Kolom

TRUMP

“AS belum berhasil menobatkan seorang perempuan sebagai presiden. Beberapa dekade lalu juga banyak yang  kecewa ketika AS  gagal memilih presiden berkulit hitam pertama – sampai muncul Obama yang kemenangannya jadi kemenangan dunia. Kemenangan, keadilan, kebenaran ternyata harus banyak  menunggu, ya Bu,” kata Amat.
Bu Amat yang lagi ruwet memasukkan benang ke jarumnya untuk menjahit sarung, menoleh. Lalu asal menanggapi.
“Kenapa, Pak? ”
Amat menjawab serius.
“Ya, kalau kemenangan dari yang kita sebut keadilan dan kebenaran saja, harus menunggu, masak menunggu sarung yang sedang djahit saja, harus tidak sabar?”
Bu Amat baru sadar. Lalu dia tak jadi menjahit. Sarung yang masih robek itu diulurkan pada Amat.
“Ya sudah, kalau tidak sabaran pakai ini. Nanti kalau diketawain tamu, jangan salahkan saya!”
Amat cepat menyambut sarung dan langsung memakainya. Ia sudah risih sekali satu jam habis mandi hanya pakai kolor. Tetapi ternyata robeknya terlalu besar. Amat terpaksa membukanya lagi.
“Robeknya besar begini, bisa langsung masuk angin!”
“Makanya sabar!”
Bu Amat meraih sarung itu lagi untuk dijahit.
“Bapak pakai kain batik saja dulu, daripada kolor begitu, nanti tamunya tersinggung!”
Amat terkejut.
“Tamu? Siapa?”
“Siapa lagi! Pak Made di sebelah!”
Ngapain kemari?”
Lho bukannya Bapak bilang sudah taruhan dengan Pak Made, siapa yang akan jadi pemenang pemilihan umum AS. Ya, kan?!”
Amat terkejut.
“Waduh, betul!”
“Taruhan berapa?”
Amat bingung.
Kok bingung? Kalah atau menang?”
Amat tambah bingung.
“Kalah atau menang?”
Nggak tahu. Lupa. Soalnya sudah lama sekali, itu juga bukan taruhan sungguh-sungguh, cuma iseng ngomong.”
“Taruhan tidak boleh iseng. Kalau menang boleh iseng-iseng. Tapi kalau kalah bayar dengan apa?”
Amat terkejut.
“Berapa ya?”
“Kalah atau menang? Kalau kalah lebih baik Bapak sembunyi di kamar saja nanti saya bilang pergi. Soalnya Bu Made pernah bilang, kalau taruhannya menang, mau kredit motor.”
Amat langsung berdiri.
“Kredit motor ? Kalau begitu paling sedikit 10 juta!”
Pintu diketok. Amat langsung ngibrit ke kamar. Pintu yang tak terkunci didorong terbuka dari luar. Muncul Bu Made.
Eee, Bu Made, silakan masuk, Bu.”
“Tidak usah Bu Amat. Pak Amat ada?”
“O, Bapak lagi ke rumah Ami, anaknya sakit. Mungkin ngantar cucu ke dokter, sebab suaminya ada seminar. Kenapa, Bu?”
“O tidak, kira-kira pulangnya jam berapa?”
“Waduh kurang tahu, Bu, bapak tidak akan pulang sebelum mantu kami pulang seminar. Ada apa, Bu?”
“Tidak ada apa-apa cuma ada pesan Bapak,”
“Pesan Pak Made?”
Pintu ditutup. Bu Amat kecewa. Amat yang nguping cepat keluar. Mukanya berseri-seri.
“Wah, kalau begini kayaknya Bapak kalah, Pak!”
“Tidak bisa, Bapak pasti menang!”
“Bukannya Bapak menjagokan presiden Amerika perempuan?”
“Memang. Tapi si Trump itu kan pedagang. Dia tahu rakyat Amerika takut teroris, akibat peristiwa Menara Kembar ‘nine-eleven’ itu. Makanya dia berkoar-koar ekstrim rasialis untuk meraup dukungan!”
“Tapi Bapak bilang masak rakyat AS yang pintar bahasa Inggris semuanya itu mau memilih orang rasialis?”
Lho itu kan kecap kampanye! Apa yang disuka orang itu harus dijanjikan. Tapi setelah menang dia akan beda lagi. Makanya waktu taruhan rasanya Bapak memilih Trump yang akan menang!”
Pintu diketok lagi. Amat tersirap lalu kabur masuk. Pintu didorong lagi terbuka.
“Bu Amat.”
“Ya, Bu Made?”
“Pak Made baru saja nelepon dari Tabanan, mungkin akan terus ke Surabaya sampai akhir tahun, tolong supaya disampaikan kepada pak Amat, supaya maklum.”
“Ya, Bu Made, maklum apa?”
“Soal taruhan presiden AS.”
“Ya, Bu Made, bagaimana?”
“Suami saya bilang, maaf, dia lupa pegang siapa.”
Bu Amat bersorak dalam hati.
“Tak apa-apa Bu Made, suami saya juga lupa!”
Bu Made kelihatan gembira sekali. Ia tak mampu menutupi luapan perasaannya.
“Kalau begitu, anak saya jadi kredit motor! Permisi Bu! Paaaaak!
Bu Made kabur, lupa menutup pintu. Amat cepat nongol ketakutan mendengar Bu Made berteriak gembira memanggil suaminya.
“Aduh ratu! Kenapa bapak tidak memilih Trump, zaman sekarang kan yang galak yang menang!”

To Top