Kolom

Menjadi Trendsetter atau Follower?

Selama berabad-abad menjadi trendsetter dianggap lebih unggul dibandingkan dengan menjadi follower. Selain itu trendsetter dianggap lebih unggul karena tidak mudah untuk menjadi dan membentuk seorang trendsetter. Bagaimana pola asuh di dalam keluarga dan sistem pendidikan memiliki peranan yang penting. Pendidikan yang mendorong kemandirian di dalam berpikir, keberanian dalam pengambilan keputusan, percaya diri, ketrampilan memimpin, kemampuan berpikir serta bertindak kreatif menjadi penting dalam melahirkan seorang trendsetter.

foto-kata-hati

Made Diah Lestari, S.Psi, M.Psi

Sayangnya kebutuhan untuk menciptakan lingkungan pendidikan seperti di atas, belum banyak disadari. Kurikulum yang berjalan lebih banyak mengasah kemampuan peserta didik dalam penguasaan ilmu dibandingkan dengan memproduksi ilmu. Evaluasi pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada kemampuan peserta menyerap knowledge dibandingkan dengan skill dan pembentukan attitude menjerumuskan peserta didik pada sejumlah daftar hafalan yang harus dikuasai pada saat ujian, bukan mengasah kreativitas dan apresiasi pada esensi sesungguhnya dari sebuah pengetahuan. Pendidikan yang bertujuan untuk mencetak entrepreneur di Indonesia, masih bisa dihitung dengan jari, ironinya menjadi pengusaha mandiri masih dipandang sebelah mata, bahkan tidak lebih bergengsi dibandingkan dengan menjadi seorang pegawai dengan gaji yang pasti setiap bulannya. Jadi tidak perlu heran ketika lebih banyak follower dibandingkan dengan trendsetter di lingkungan kita.

Menjadi follower pun tidak selalu salah atau lebih rendah dibandingkan dengan trendsetterTrendsetter tidak akan menjadi trendsetter ketika tidak ada pengikutnya, sehingga pada dasarnya seorang follower memiliki peran kunci bagi trendsetter. Kita temui banyak brand atau merk lokal dan internasional yang bukan pemain pertama di bidangnya, namun hingga saat ini menjadi jawara atau no.1 di bidangnya. Sebut saja contohnya industri smartphone. Pemain pertama di industri tersebut dan yang saat ini menjadi juara di industri tersebut adalah brand atau merek yang berbeda. Pada teknologi modern, posisi trendsetter dan follower bisa berganti terus secara dinamis. Follower hari ini tidak menutup kemungkinan menjadi trendsetter di masa depan. Kuncinya adalah menjadi follower yang memiliki persistensi untuk belajar, memperbaiki diri, dan terbuka pada setiap kesempatan.

Tidak masalah sebetulnya apakah seseorang mau menjadi trendsetter ataupun follower, keduanya memiliki perannya masing-masing dalam interaksi sosial di masyarakat. Yang terpenting pada dasarnya adalah menjadi pribadi yang autentik. Eric Fromm dalam teorinya mengupas tentang fenomena alienasi yang sering terjadi pada banyak individu. Suatu kondisi dimana indvidu terlepas dari identitas dirinya dan cenderung conform dengan tren atau pun otoritas eksternal yang ada lingkungan. Contohnya adalah fenomena ABG yang meniru sepenuhnya tren berpakaian yang ada di kalangan anak muda tanpa kemudian mempertimbangkan gambaran dirinya yang sesungguhnya. Kondisi-kondisi inilah yang kemudian membuat follower menjadi terlihat dan tidak ada maknanya.

Menjadi perlu untuk meningkatkan kepercayaan diri setiap individu karena kepercayaan diri menjadi kunci utama dalam memberikan apresiasi kepada peran-peran kita apakah sebagai trendsetter atau pun follower. Kemampuan berpikir kreatif, penyelesaian masalah, dan menjadi pemimpin adalah hal utama yang diperlu untuk dikuasai agar individu mampu berhadapan secara adekuat dengan lingkungannya.

Made Diah Lestari, S.Psi, M.Psi

Sekretaris Prodi Psikologi, FK, Unud.

To Top