebih suka trend fashion dibandingkan batu akik. Menurut perempuan yang berprofesi sebagai karyawan swasta ini, saat dulu fashion lebih ke gaya Korea, ia ikut mengoleksi beberapa busana ala Negeri Ginseng tersebut. “Saya mengoleksi jaket dan celana panjang ala Korea,” tuturnya. Walaupun ia mengaku, koleksinya tak terlalu banyak, tapi ia suka mengikuti tren yang ada di media sosial. “Biasanya, ada tuh di medsos penjualan online trend busana masa kini. Saya kadang ikut beli,” katanya.

Menurutnya, sah-sah saja orang mengikuti trend, namun, harus juga diimbangi dengan kemampuan keuangan termasuk cocok tidaknya dengan si pemakai. “Kalau saya sih mengikuti trend kalau cocok untuk saya, kalau modelnya tidak cocok dengan kepribadian saya, saya tidak beli. Misalnya, baju terlalu terbuka saya kurang suka. Malu saja memakainya,” ucap Puspita.

Ia menambahkan, kalau trend sudah hilang, biasanya ia akan memadupadankan busana dengan yang kekinian. “Kalau saya pilih model pasti yang tidak terlalu nyeleneh. Artinya, kalau tren sudah hilang, baju itu masih bisa dipadupadankan dengan busana yang lain. Jadi masih bisa dipakai dan tidak terbuang begitu saja,” kata Puspita. (wirati.astiti@cybertokoh.com).

 

Paling Populer

To Top