Woman on Top

Ikuti Tren dari Media Sosial

Luh Hesti Ranitasari dan Nyoman Karina Wedhanti

Perempuan terlahir dengan keindahan yang berbeda satu sama lainnya. Dari segi anatomi, perempuan memiliki bagian-bagian tubuh yang dapat mempercantik penampilannya. Menurut Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kabupaten Buleleng, Luh Hesti Ranitasari, memang seyogyanya seorang perempuan bisa menjaga penampilan agar terlihat menarik. Merupakan hal wajar jika setiap wanita ingin terlihat mengikuti tren masa kini. Ia menegaskan untuk dapat menunjang penampilan seorang perempuan juga harus menyesuaikan dengan kemampuan baik dari segi finansial maupun dari segi personal. “Cantik itu kan mahal, kalau untuk terlihat fashionable dibarengi dengan kemampuan finansial, kenapa tidak?” ungkapnya.

Selain memerhatikan finansial, ketika seorang perempuan ingin mengikuti tren hal yang perlu diperhatikan adalah gaya personal. “Perempuan dengan tubuh kecil memakai baju yang besar misalnya, malah terlihat tidak cantik,” imbuhnya. Jika seorang perempuan tidak mampu menempatkan fashionnya, maka konsekuensinya akan terlihat aneh. Hal lain yang seharusnya sangat dipertimbangkan seorang perempuan dalam mengikuti tren adalah penyesuaian dengan pekerjaan yang digeluti. “Jangan sampai kerja di lapangan malah pakai tas yang mahal, lari-lari pakai heels. Begitu juga jika bekerja di kantor jangan sampai memakai pakaian yang tidak sopan,” tambahnya.

Berkaca dari fashionnya sendiri, perempuan berzodiak Pisces tersebut mengaku lebih suka dengan gaya-gaya simpel tetapi terlihat elegan. Ia menambahkan untuk dapat tampil secara fashionable tidak mesti termakan mode tetapi juga harus terlihat sopan. Sebagai orang yang memiliki pekerjaan disoroti banyak orang, Rani sapaan akrabnya mengaku harus bisa menjadi panutan. Di usianya yang menginjak kepala 3 tersebut, ia juga harus pandai memilah pakaian yang sesuai dengan karakter dan usianya. “Apa yang saya pakai juga harus menyesuaikan dengan umur dan yang terpenting adalah nyaman dipakai,” tambahnya.

Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Buleleng tersebut tidak memungkiri jika selama ini dirinya memang suka mengikuti tren fashion dari media sosial. “Saya lihat di IG artis yang memang memiliki bodi sama dengan saya. Mereka pakai baju yang bagus kemungkinan saya pakai juga bagus, dan memang sudah terbukti,” paparnya. Soal pakaian, Rani mengakui jika memang ada salah satu brand terkenal yang menjadi langganannya. “Kebetulan kenal sehingga setiap bulan memang dikirimin gambar-gambar pakaian yang menjadi tren,” lanjutnya.

Dirinya tidak menampik, jika tren diikuti maka tidak akan pernah ada habisnya. Rani mencontohkan, baju yang dipakai cepat sekali mengalami perubahan tren dari segi warna dan bahan yang digunakan. “Kalau baju modelnya itu-itu saja, yang berubah hanya warna maupun bahan yang digunakan sehingga capat sekali up to date,” jelasnya.

Hal inilah yang membuatnya lebih suka mengoleksi tas daripada pakaian. Menurutnya tas akan lebih lama mengalami perubahan mode sehingga dirinya tidak perlu terlalu sering mengganti tas yang digunakan. “Kalau baju boleh murah tetapi kalau tas, saya harus yang branded,” ucapnya. Meskipun suka dengan barang-barang branded  akan tetapi perempuan bertubuh mungil tersebut mengaku tidak fanatik dengan produk lokal. “Koleksi tas saya ada beberapa yang memang branded  tetapi ada juga koleksi tas anyaman dari dalam negeri,” tandasnya.

MEMILAH GAYA FASHION

Sementara itu, menurut Nyoman Karina Wedhanti, dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha Singaraja, ada hal yang perlu diperhatikan ketika perempuan ingin mengikuti tren. Salah satunya adalah dengan mengenal kelemahan dan kelebihan diri sendiri. “Setiap orang terlahir tidak dengan kelebihan yang sama dan body shape yang berbeda,” jelasnya. Selain itu, kemampuan mengenal pribadi personal juga dibutuhkan dalam mengikuti sebuah trend. Seorang yang secara fisik pantas menggunakan pakaian yang sedikit terbuka, namun ketika ia memiliki kepribadian introvert maka ia tidak akan memiliki rasa percaya diri menggunakan pakaian tersebut. “Tidak hanya mengenal pribadi masing-masing, tetapi mengenal lingkungan juga sangat penting,” imbuhnya. Seorang wanita yang berada pada keluarga atau lingkungan yang konservatif tentu tidak akan merasa pantas menggunakan pakaian yang sedikit terbuka.

Ia menambahkan bahwa hal lain yang harus diperhatikan dalam mengikuti sebuah tren     adalah sesuai dengan keperluan. Keperluan yang dimaksud berhubungan erat dengan pekerjaan dari perempuan tersebut. “Seorang ibu rumah tangga akan lebih memerlukan pakaian yang santai dan juga nyaman. Berbeda halnya dengan perempuan pekerja yang lebih banyak memerluan pakaian kantornya,” paparnya. Dengan melihat kebutuhan, niscaya seorang perempuan tidak akan menghabiskan banyak uang untuk mengikuti sebuah trend. “Tidak lebih mengikuti keinginan untuk mengikuti trend melainkan pada kebutuhan,” pungkasnya.

Perempuan kelahiran 21 April tersebut mengatakan jika budget yang dimiliki tidak memenuhi, maka sebaiknya perempuan cerdas dalam memilih barang-barang yang diperlukan. Ia menyarankan untuk membeli barang sesuai keperluan dengan warna dasar. “Warna dasar itu meliputi hitam, putih, krem, dan coklat. Saya kira warna dasar itu tidak akan pernah ada matinya,” tambahnya. Dengan gaya klasik yang mengikuti standar seseorang tetap bisa tampil menarik asalkan pandai dalam memadumadankan pakaian yang digunakan. “Kalau ke kantor ya pakai jas, ke pesta pakai gaun, ke Pura pakai pakaian adat. Tetap akan terlihat cantik asalkan bersih dan rapi,” imbuhnya.

Menurutnya fashion sangat mudah berkembang dan diikuti seiring dengan keberadaan media sosial. Karina panggilannya mengakui jika dirinya mengikuti trend fashion dari akun media sosial yang khusus membahas masalah fashion. Gaya fashion  yang sangat digemari adalah  gaya remaja meskipun saat ini ia telah dikarunia dua orang anak. Namun, ia menegaskan bahwa selalu memilah gaya tren yang cocok dengannya. “Saya suka gaya fashion anak muda, karena memang masih ada transisi ibu muda. Akan tetapi saya juga tidak mau berdandan ibu muda yang terlalu berlebihan,” tambahnya.

Ada hal yang sangat penting dapat dipelajari ketika sesorang mengikuti sebuah tren yaitu masa seorang perempuan akan dapat mengeksplor dirinya. “Misalnya model off shoulder tidak tahu apa kita pantas memakainya, tetapi setelah dicoba banyak yang mengatakan bagus, ya bisa diteruskan. Begitu juga sebaliknya,” ungkap ibunda dari Gede Keva Agastya dan Made Dava Prana Siva tersebut. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top